
Bel pulang sekolah berbunyi, siswa-siswa merasa senang dan segera berkemas untuk pulang. Keluar dari kelas dengan cepat karena sudah lapar ingin cepat sampai rumah supaya bisa makan masakan ibu yang lezat.
Yang paling di rindukan kalau pulang sekolah yang pertama pasti masakan ibu, walaupun yang di cariin lebih dulu ibunya tapi itu ubtuk bertanya 'masak apa bu?'. Setelah perut terisi barulah mencari di mana ayahnya dan bertanya hal lainnya. (pengalaman author ini mah😁).
Di dalam kelas teman-teman Ilham sudah bersiap untuk pulang. Mereka sudah berdiri dari kursi hendak keluar kelas.
"Ayo Ham!" ajak Bagas melihat Ilham yang masih mengemas bukunya dengan lambat.
"Duluan" ucapnya singkat.
"Yakin!" seru Firman mengkode teman yang lainnya dan di balas senyuman tipis mereka.
"Hm"
"Ya udah kami duluan" Roy menepuk pundak Ilham sebagai seruan semangat untuk pemuda itu.
Tapi yang di beri seruan semangat tidak konek karena ia menganggap tepukan di pundaknya sebagai tanda pamitan teman-temannya saja.
Setelah teman-teman Ilham keluar tinggallah Arabella dan Ilham berdua di dalam kelas itu. Tidak berapa lama Arabella berdiri dari duduknya menyandang tas ransel. Berjalan meninggalkan kelas dengan acuhnya tanpa perduli dengan Ilham yang masih di sana melirik-lirik dirinya.
Tiga menit setelah kepergian Arabella barulah Ilham melangkah keluar dari kelas. Sengaja ia memberi jeda waktu untuk keluar agar tidak di curigai mengikuti gadis itu.
Di depan sana dapat Ilham lihat Arabella yang berjalan tanpa melihat kanan kirinya.
Benar-benar si putri es dia batin Ilham masih terus mengawasi gadis di depannya.
Sesekali Ilham juga menundukkan pandangannya dan bersikap acuh seperti biasanya. Tatapan kagum para siswi di dapat di dengarnya di setiap ia melewati lorong yang ada siswinya.
"Ilham sayang.. kamu mau pulang ya?" seru Meisa yang entah datang darimana.
Menghadang langkah Ilham yang berbelok menuju loker dimana tadi ia melihat Arabella ke sana.
__ADS_1
"Kamu lihatin apa sih?" Meisa mencoba mengikuti arah pandangan Ilham untuk mencari tahu apa yang di lihat pujaan hatinya itu.
Apa lagi Ilham berjalan sendirian, Meisa yakin pasti itu ada hubungannya dengan putri es. Mengingat teman-teman Ilham tadi sempat mengatakan kalau Ilham hanya berduaan dengan perempuan itu di kelas.
Jadi besar kemungkinan sendirinya Ilham kali ini pasti karena dia batin Meisa.
Ilham melanjutkan langkahnya menuju tempat loker. Di barisan loker perempuan Ilham dapat melihat keberadaan Arabella yang sudah menutup pintu lokernya kembali.
Mendekati lokernya yang tidak pernah di kunci karena tidak ada apapun yang di simpan di sana, Ilham membuka kotak persegi itu. Menghembuskan napas malas kala melihat isi lokernya yang selalu penuh dengan berbagai macam hadiah untuknya.
Dari barang brandid sampai makanan manis ada yang selalu terselip kertas berisi entah kata-kata apa di sana. Ilham tidak pernah melihat apa yang tertulis di kertas kertas hadiah yang di berikan untuknya. Bahkan hadiahnya saja tidak di sentuh.
Ilham menutup lokernya dan berbalik arah pergi, mempercepat langkahnya demi bisa mengejar Arabella yang sudah entah di mana.
"Kok di tutup lagi lokernya Ham?" tanya Meisa heran.
Apa lagi Ilham tidak mmebawa satupun hadiah yang ada di dalam sana termasuk hadiah darinya yang sudah jelas-jelas berada di bagian aing depan.
Tidak ada tanggapan apapun dari Ilham yang hanya mempercepat langkah kakinya meninggalkan Meisa yang masih saja mengejarnya.
"Kamu kokncepet banget sih jalannya? aku kan kesusahan ngejar kamu" gerutu Meisa yang tidak mendapat respon apapun dari Ilham.
"Ilham! kamu lagi ngejar apa sih sampe buru-buru gini" langkah Ilham terhenti di dekat tangga karena Meisa menghadang jalannya dengan wajah kesal dan cemberutnya.
"Menjauh dariku!" teriak Ilham kesal dengan sikap Meisa yang selalu mengganggunya.
Mendengar teriakan Ilham membuat Meisa merinding ketakutan dan melangkah mundur dua langkah.
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Meisa dengan suara manja dan sedihnya.
"Berhenti memanggilku sayang! aku bukan kekasihmu, ingat itu! dan berhentilah menggangguku!" teriak Ilham lagi dengan wajahnya yang sudah marah.
__ADS_1
Tentu saja marah kalau terus di ganggu seperti itu, apa lagi di panggil-panggil sayang oleh orang yang tidak ada hubungannya dengan kita. Itu sangat menjengkelkan, padahal Ilham tidak pernah memberi harapan pada siapapun. Tapi memanh perempuan yang satu ini sangat mengganggunya dan sudah kelewatan batas.
Meisa sangat shok mendapat dua kali teriakan dan amarah dari Ilham. Apa lagi wajah pemuda itu yang terlihat benar-benar marah padanya. Kaki Meisa melangkah mundur lagi semakin ketakutan tanpa sadar dengan kondisinya yang sudah di pinggir tangga.
Ilham dengan langkah lebarnya bergeser dari hadapan Meisa dan langsung turun dengan sedikit berlari.
Bertepatan dengan melangkahnya Ilham tiga anak tangga di turuni. Jatuhlah gadis itu dari atas tangga berguling sampai lantai dua. Sedangkan Ilham sudah menjauh dari tangga dengan berlaei cepat mencari Arabella tanpa tahu apa yang terjadi di belakang sana.
Semua orang yang masih berada di dekat tangga berteriak histeris melihat kejadian di depan mereka. Meski merasa kesal dengan Meisa yang memang suka mengganggu, dan tadi juga mereka menyaksikan sendiri bagaimana gadis itu terus mengganggu dan menghadang langkah Ilham.
Siswa dan siswi yang ada di sana langsung mendekat membantu Meisa yang segera di bawa ke rumah sakit terdekat karena tidak sadarkan diri dan kepalanya yang berdarah.
Ilham yang sudah sampai di parkiran motor langsung mengambil motornya dan keluar dari lingkungan sekolah. Di depan gerbang sekolah Ilham melihat kanan kirinya.
Matanya sedikit menajam kala melihat sosok perempuan yang sedang duduk menunggu di halte bus.
Segera Ilham mendekati halte, berhenti llau mendekati Arabella yang duduk sendirian menunggu bus yang akan membawanya kehalte dekat rumah.
"Lepaskan aku!" ucap Arabella kala Ilham menarik tangannya.
Memang tadi Arabella sempat melihat pemuda itu datang tapi ia tidak perduli. Siapa sangka kalau dirinya malah akan di culik seperti ini.
"Tenanglah kalo kamu gak mau penjahat itu mendekat" ucap Ilham pelan setelah mereka di dekat motornya.
"Apa maksudmu?" tanya Arabella tidak paham.
"Nanti aku jelaskan" Ilham mengangkat tubuh Arabella di naikkan ke atas jok belakang motornya.
Bingung dengan apa yang terjadi, Arabella hanya diam sembari mencoba melihat-lihat sekitar takut ada yang melihat. Sampai akhirnya motor Ilham melaju begitu saja mengangetkan.
Arabella spontan memeluk tubuh Ilham karena takut jatuh. Apa lagi dirinya yang tidak pernah naik motor, Ilham juga membawa motornya sedikit cepat.
__ADS_1
Hingga mau tidak mau Arabella mendekapnya dengan mata tertutup dan kepala yang di sandarkan di pundak Ilham.
Bertepatan dengan motor Ilham yang sudah melaju meninggalkan halte. Keluarlah mobil salah seorang guru yang membawa Meisa di dalamnya menuhu rumah sakit.