Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
27


__ADS_3

Gio membawa laju mobil Ardi hingga tiba di rumah sakit terdekat. Ilham membuka pintu meski sedikit kesulitan.


Keluar dari mobil dan membawa Arabella di dekapannya dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit agar Arabella mendapat penanganan. Sedangkan Gio memarkirkan mobil lebih dulu.


"Dokter! tolong Dokter" teriak Ilham di tengah malam sepi itu membuat beberapa orang perawat yang berjaga langsung mendekat dengan membawa ranjang dorong.


Ilham meletakkan Arabella di atasnya yang langsung di dorong perawat menuju ruang UGD. Pintu di tutup rapat dan Ilham tidak bisa ikut masuk.


"Gimana?" tanya Gio setelah ia datang menghampiri temannya yang terlihat sangat khawatir.


"Entahlah" sahut Ilham singkat.


Pemuda itu terus berjalan mondar mandir dengan tidak tenangnya. Dan konyolnya Gio malah mengikuti aksi Ilham itu dengan berjalan mondar mandir juga di belakang Ilham.


Seperti anak kecil yang suka mengikuti apa yang di lakukan orang lain, begitulah Gio saat ini yang mengikuti Ilham.


Sampai akhirnya Gio yang tidak menyadari Ilham yang berbalik membuat keduanya saling bertabrakan. Tubuh Gio mundur dua langkah kebelakang, sedangkan Ilham masih bisa menyimbangkan dirinya hingga tidak sampai mundur meski kaget.


"Apa sih Gio? duduk sana jangan ganggu" ucap Ilham kembali berjalan mondar mandir dengan Gio yang menatapnya cengo.


"Dia yang nabrak, aku yang di salahin" guman Gio masih di dengar oleh Ilham.


"Sst!" Gio menutup rapat mulutnya dan memilih duduk.


Melihat pemandangan yang memusingkan di depannya membuat Gio menghela napas.


Buat apa juga lagi aku lihatin Ilham! mending main ponsel batin Gio.


Pemuda itu langsung meraih ponselnya dan sibuk dengan benda pipih itu dari pada harus melihat Ilham yang tidak bisa diam.


Setelah lama menunggu dengan Ilham yang masih setia seperti gosokan. Akhirnya pintu ruang UGD terbuka dan keluar seorang Dokter dari sana.


"Bagaimana Dok?" tanya Ilham tidak sabar.


Gio juga ikut berdiri ingin tahu apa yang terjadi.


"Maaf kalian siapanya pasien ya?" tanya Dokter itu lebih dulu.


"Saya pacarnya Dok" sahut Ilham cepat membuat Gio melongo tidak percaya mendengar pengakuan Ilham itu.


Eh buset! kapan jadiannya kok udah official aja batin Gio.


"Begini, apa dulu pasien pernah mengalami kecelakaan hingga lupa ingatan?" Ilham nampak mengkerutkan keningnya heran begitupun dengan Gio.


Melihat itu si Dokter pun meneruskan penjelasannya.

__ADS_1


"Jadi gini, pasien mengalami shok akibat beberapa kejadian dan kekurangan darah juga tapi kami sudah memberinya tranfusi darah, selain itu pasien juga mengalami tifus dan yang lebi parah lagi pacar kamu harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang apa lagi itu sudah lama tidak di lakukan tindakan menyebabkan pasien semakin memburuk kondisinya dan sekarang sedang koma" jelas Dokter yang membuat Ilham tidak percaya.


"Trus bagaimana Dok supaya dia bisa cepat sadar?" tanya Ilham yang sudah sangat terguncang mendengar semua yang terjadi pada gadis itu.


"Kita harus segera mendapatkan pendonor sumsum tulang belakang yang sama dengan pasien"


"Apa di rumah sakit ini gak ada sumsum yang cocok Dok?" tanya Gio dengan satu tangannya yang berada di pundak Ilham menguatkan.


Gio tahu temannya sedang tidak baik-baik saja setelah mendengar kabar buruk itu.


"Kami sedang tanya pada pihak di bagian itu, kalau kondisinya semua memungkinkan besok kita bisa melakukan operasi kalau memang ada persediannya"


Pernyataan yang tidak pasti itu membuat Ilham tidak semangat tapi tidak mungkin juga ia menyerah untuk Arabella.


"Lakukan apapun yang terbaik Dokter saya akan menanggung semuanya" tegas Ilham.


"Baiklah, tapi akan lebih baik lagi kalau kalian memberitahu keluarganya karena pihak keluarga bisa memberikan donor sumsum lebih baik untuk pasien"


Ilham dan Gio diam tidak menjawab dan memberi respon karena mereka sendiri tidak tahu siapa dan bagaimana orang tua Arabella.


"Saya permisi dulu, nanti pasien akan di pindahkan ke ruang rawat dengan peralatan yang lengkap jadi jangan khawatir" Ilham dan Gio mengangguk.


"Terimakasih Dokter" ucap Gio mewakili Ilham yang masih bungkam.


Setelah menunggu beberapa saat kini mereka sudah berada di dalam ruangan rawat. Tubuh Arabella terpasangi banyak alat, bahkan di tangannya terdapat dua selang yang berbeda warna.


Satu selang infus yang satu selang darah, meringis ngeri melihat alat-alat yang terpasang di tubuh Arabella itu.


Ponsel Ilham berdering membuat pemuda itu langsung meraihnya. Takut kalau bibi atau pamannya yang menelpon karena dia yang belum pulang. Tapi ternyata Hesa yang menghubungi dirinya.


"Halo kak"


....


"Rumah sakit terdekat, kakak ada di telpon bibi atau paman?"


.....


Panggilan terputus Ilham kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku setelah mengirim pesan alamat dan ruangan tempat mereka berada.


"Kamu gak kasih kabar orang tuanya Ham?" tanya Gio penasaran.


"Aku gak tahu siapa orang tuanya" jawaban Ilham membuat Gio semakin heran dan penasaran.


"Kok bisa! trus tadi kamu di gang itu mau kemana?" cecar Gio.

__ADS_1


"Anter dia pulang" sahut Ilham singkat.


"Trus"


"Kami di hadang preman, dia ketakutan, badannya gemeter, dingin banget, tadi dia pingsan waktu ada preman yang deketin, mukanya pucat pasi kaya orang yang gak punya darah" Ilham melihat dua kantong darah yang menggantung di atas.


"Mungkin apa yang di bilang sama Dokter tadi bener Ham kalo dia pernah kecelakaan, buktinya sakitnya gak cuma sekedar kurang darah atau shok aja kan" kata Gio mengeluarkan argumennya.


"Yah kamu benar" ucap Ilham.


Gio kembali menepuk pundak Ilham.


"Tenanglah, besok kami bantu cari tahu, tapi rumahnya dimana?"


"Di gang tadi gak jauh masuk ke dalam rumah warna kuning kusam" Ilham nampak berpikir sejenak.


"Tapi ku rasa dia sendirian tinggal di sana karena waktu itu ku lihat dia ngeluarin kunci dari tas, gak ada yang nyambut dia pulang" lanjutnya kala ingat saat pertama mengetahui rumah Arabella.


"Ya udah besok kami ke sana coba tanya-tanya" kata Gio memberi semangat dan menawarkan bantuan.


"Makasih kalian mau dateng bantu"


"Hey kita ini teman, jangan ada rasa gak enak atau sungkan kayak sama siapa aja" seru Gio.


Ilham diam menatap Arabella yang wajah cantiknya nampak pucat namun tidak bisa menutupi kecantikan alaminya.


Apa yang sebenernya terjadi sama kamu Rabel? apa begitu beratnya beban yang kamu alami? apa iya kamu pernah kecelakaan? siapa keluarga kamu sebenernya? sadarlah, aku janji bakalan jagain kamu.


Ilham terus menatap sendu Arabella hingga tanpa sadar kalau kedua kakak sepupunya sudah datang. Hingga suara Hesa mengagetkannya, Ilham tidak langsung menjawab.


"Dia butuh donor sumsum tulang belakang kak, sekarang masih koma, dia juga kena tifus" jelas Ilham singkat.


"Tapi itu kok ada kantong darah juga!" seru Ardi menunjuk dua kantonh darah.


"Dia kekurangan darah kak makanya pingsan di tambah shok juga, mentalnya down" kata Gio membantu menjelaskan apa yang dia tahu.


"Kenapa gak di kasih tahu keluarganya aja supaya bisa dapet donor cepet" usul Hesa masih memandang intens Arabella yang begitu familiar.


"Aku gak tahu orang tuanya siapa kak" kata Ilham.


"Kok bisa" heran Ardi.


"Hah! dia memang perempuan misterius di sekolah kami kak, gak ada tahu masalah pribadinya apa lagi keluarganya karena dia sangat tertutup" kata Gio di angguki kedua kakak sepupu Ilham.


Apa iya? masa sih? pikir Hesa mulai menebak apa yang ada di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2