
Ilham memasuki dapur dengan masih membawa dua sayuran di tangannya yang terlihat memerah. Begitupun dengan wajah putihnya yang terlihat memerah karena lama di dalam ruang penyimpan makanan yang dingin.
Kedatangan Ilham menarik perhatian yang lainnya kecuali Arabella pastinya yang malah masih asik dengan kegiatannya.
"Kamu dari mana?" tanya kepala koki pada Ilham, apa lagi di lihatnya Ilham membawa dua sayuran.
"Penyimpan makanan" sahut Ilham singkat.
"Loh! kami pikir kamu berhenti kerja" celetuk salah satu koki yang baru saja memberikan masakannya pada pramusaji.
"Gak" singkat Ilham.
Pemuda itu mendekati Arabella yang baru menyerahkan masakannya pada pramusaji dan hendak menarik kertas pesanan lainnya. Tapi tangannya tertarik oleh tangan yang memerah.
Arabella melihat siapa pemilik tangan aneh itu.
"Kamu!" kaget Arabella melihat penampilan Ilham.
Di lihatnya kedua tangan Ilham yang memerah dan juga wajahnya bergantian.
"Kenapa?" tanyanya heran.
Ilham menghela napas lalu menyodorkan dua sayuran yang tadi di bawanya dari ruang penyimpanan.
"Masak ini, aku butuh sesuatu yang hangat" ucap Ilham.
"Maaf, pesanan banyak" Arabella beralih hendak meraih kertas pesanan lagi tapi di tarik lagi oleh Ilham.
"Nanti, masak ini dulu" paksa Ilham yang sudah merasa kedinginan tapi di tahan.
Apa lagi kulitnya yang memerah membuatnya merasa kurang nyaman dan butuh sesuatu yang hangat untuk di konsumsi agar perutnya hangat dan tubuhnya menjadi hangat pula.
"Ta.."
"Masak itu dulu Arabella, pesanan biar di kerjakan yang lainnya dulu" ucap sang kepala koki yang akhirnya di turuti Arabella.
Kepala koki itu sudah mendapat mandat dari sang Manager agar membiarkan Ilham mengerjakan apa yang dia mau selama itu tidak mengganggu. Dan kepala koki itu juga sadar akan kondisi Ilham yang sedang kedinginan.
Kulit putihnya pasti sedikit alergi dengan dingin yang tidak biasa pada ruang penyimpanan bahan makanan. Apa lagi di sana terdapat berbagai macam jenis bahan berbeda yang pastinya juga memiliki efek berbeda bagi orang yang tidak terbiasa. Apa lagi yang memilik kulit sensitif.
__ADS_1
Arabella akhirnya mengolah brokoli dan bunga kol atau bunga kubis yang di bawa Ilham tadi.
"Mau di masak apa?" tanya Arabella pada Ilham sembari tangannya terus memotong sayuran di tangannya.
"Terserah, tapi aku mau yang berkuah" Arabella melirik pemuda di sampingnya yang masih setia melihat cara gadis itu kerja mengolah.
"Aneh" gumamnya.
"Aku aneh karena kamu" bisik Ilham kala mendengar gumaman Arabella tadi.
Tidak ada respon apapun dari Arabella, gadis itu tetap santai mengolah bahan makanan di hadapannya. Arabella juga mengambil sedikit daging ayam dan bakso yang tersedia untuk tambahan.
Tapi sebelum di olah jadi satu, terlebih dahulu Arabella meminta persetujuan Ilham akan bahan yang akan di tambahkannya.
Bukan bertanya, tali Arabella mengangkat ayam dan bakso di kedua tangannya dan sedikit menggoyangkannya sebagai tanpa apa Ilham mau atau tidak.
Awalnya Ilham bingung, tapi kala melihat wajah malas Arabella jadi mengerti maksud gadis itu.
"Ah iya, tambahkan aja" ucapnya.
Arabella serius mengolah bahan-bahan di hadapannya menjadi sup. Setelah mematikan api kompor, Arabella memindahkan masakannya ke mangkuk di meja yang tersedia banyak alat makan di sana.
Gadis itu juga menambahkan irisan tomat, daun bawang dan bawang goreng. Setelahnya mendorong mangkuk ke hadapan Ilham yang berdiri terpesona dengan aroma masakan itu.
"Enak" pujinya tanpa ragu dan langsung duduk di kursi yang ada di sana.
Melahap sup buatan Arabella yang enak, meski masih panas bukan masalah bagi Ilham untuk terus menyantap makanan itu hingga tandas.
Sedangkan Arabella sudah kembali sibuk dengan pesanan lainnya.
Setelah makan dan duduk sejenak, Ilham melihat tangannya yang mulai kembali seperti semula.
Ilham yang sudah merasa baikan dan hangat kembali tubuhnya. Mendekati Arabella yang sedang menyiapkan bahan yang akan di masak.
"Biar aku bantu" kata Ilham setelah dekat.
"Apa yang harus ku kerjakan?" tanyanya.
Arabella melihat Ilham yang sudah kembali seperti biasanya. Kulitnya sudah tidak merah lagi dan kembali putih, terlihat pula sedikit keringat di kening pemuda itu.
__ADS_1
Jantung Ilham berdetak kencang kala Arabella mengelap keningnya dengan tisu yang ada di dapur. Walau terkesan cepat dan sedikit menekan tali itu sudah mampu menggetarkan hatinya.
"Keringat kamu bisa masuk ke makanan" ucap Arabella lalu meraih pisau dan menyerahkannya pada Ilham yang langsung menerimanya.
"Potong begini" Arabella memberitahu Ilham cara memotong bahan yang akan di olah.
Setelah menjelaskan apa yang harus di kerjakan pemuda itu. Arabella kembali sibuk dengan bahan yang lainnya.
Ilham menarik napas sejenak lalu menghembuskannya untuk menetralkan debaran jantungnya. Setelah bisa menguasai diri barulah Ilham melakukan seperti apa yang di perintahkan Arabella.
Walau tidak secepat gadis itu saat memberitahukannya. Tetapi Ilham bisa mengerjakannya meski berantakan dan sangat lama.
Arabella yang sudah selesai dengan kerjaannya melihay apa yang di kerjakan Ilham. Menghembuskan napas sejenak lalu meraih pisau di tangan Ilham dan dirinta yang mengerjakan karena harus cepat.
Setelah selesai dengan potong memotong barulah Arabella mengolah bahan itu hingga matang.
Ilham yang hanya diam saja berinisiatif membantu dengan mengambil satu bungkus jamur kancing. Membuka bungkusnya dan mengambil satu buah.
Arabella yang sudah mengambil pesanan lainnya melihat bacaan di kertas dan menyerhakannya pada bagian minuman. Lalu mengambil kertas lainnya dan melihatnya tulisan di dalamnya.
Gadis itu melihat keranjang sayuran hendak mengambil bahan yang di butuhkan. Tapi tunggu! ada yang kurang! sepertinya tadi Arabella melihat masih ada. Kemana perginya batin Arabella heran.
Saat akan bertanya pada yang lainnya, mata gadis itu melihat sesuatu yang membuatnya tercengang. Bukan karena pada siapa bahan yang di carinya itu berada. Tapi bentuknya yang sudah entah speerti apa membuat Arabella tidak habis pikir.
"Kamu apakan jamurnya?" tanya gadis itu menatap Ilham yang menatapnya dan memberi senyuman.
"Kerenkan!" kata Ilham menunjukkan jamur di tangannya yang bagian atasnya sudah di ukir dengan bentuk entah apa saja.
Dan ada pula beberapa yang sudah di kuliti hingga menjadi putih bersih.
"Nih! udah aku beresin tinggal di masak" ucapnya dengan bangga atas hasil kerjanya.
"Hah!" dengan mulut yang sedikit terbuka karena tidak habis pikir.
Arabella mengambil satu jamur yang atasnya berlubang- lubang kecil seperti di makan ulat.
"Baguskan!" ucap Ilham dengan kedua tangan di sedekapkan.
Menghela napas panjang, Arabella meraih pisau lalu mengolah yang lainnya. Tak lupa pula jamur yang bentuknya sudah aneh-aneh itu di belah jadi dua bagian.
__ADS_1
Ilham meraih satu jamur yang sudah terbelah dua dan melihatnya dengan di bolak balik.
"Jadi kaya di makan ulat bolong-bolong" gumamnya merasa geli dengan apa yang sudah di lakukannya.