
Ilham duduk sendirian di taman di mana ia pernah membawa Arabella ke sana untuk makan bakso bersama. Penampilan pemuda itupun nampak berbeda dari biasanya.
Biasanya ia akan memakai kaos yang di lapisi kemeja, hari ini malah berbeda. Ilham mengenakan hody dengan topi di kepalanya. Duduk memikirkan perasaannya yang terasa hampa karena akan di tinggalkan pujaan hati.
Apa lagi kala mengingat perbincangannya dengan Suwoyo kemarin.
Flasback...
Suwoyo dan Ilham duduk bersama di kursi tunggu yang sedikit jauh dari ruangan tempat Arabella di rawat.
"Kamu menyukai anak saya?" tanya Suwoyo langsung yang membuat Ilham menegakkan duduknya yang tadinya sedikit condong.
"Iya, saya menyukai anak om" sahut Ilham tegas yang mana itu membuat Suwoyo tersenyum.
"Apa yang membuat kamu suka sama anak saya?" tanya Suwoyo lagi.
"Gak ada alasan khusus, saya cuma ikutin kata hati saya yang awalnya penasaran jadi semakin mau kenal dan dekat" jawab Ilham.
"Ya, cinta memang bisa dateng kapan aja dan bahkan tanpa alasan karena cinta hadir di hati walau semua berawal dari mata"
Keduanya terdiam sejenak, hingga Ilham mengatakan sesuatu yang membuat kedua mata Suwoyo melotot tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Saya mau nikahi anak om, apa boleh?" seru Ilham yang sangat mengejutkan.
Rupanya pemuda itu selalu terngiang dengan saran dari Firman yang mengatakan untuk menikahi kalau tidak mau kehilangan. Dan Ilham sangat tidak ingin kehilangan Arabella.
"Apa kamu serius?" tanya Suwoyo masih dengan wajah kagetnya.
"Sangat serius om, sama kaya om yang gak mau kehilangan anak istri om, saya juga gak mau kehilangan anak om" Ilham menatap pria paruh baya di sampingnya sungguh-sungguh.
Melihat keseriusan di mata pemuda di sampingnya membuat Suwoyo tersentuh. Pria itu tersenyum hangat pada Ilham layaknya seorang ayah pada anaknya sendiri.
"Ya kamu benar, saya memang gak mau kehilangan anak istri saya lagi, tapi kalo kamu sama anak namanya bukan kehilangan karena kalo kehilangan kamu gak akan bisa nemuin dia lagi untuk waktu yang gak bisa di tentukan" jelas Suwoyo.
__ADS_1
"Apa kaya om yang kehilangan tante sama Rabel dulu?" pria paruh baya di sampingnya mengangguk dengan wajah sendu kala mengingat masa kelamnya kehilangan kedua belahan jiwanya.
"Kalo kamu sama Rabel namanya bukan kehilangan, tapi berpisah sementara, mamanya Rabel masih membujuk untuk mau ikut saya pulang, kalo Rabel mau besok semuanya bakalan di urus, saya bakalan bawa Rabel pulang ke rumah, rumah di mana dia seharusnya di besarkan dan tumbuh jadi anak yang paling bahagia" terdengar helaan napas dari pria paruh baya itu.
"Saya bakalan nerima lamaran kamu kalo kamu udah sukses dan bisa membuktikan diri" Suwoyo menyerahkan kartu namanya yang terdapat nomor serta alamat kantornya.
"Nanti kalo kamu udah punya uang yang cukup untuk nikahin anak saya, dateng aja temui saya" senyum tulus Suwoyo membuat Ilham merasa hatinya menghangat.
Jujur saja ia rindu dengan kedua orang tuanya yang saat ini masij berada di luar negeri. Entah kapan akan kembali. Walau keduanya selalu mengabikannya karena kesibukan masing-masing.
"Gimana kalo nanti Rabel di deketin yang lain om?" tanya Ilham ragu.
"Saya bisa pastikan kalo itu gak akan terjadi, walau saya gak tahu gimana sikap Rabel tapi saya yakin kalo Rabel pasti kaya mamanya yang susah di taklukin, sedikit bocoran nih ya, dulu om waktu nikahin mamanya Rabel awalnya karena sakkt hati sama mantan sih, ya walau gak bisa di pungkiri saya udah suka sama mamanya Rabel sejak masih punya pacar tapi karena keegoisan sesaat saya memaksa kehendak saya sama mamanya Rabel, meski gak mudah dapetkan hatinya walau udah jadi istri, saya yakin Rabel sama kaya mamanya yang gak mudah jatuh hati, bahkan dulu saya bisa dapetin hati mamanya Rabel hampir kehilangan nyawa" Suwoyo terkekeh kala mengingat masa lalunya dulu.
"Hampir kehilangan nyawa? maksud om!" tanya Ilham yang sangat penasaran.
"Mamanya Rabel punya sikap yang lemah lembut, walau nikah paksa sama saya dia tetap jalankan tugas sebagai istri, ya perhatiannya sewajarnya tugas dia karena seorang istri, tapi sejak kejadian dulu om kecelakaan mamanya Rabel jadi perhatian penuh, saya yakin dia udah cinta sama saya karena dia gak tidur selama nunggu saya yang belum sadad dulu" sahutnya.
Ilham diam dan mendukkan pandangannya pada lantai tempatnya berpijak. Memikirkan hatinya yang terasa hampa karena kenyataan akan di tinggal pujaan hati membuatnya gusar.
Hah...
Ilham menghela napas panjang memikirkan nasip percintaannya yang harus tumbuh gersang sebelum tersiram.
Suwoyo tersenyum melihat Ilham yang nampaknya berat menerima kenyataan hidupnya.
"Saya tunggu ke datangan kamu suatu hari nanti" di tepuknya pundak Ilham dua kali lalu beranjak dari duduknya meninggalkan pemuda yang masih terdiam itu.
Flasback Off...
Hahhh
__ADS_1
Ilham menghembuskan napasnya panjang mengingat semua itu. Siapkah ia kehilangan orang yang membuat harinya semangat? entahlah, rasanya Ilham sangat ingin mencegah tapi tidak punya kemampuan.
Pagi tadi ia sudah tidak melihat kehadiran Arabella di kelas. Dan kabar yang di dengarnya dari ketua kelas mereka kalau Arabella sudah pindah sekolah. Bahkam kabar tentang papa kandung Arabella yang ternyata seorang milyarderpun langsung menghebohkan.
Apa yang harus ku lakukan ya? batin Ilham masih dengan lamunannya.
Tiba-tiba seseorang duduk di samping Ilham yang mana membuat pemuda itu kaget dan langsung melihat ke sampingnya.
"Rabel!" ucapnya kala melihat siapa yang duduk di sampingnya.
"Makasih ya karena kamu udah mau bantuin aku, bahkan nolongin aku" kata Arabella melihat Ilham.
"Kok kamu bisa ada di sini?" kagetnya lalu melihat sekitar dan mendapati sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan sana.
"Aku mau pamit sama kamu" ucapan Arabella itu membuat Ilham menatapnya lekat.
Arabella mengulurkan tangan ke depan Ilham lalu membuka genggamannya. Sebuah cincin putih polos yang membuat Ilham belum paham akan maksud gadis di sampingnya.
Tangan Ilham di raih oleh Arabella lalu memasangkan cincin itu di sana. Pas di jari manis Ilham yang besar.
"Kata papa kamu mau nikahin aku" kalimat Arabella membuat Ilham salah tingkah.
Seakan ketahuan kalau ia memiliki perasaan yang besar pada gadis itu dan merasa takut kalau tidak terbalas.
"Apa kamu mau nikah sama aku?" tanya Ilham dengan serius tapi tampak di matanya ia ragu jika di topak.
Mendengar ucapan Ilham, Arabella mengangkat pandangannya dan tersenyum tipis pada pemuda di depannya yang terlihat mematung karena senyuman gadis di depannya sungguh mempesona. Meski bukan senyuman lebar tapi cukup memikat baginya.
"Aku tunggu" Arabella menunjuk jari manisnya yang masih kosong dan masih memberi senyuman tipis pada Ilham.
Setelahnya gadis itu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Ilham yang terpaku kaget dan tidak percaya. Apakah itu artinya ia di terima? gadis itu mau menikah dengannya? ah sepertinya lamaran dini spontan yang di lakukannya berhasil.
Ilham berdiri dan berlari menuju mobil yang mulai melaju meninggalkan taman.
__ADS_1
Terlihat Arabella mengeluarkan kepalanya dan melambaikan tangan pada Ilham. Tentu saja pemuda itu membalasnya dengan senyuman yang mengembang sempurna.
Hatinya berbunga-bunga seperti mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Ya keuntungan yang sangat besar untuk kelangsungan masa depannya.