
Sepanjang perjalanan Arabella hanya diam saja, bahkan tubuhnya terasa kaku akibat takut jatuh. Pelukannya di tubuh Ilham cukup kuat, walau tidak sampai membuat Ilham kesakitan.
Malah pemuda itu merasa senang dengan apa yang di lakukan Arabella. Walau tahu gadis itu ketakutan Ilham tetap melaju menuju tempat yang di inginkannya.
Merasa motor yang di naikinya berhenti, Arabella membuka matanya pelan-pelan. Lalu melihat sekitarnya, mereka berada di depan restoran.
"Mau apa ke sini?" tanya Arabella heran.
"Ya mau makan masa ngamen" sahut Ilham merasa geli dengan raut wajah bingung gadis di belakangnya yang dapat di lihat jelas dari spion motornya.
"Siapa yang mau makan?" tanya Arabella lagi.
"Ya kita, ayo turun!"
Arabella menggeleng keras menolak ajakan Ilham itu.
Pasti mahal ini batinnya.
"Gak, aku mau pulang aja"
"Kenapa? kamu gak suka makan di sini?" Ilham memutar tubuhnya melihat gadis di belakangnya.
Wajah keduanya sangat dekat karena Ilham sudah melepaskan helmnya, sedangkan Arabella tidak berani melepaskan pelukannya dari Ilham karena masih takut jatuh berada di atas motor yang tinggi itu.
Ilham dapat melihat dengan jelas bola mata Arabella yang coklat terang. Dan wajahnya yang putih bersih sangat cocok dengan kecantikan yang dimilikinya.
"Ehem.. jadi kamu mau makan di mana?" Ilham mengalihkan pandangannya ke arah lainnya untuk menutupi kegugupan hatinya.
"Mau pulang aja" sahut Arabella pelan.
Ilham memakai helmnya lagi lalu melajukam motornya meninggalkan restoran. Arabella kembali memejamkan kedua matanya dengan kepala di pundak Ilham.
"Kita makan di sini aja" seru Ilham kala mereka kembali berhenti.
Arabella menatap sekelilingnya yang ternyata taman kota.
"Turun" kata Ilham.
Gadis di belakang Ilham melihat ke arah pemuda yang sedikit memiringkan kepalanya itu. Tidak mendapatkan respon dari gadis di belakangnya, Ilham memutar tubuhnya lagi melihat kebelakang.
Barulah Ilham tahu kenapa gadis di belakangnya diam saja. Wajahnya nampak takut, bahkan Arabella menggingit bibir bawahnya sembari menunduk.
Ilham menghembuskan napasnya pelan menahan godaan dari gadis di belakangnya yang sedang menggigit bibirnya. Walau itu memang reaksi alami Arabella kala sedang ketakutan, Ilham yang sedikit memikirkan hal itu jadi merasa heran.
Kenapa harus takut cuma naik motor batinnya.
Tangan Ilham menyentuh kedua tangan Arabella yang memeluk perutnya.
"Jangan! aku takut jatuh" kata Arabella menahan tangannya yang hendak di tarik Ilham lepas.
__ADS_1
"Tenanglah, aku gak akan jatuhkan kamu kok, aku cuma mau turun biar bisa bantuin kamu turun dari motor" jelas Ilham sembari kembali melepaskan tangan Arabella dari perutnya.
Meski sedikit sulit karena ada perlawanan dari gadis di belakangnya yang menahan. Ilham berhasil turun dari motor dengan kedua tangannya yang di pegang erat oleh Arabella.
Ilham menarik tangannya dari pegangan Arabella agar bisa membantu gadis itu turun. Tapi yang terjadi malah membuat jantungnya hampir lepas dari tempatnya.
Arabella yang merasakan Ilham melepaskan pegangannya langsung mendekapkan tubuhnya pada pemuda itu. Kedua tangannya memeluk leher Ilham dengan mata terpejam.
Astaga jantungku main DJ di dalem batin Ilham.
Kedua tangan pemuda itu berada di pinggang Arabella. Repleks saja tangannya kala gadis itu menubruknya tadi.
"Ehem ehem.."
Ilham berdehem pelan untuk menetralkan debaran jantungnya dan kegugupannya. Apa lagi beberapa orang melihat mereka.
"Kalo mau pelukan jangan di parkiran mas, banyak yang lihat" seru seorang pemuda yang akan meninggalkan taman.
"Tunggu sah dulu baru pelukan" seru seorang bapak yang lewat dari parkiran.
Ilham menghembuskan napasnya panjang lalu mengangkat tubuh Arabella. Membantu gadis yang benar-benar takut itu turun. Tubuh Arabella sedikit gemetar kala Ilham menurunkannya sampai akhirnya mengijak tanah.
"Terimakasih, maaf merepotkan" kata Arabella setelah dirinya bisa menguasai diri dari ketakutannya.
"Maaf juga udah bikin kamu takut" Arabella hanya mengangguk sembari menunduk.
Kebiasaan dirinya kalau berada di tempat baru akan banyak menunduk. Apa lagi di lihatin orang-orang yang melewati mereka membuatnya tidak nyaman.
"Pak, bakso dua porsi, di bangku sana ya" Ilham menunjuk salah satu kursi taman yang kosong tidak jauh dari si pedagang.
"Iya nak, mau bakso yang biasa apa yang spesial?" tanya pedagang itu.
"Yang paling enak aja pak, kalo yang spesial udah ada" Ilham melirik Arabella di sampingnya yang masih menunduk dan tubuh yang merapat di sisinya.
Padagang yang mengerti maksud pembelinya itu hanya tertawa menanggapi dengan memberi jempol pada Ilham sebagai tanda beres.
Setelah memesan Ilham membawa Arabella menuju kursi taman dan duduk di sana. Ilham memperhatikan gadis di sampingnya yang masih tetap setia menunduk.
"Kenapa kamu nunduk terus? apa ada sesuatu di bawah?" tsanya Ilham mendapat gelengan dari Arabella.
"Trus, apa aku jelek sape kamu gak mau lihat aku?" lagi, Ilham mendapat gelengan.
"Lalu! apa ada orang yang ngancam kamu?" Ilham benar-benar penasaran dengan gadis di sampingnya.
"Jelaskan maksud kamu tadi" ucap Arabella dengan suara dinginnya.
Yah jadi putri es lagi dia batin Ilham kala mendengar nada dingin dari Arabella. Tadi kala ketakutan Ilham merasa Arabella seperti kelinci menggemaskan. Sekarang kelincinya sudah membeku lagi jadi es.
"Yang mana?" tanya Ilham.
__ADS_1
"Waktu di halte"
Ilham diam berpikir sejenak lalu mengangguk mengerti apa yang di maksud gadis di sampingnya.
"Tadi di sana ada orang yang perhatiin kamu terus" ucap Ilham.
Padahal tadi dia membawa Arabella bukan karena itu, tapi dorongan hatinya semata. Namun kala matanya tidak sengaja melihat ada dua orang pria yang melirik-lirik halte. Ilham menjadikan itu sebagai alasan.
"Siapa?" tanya Arabella penasaran.
Bahkan gadis itu mengangkat kepalanya melihat pemuda di sampingnya yang melihatnya juga.
Ilham mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
"Gak sempet kenalan" ucapnya.
Arabella menatap kurus kedepan, dimana di depan sana ada banyak bunga-bunga yang bermekaran. Warna warni bunganya memberi keindahan sendiri bagi taman itu. Aroma bunganya juga dapat tercium kala angin berhembus ke arah di mana pasangan ajaib itu duduk.
Pesanan datang, Ilham meminta Arabella memakannya. Awalnya gadis itu menolak sampai akhirnya Ilham mengancam akan membuang makanan itu kalau Arabella tidak mau makan.
Barulah Arabella mau memakan bakso yang di pesankan Ilham itu hingga habis dengan cepat karena dirinya yang selalu berhemat sampai tidak sempat memikirkan untuk membeli makanan yang enak walau hanya makanan sederhana.
Ilham mengulurkan tangannya kala melihat di dagu gadis di sampingnya ada kuah bakso yang tersisa dan tidak di sadari.
Arabella kaget dengan apa yang di lakukan Ilham lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Di tempat yang tidak jauh dari posisi Ilham dan Arabella ada beberapa pemuda yang sejak tadi memperhatikan kedua orang itu.
"Aaaa sweet nya pasangan ajaib" seru Doni, Toni dan Gio dengan tampang berseri dan kedua matanya berkedip-kedip senang serta bibir tersenyum.
"Gercep juga ya teman kita yang satu itu" kata Bagas tidak percaya dengan langkah cepat Ilham mendekati Arabella.
"Niat baik itu memang harus di segerakan" Kata Firman.
"Iya, sebelum janur kuning melengkung" sambung Mono mengangkat tangannya membentuk lengkungan.
"Kalo janur udah melengkung juga masih bisa di tikung asalkan sama-sama mau" seru Roy santai yang mendapatkan tatapan dari teman-temannya.
"Dasar kang tikung" ucap Diki.
"Salahku dimana?" kata Roy mencari pembenaran.
"Salahmu waktu ulangan dadakan tadi gak ngasih contekan" sambar Boby.
"Siapa suruh nyontek" ucap Roy santai.
"Namanya juga kepepet, terpaksa lah" sahut Boby tak mau kalah.
"Sst nanti kita ketahuan" lerai Firman yang tidak ingin aksi mereka membuntuti Ilham ke tahuan.
__ADS_1
Bisa berabe kalo ketahuan batinnya.