Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
13


__ADS_3

Setelah menaruh roti di dalam tas Arabella yang tidak di ketahui si pemilik tas. Ilham kembali duduk di kursinya, membuka botol minuman di meja yang tadinya ingin di berikan untuk Arabella juga tapi tidak jadi karena gadis itu sudah punya minum sendiri.


Ilham minum hingga air di dalam botol kandas, memasukkan botol itu ke dalam laci lalu kembali sleeping handsome berbantalkan tas. Tak lupa pandangan yang mengarah pada gadis yang masih betah pada posisinya seperti tadi.


Wajah Arabella sudah tidak terlalu pucat seperti tadi. Ilham tersenyum tipis mengingat kembali percakapan mereka tadi. Suara datar Arabella seakan tidak membuat Ilham terganggu, malah membuat pemuda itu merasa semakin tertantang untuk semakin bisa mengenal gadis itu.


Suaranya pasti sangat halus kalo gak datar batin Ilham sebelum akhirnya memejamkan mata.


Arabella merasa salah tingkah dengan apa yang tadi di lakukannya pada Ilham. Bagaimana bisa dia memegang tangan pemuda itu hanya karena kesal saat mendengarnya akan membuang makanan.


Apa dia gak pernah ngerasain susahnya cari makan? apa dia gak tahu gimana sakitnya nahan lapar? seenaknya aja mau buang makanan, lagian nih tangan juga ngapain lagi pake pegang dia tadi, apa gak tahu kalo jantung gak aman kondisinya?.


Arabella terus bergumam dalam hati sembari menatap hamparan hijau dan bunga warna-warni di bawah sana. Tidak sadar dengan roti yang di masukkan Ilham ke dalam tasnya dan tidak sadar juga kalau pemuda itu sudah tidur.


Karena tidak merasakan kalau di perhatikan lagi, Arabella mencoba melirik ke sampingnya dan tidak mendapati siapapun di sana. Terserahlah batinnya kembali pada aktifitasnya semula.


Yang tidak di sadari oleh kedua orang itu adalah, sejak awal interaksi keduanya sudah di perhatikan oleh mata-mata jahil dari para teman-teman Ilham.


Tadi setelah Gio mengantarkan roti milik Ilham, teman yang lainnya pergi menyusul kekelas dengan cemilan maisng-masing. Mereka ingin nyemil di kelas saja bersama Ilham, dan bertemu Gio di pertengahan jalan.


"Kalian mau kemana?" tanya Gio heran menatap teman-temannya.


"Kita makan di kelas aja sama Ilham" sahut Roy.


Diki menarik tangan Gio balik arah ke kelas mereka dan Gio hanya pasrah saja. Pemuda itu juga tidak menceritakan pada teman-temannya tentang masalah kejahilannya yang tadi gagal. Karena nanti malah dirinya akan di ejek oleh yang lain kalau sampe mereka tahu kejahilannya berbalik arah padanya.


Saat sampai di depan pintu, tiba-tiba Firman dan Boby mundur kebelakang menahan teman-teman lainnya. Yang di tahan merasa heran sekaligus bingung dengan apa yang di lakukan kedua pemuda itu.


"Kalian ke..."

__ADS_1


"Sstttth.." cegah Firman agar teman-temannya tidak banyak tanya dan tidak mengeluarkan suara.


Boby memberi gerakan kedua jari telunjuknya yang di gandengkan lalu menunjuk dalam. Pertanda kalau ada sesuatu di dalam dan itu berhubungan dengan sesuatu yang berbau hubungan.


Gio yang maksud dengan kode teman-temannya langsung berjalan ke arah jendela dengan kaki berjinjit layaknya maling yang akan melarikan diri takut ketahuan.


Yang lainnya mengikuti apa yang di lakukan Gio lalu mengintip apa yang terjadi di dalam sana dengan hati-hati agar tidak ketahuan.


Serempak mereka melotot kaget tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Ilham si raja cuek dan acuh sedang memberi perhatian dengan perempuan yang mereka beri julukan putri es. Dan si putri es yang tidak mau buka suara jika tidak penting terlihat marah dan kesal dengan Ilham dan memarahi pemuda itu.


Semua interaksi keduanya terlihat jelas oleh teman-teman Ilham yang mengintip. Toni dan Gio yang selalu dramatis bahkan sampai menutup mulut mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Setelah interaksi luar biasa dari dua orang fenomenal di kelas mereka. Teman-teman Ilham bergerak pelan menjauh dari kelas, apa lagi kala melihat Ilham yang sudah kembali rebahan kepalanya.


"Iya ya gak nyangka" seru Diki pula.


"Bisa ya dua orang aneh di kelas kita komunikasi, mana cuma gara-gara roti lagi" ucap Firman dengan wajah kagetnya yang masih kentara.


"Apa maksud kamu dua orang aneh?" tanya Boby.


"Heh! Ilham sama tu putri es bukan aneh tapi ajaib" kata Roy memperbaiki ucapan Ilham.


"Iya, ajaibnya mereka berdua bisa saling buka suara gara-gara roti" Diki.


"Atau jangan-jangan Ilham sengaja pindah ke meja di belakang kalian karena memang mau deket sama si putri es?" tebak Mono melihat Firman dan Bagas.


"Bisa iya bisa gak" sahut Gio.

__ADS_1


"Kalo gitu kita harus terus awasin Ilham supaya kita tahu apa yang sebenernya terjadi di antara dua orang ajaib itu" usul Toni.


"Sembarangan mau ngawasin Ilham, kalo ketahuan aja baru tahu rasa" ujar Bagas.


"Ya kita pelan-pelan aja ngawasinnya jangan kelihatan banget lah, buat senatural mungkin ya gak!" Toni melirik Gio meminta persetujuan yang jelas di angguki pemuda itu.


"Bolehlah kita awasin Ilham, kalo dia memang suka sama si putri es kita bantu dia cairin esnya tu cewek" kata Doni setuju.


"Kuy lah! aku pun penasaran juga kenapa tuh cewek satu dingin banget" sambung Firman.


"Namanya gunung es yang jauh, dingin dingin misterus" seru Toni dengan wajahnya yang di buat seperti orang kedinginan tapi terlihat senang.


Mereka terkekeh bersama-sama karena obropan mereka. Setelah menyusun rencana mereka kembali kekelas dan bersikap seolah tidak melihat adegan apapun. Semuanya natural saja agar rencana berjalan lancar.


Mereka bahkan akan membantu Ilham mendapatkan Arabella kalau memang teman acuh mereka itu menyukai si putri es. Siapa yang tidak senang kala teman sendiri menyukai seseorang dan sedang dalam tahap berjuang.


Yang di perjuangkan pun penuh misteri seperti itu, jadi mereka akan membantu sebisanya nanti setelah memastikannya.


Tenang bro kami akan selalu mendukungmu batin teman-teman Ilham bersemangat.


Tanpa di ketahui oleh teman-teman Ilham kalau ada seseorang yang mendengar ucapan mereka itu. dialah Meisa yang kebetulan melewati area lorong di mana teman-teman Ilham tadi berkumpul.


Kelas Meisa ada di ujung lorong itu, dirinya sendiri baru kembali dari kantin sendirian karena kedua temannya ke toilet dan dia tidak ikut. Mendengar ucapan teman Ilham yang mengatakan kalau pujaan hatinya sedang mendekati perempuan lain membuat hatinya panas.


"Kurang ajar! siapa yang udah berani cari perhatian sama laki-lakiku? tunggu aja nanti kamu" geram Meisa berjalan menuju kelasnya.


Meisa pernah mendengar julukan putri es di kelas unggulan itu. Tapi dia tidak tahu siapa yang di maksud dengan si putri es itu. Meisa akan bertanya dan meminta bantuan teman-temannya untuk mencari tahu siapa si putri es itu.


"Aku bakalan cairkan kamu dengan cara membakarmu nanti karena udah berani gangguin Ilham ku" Meisa menghentakkan kakinya marah kala terus memikirkan apa yang di bahas teman-teman pujaan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2