Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
47


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu hingga tak terasa membawa banyak perubahan bagi semua orang. Ilham yang tadinya sangat cuek kini malah jadi manusia es menggantikan Arabella yang sudah tidak bersekolah di sana lagi.


Sikapnya hanya tetap sama untuk teman-teman dan keluarganya saja. Selebihnya Ilham jadi orang yang sangat acuh dan semakin tak tersentuh. Ia selalu merasakan kerinduan pada Arabella, dan jika perasaan itu hadir maka cincin di tangannya yang akan selalu di pandanginya.


Entah kapan mereka akan bertemu, Ilham merasakan kerinduan yang teramat pada gadis itu. Apa lagi sudah enam bulan lamanya mereka tidak pernah bertemu. Dan sebentar lagi adalah ujian kelulusan mereka yang akan di adakan dua bulan lagi.


Maisa yang juga sudah kembali masuk sekolah setelah keluar dari rumah sakit enam bulan lalu jadi semakin agresif mendekati Ilham. Berbagai cara selalu ia lakukan untuk bisa bersama pemuda itu. Meski hanya akan ada penolakan dan penolakan yang di dapatkannya tapi tak membuatnya jera.


"Ujian nasional dua bulan lagi, kok aku gak punya persiapan apa-apa ya!" gerutu Mono yang langsung menarik perhatian teman-temannya.


Saat ini mereka sedang duduk bersama di dalam kelas dan tidak ada niat untuk keluar meski sudah jam istirahat.


"Memangnya kamu mau nyiapin apa untuk ujian?" tanya Firman.


"Contekan!" seru Gio menjawab.


"Mulut kurang ajar" Boby menggeplak pelan mulut Gio.


"Mending kurang ajar dari pada kurang makan" sambar Doni pula.


"Kamu kurang sehat" tunjuk Roy.


"Minum obat, mau yang sehatnya perlahan, sedikit cepat, agak cepat, lamaan sedikit, atau langsung gak bisa buka mata, silahkan di pilih mau obat yang mana" tawar Toni pada Roy.


"Obat yang bikin sekarat kejang-kejang tapi masih bisa makan sama joget-joget ada gak?" tanya Diki.


"Oo kalo itu yang anda butuhkan bukan obat, tapi RSJ" sahut Mono.


"Amit amit amit amit, jangan sampe deh" kata Diki.


"Lagian ada-ada permintaan mu, obat apa pula itu yang bisa begitu? orang kalo udah sekarat ya sekarat aja Dik, mana bisa lagi makan apa lagi joget-joget" protes Toni.


"Namanya juga nanyak, kan gak salah" kilah Diki.


"Udah-udah kok kalian malah jualan obat sih sini!" heran Firman pada teman-temannya.


"Tahu kalian ini, udah kaya di apotik aja" sambung Roy.


"Kita bukan lagi jualan" sangkal Diki.


"Trus?" tanya Bagas


"Cuma tawar menawar" sahut Toni.

__ADS_1


"Di pasar sono kalo mau tawar menawar" kata Boby.


"Tawar menawar kan meski selalu di pasar Bob" ucap Diki di angguki Toni.


"Serah lah" pasrah Boby.


Firman melihat Ilham yang sedang fokus membaca sebuah buku yang tidak pernah di lihatnya di pegang oleh Ilham.


"Buku baru Ham?" tanya Firman di angguki Ilham.


"Kamu mau kuliah bisnis?" tanya Gio pula.


"Iya" singkat Ilham.


"Di mana kamu kuliahnya Ham?" tanya Doni.


"Ya di kampus lah masa di SD" sahut Mono.


"Mundur jauh lah kalo ke SD, ngulang itu namanya bukan lanjut" kata Bagas.


"Aku mau kuliah di luar negeri" ucap Ilham.


"Jauh banget Ham, ku pikir kamu mau kuliah di kota pusat" seru Toni.


"Embeb apa embek?" kata Boby melihat Roy.


"Tuh dia embeknya" tunjuk Diki pada Doni.


"Aku bukan embek tapi jely" kata Doni.


"Kok jadi jely pula yang kamu bilang!" ujar Bagas.


"Lembek" kata Doni santai yang malah mendapatkan lemparan kertas dari yang lain.


"Kok aku khawatir ya sama Doni" seru Firman.


"Khawatir kenapa?" tanya Mono.


"Jangan-jangan nanti dia kuliah ngambil jurusan bahasa alien lagi! bisa semakin runyam kita gak ngerti bahasanya" sahut Firman.


"Enggak ya, aku mau ambil jurusan bisnis juga kaya Ilham" sangkal Doni.


"Mau nerusin bisnis om, kamu?" tanya Roy.

__ADS_1


"Ya gak lah, cita-cita ku itu sangat mulia tahu" ucap Doni.


"Mulianya? setahuku cita-cita mulia itu jadi guru, dokter atau relawan gitu" kata Bagas dengan tampang berpikirnya.


"Itukan Toni yang pengen jadi dokter kalo aku mau jadi sekretarisnya Ilham lah, mulia kan cita-citaku" bangga Doni yang membuat teman-temannya tercengang.


"Hah iya! aku juga mau jadi asistennya Ilham kalo gitu, atau gak simpenannya" sambung Gio ikutan yang malah semakin membuat yang lainnya shok.


"Nilai mulianya di sebelah mana? itu memang kalian aja yang mau nempelin Ilham" kata Bagas.


"Iya tuh, ini lagi Gio! ada-ada aja pakek mau jadi simpenan segala, Ilham itu masik waras dan pastinya lebih milih si putri es untuk masa depannya, kapo pun punya simpenan ya harus ceweklah masa kamu si Gio" cecar Diki panjang lebar.


"Ilham senengnya sama gunung yang berlembah bukan bukan pisang-pisangan" ucap Toni.


Doni dan Gio saling pandang tidak mengerti dengan apa yang di maksud teman-temannya itu. Yang pasti sepertinya teman-teman mereka ini kurang paham dengan keinginan mereka.


"Kalian ini gimana sih! jadi sekretarisnya Ilham kan pekerjaan mulia karena bantuin temen untuk jadi sukses dan selalu ada untuk di saat dia butuh" Doni menjelaskan seperti apa yang ada di pikirannya.


"Iya nih kalian, pikirannya yang iya iya aja, maksudku jadi simpenan itu ya bukan simpenan yang kayak kalian maksud itu, kalo itu sih aku juga gak mau, bukit barisan masih banyak ngapain nyari tongkat sakti, jadi simpenan perusahaan untuk keamanan data dan segala hal yang memungkinkan adanya peretasan yang bisa mengakibatkan kerugian" jelas Gio pula dengan wajah seriusnya.


"Sok sok an serius kalian berdua, biasanya juga paling gak beres pikirannya" ejek Mono bercanda.


"Kali ini harus serius lah mana bisa bercanda karena ini menyangkut masa depan kita semua" ucap Gio dengan wajah bangganya.


Mereka terkekeh bersama dengan pembahasan mereka yang random. Awal dan akhir bisa berbeda dan entah apa saja yang bisa jadi pembahasan..


"Ngomong-ngmong nih Gio, soal bukit barisan, lebih gedean gunung dari pada bukit" kata Mono.


"Kalo bukit kemungkinan longsor, trus kalo longsor akibatnya juga gak banyak-banyak amat" sambung Roy.


"Tapi kalo gunung, sekali meledak, uuhhh hancur luar dalam bahkan dampaknya juga lebih luas dan mengerikan" Bagas berbicara dengan wajah yang di buat seram untuk menunjukkan dampak dari gunung meletus yang memang sangat mengkhawatirkan.


"Aku punya solusinya sih kalo sampe bukit barisannya longsor, apa lagi gunung yang meletus" kata Toni serius.


"Apa solusinya?" tanya Boby penasaran di angguki yang lainnya.


"Jangan sembarangan mainin bukit sama gunungnya, kalo ada orang yang sembarangan mainin tuh gunung sama bukit, bisa di pastikan dia lah penyebab utama bukit longsor sama gunung meletus" santai Toni tanpa melihat wajah teman-temannya yang sudah kurang bersahabat.


"Apa maksud kaliamta ambigumu itu hah? lagian siapa yang mau mainin bukit yang tinggi sama gunung, kalo kamu udah bosan hidup pergi sendiri aja sana main gunung biar sekalian terbang ke luar nih nyawa kamu dari badan" geram Roy.


Mereka menyiksa Toni dengan cara di acak-acak rambutnya dan di gelitikin sampai pemuda itu tertawa cukup keras.


Ilham yang sejak tadi hanya menjadi pendengar dari segala ucapan random teman-temannya hanya bisa tersenyum tipis saja. Ilham memang selalu jadi pendengar di setiap kalimat yang terlontar dari teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2