Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
32


__ADS_3

"Tenang gimana pak! anak ini sudah buat anak saya celaka, bapak sebagai kepala sekolah ini gimana sih masa masalah itu saja gak tahu" marah si wanita.


"Saya tahu masalah itu bu, tapi anda harus tenang dulu supaya kita bisa membicarakannya dengan baik tanpa emosi atau pun kemarahan jadi semuanya jelas" terang kepala sekolah agar tamunya bisa tenang.


"Mudah bapak ngomong gitu! lihat sana anak saya pak, koma, kepalanya di perban sampe sekarang belum sadar" marah wanita itu lagi.


Kepala sekolah memijat pangkal hidungnya bingung bagaimanalagi harus bicara dengan kedua orang yang sedang emosi itu.


Ilham hanya diam tanpa merespon karena memang belum tahu masalah yang terjadi. Dirinya memang jarang melihat chat grup sekolah yang sedang gempar itu, biasanya dia tahu berita terkini tentang sekolah dari teman-temannya tapi teman-temannya sendiri belum mengatakan apapun.


"Kamu!" tunjuk si pria pada Ilham yang diam.


"Kamu harus tanggung jawab atas apa yang terjadipada anak saya atau saya tuntut kamu" marahnya.


"Tanggung jawab tentang apa?" tanya Ilham masih dengan wajah datarnya.


"Ck! sekalinya bodoh ya tetap bodoh" maki wanita itu pada Ilham.


"Orang yang suka memaki orang lain bodoh, sebenarnya dia lebih bodoh" sahut Ilham yang sudah sangat geram dengan wanita dan pria itu yang sejak tadi selalu memaki dan memarahinya.


"Apa katamu hah? kamu anak kecil jangan sembarangan bicara ya!" marah wanita itu karena di katai bodoh oleh Ilham.


"Kalo mau di hargai maka hargai orang lain lebih dulu" kata Ilham lagi dengan santainya.


"Kamu benar-benar..." pria itu ingin melayangkan pukulan pada Ilham tapi di tahan oleh kepala sekolah.


"Kalau bapak dan ibu tidak mau tenang dan diam maka jangan salahkan saya mengusir kalian berdua" ancam kepala sekolah yang sudah jengah dengan tamunya yang pemarah.


"Silahkan! saya akan tuntut sekolah bapak ini karena tidak menghargai tamu dan memperlakukan kami dengan buruk, di tambah kasus yang menyebabkan anak saya celaka" tantang si pria balik.


"Silahkan, saya juga tidak takut tapi kalau kami tidak terbukti bersalah maka bapak akan saya kirim ke bui" tandas si kepala sekolah tanpa takut.


"Jangan coba-coba mengancam saya pak, bapak tahu saya ini pengusaha kaya bahkan saya bisa beli sekolah ini kalau saya mau" sombong si pria dengan wajah angkuhnya begitu istrinya.


"Silahkan" ucap kepala sekolah tak gentar.


Menyadari orang yang di gertak tak pantang mundur dan tak takut dengannya, si pria melirik istrinya yang juga melihatnya.


"Baik, kami akan duduk" ucapnya lalu duduk di sofa dengan pongahnya.

__ADS_1


Ilham memasang wajah malas mendengar ucapan pasangan itu. Sedangkan kepala sekolah menghela napas panjang akan sikap tamunya yang sudah bukan hal biasa sebenarnya.


Menjadi kepala sekolah di sekolah ekslusive dan ternama memang bukan hal yang mudah karena banyak anak orang kaya yang akan berbuat sesukanya. Belum lagi orang tua mereka yang akan datang dan mengatakan hal sombong serta mengancam.


Jadi kepala sekolah sudah biasa dan kebal dengan semua ancaman dan gertakan seperti itu.


Kepala sekolah duduk di sofa tunggal berhadapan dengan tamunya, sedangkan Ilham tetap berdiri tanpa duduk.


"Ilham, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi kemarin di tangga lantai tiga!" ucap kepala sekolah melihat Ilham yang berdiri di dekat sofa yang di dudukinya.


"Saya gak tahu pak" jawab Ilham singkat.


"Jawab yang jujur jangan berbohong!" bentak si pria tidak suka dengan jawaban Ilham.


"Tolong tenang pak" kata kepala sekolah yang harus memiliki kesabaran ekstra menghadapi para orang kaya sombong.


Kepala sekolahmelihat Ilham lagi dengan serius.


"Sungguh kamu gak tahu apa yang terjadi di tangga lantai tiga?" Ilham mengangguk.


"Iya pak" sahutnya santai walau wajahnya terlihat datar.


"Apa kamu gak lihat grup chat sekolah yang sedang gempar akan sesuatu?" Ilham menggeleng lagi.


Ilham melihat wanita itu dengan wajah datarnya juga mata tajamnya.


"Kemarin ada kejadian saat jam pulang sekolah yaitu Meisa yang jatuh dari tangga lantai tiga ke lantai dua, terakhir dia terlihat sama kamu, apa kamu udah ingat?" kata kepala sekolah kala menyadarikalau siswanya itu sudah mengingat tentang kejadian itu.


"Iya pak" sahut Ilham.


"Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?"pinta kepala sekolah.


Walau sudah tahu bagaimana peristiwa itu terjadi dari grup sekolah tapi kepala sekolah ingin mendengar langsung dari Ilham yang di jadikan tersangka oleh kedua tamunya.


"Kemarin dia terus gangguin saya pak, kemana saya melangkah dia mengikuti dan terakhir menghalangi, selain itu dia juga sudah lancang memanggil saya sayang dan mengaku-ngaku sebagai kekasih saya, karena saya sudah bosan dengan semua itu jadi saya marahi dia di dekat tangga karena dia yang halangi jalan saya, setelah itu saya pergi dan tidak tahu apa-apa lagi" jelas Ilham.


"Bohong! mana mungkin anak saya yang sangat cantik dan menawan itu mengejar kamu, dan seharusnya kamu bersyukur karena di sukai anak saya bukan memarahinya" bentak wanita itu marah.


"Tapi faktanya semua itu terjadi, dan saya lebih bersyukur kalo anak anda gak menyukai saya" ucap Ilham.

__ADS_1


"Dasar som..."


"Cukup! bisakah anda tenang nyonya!" marah kepala sekolah yang mulai kehabisan kesabaran tapi masih di coba untuk bersabar.


"Berani sekali anda membentak istri saya" bentak si pria pula yang tidak terima sampai menggebrak meja cukup keras.


Kepala sekolah mengusap kedua telinganya yang berdengung akibat suara keras pria di hadapannya.


Tiba-tiba pintu ruang kepala sekolah terbuka lebar oleh satpam sekolah yang biasanya berkeliling lingkungan sekolah untuk memantau kalau ada sesuatu sedangkan satpam satunya lagi berjaga di gerbang depan.


"Ada apa pak?" tanya si satpam tergesa.


Semua mata melihat satpam yang datang dengan wajah khawatir takut ada kejahatan di sana.


"Bisa bapak ambilkan copy rekaman cctv di ruang pengamanan! rekaman kemarin setelah pulang sekolah di tangga lantai tiga hingga kelantai dua" kata kepala sekolah.


"Cepat ya pak" lanjutnya.


"Baik pak" satpam dengan cepat bergerak melakukan apa yang di minta kepala sekolah.


Tidak berapa lama datanglah satpam yang tadi.


"Maaf pak kami gak menemukan apa-apa, rekamannya sudah di hapus" lapor satpam dengan wajah pucat ketakutan.


"Bagaimana bisa rekaman itu di hapus? bagaimana kalian berjaga kalau hanya rekaman begitu saja hilang?" geram kepala sekolah menatap marah satpam yang menunduk ketakutan.


Ilham meraih ponselnya di saku kala mendengar bunyi pesan masuk. Ia yakin kalau itu pasti ada hubungannya dengan teman-temannya, benar saja. Kala Ilham membuka pesan di grup chat mereka ada sebuah kiriman video dari Doni dan satu kalimat yang membuat Ilham tidak percaya kalau teman-temannya bergerak cepat.


"Dari rekaman ini saya gak bersalah sama sekali, anak kalian jatuh sendiri" Ilham menunjukkan rekaman di ponselnya setelah di stel ulang.


"Kalau kalian berdua ingin menuntut saya atas masalah ini silahkan" lanjutnya.


Geram dengan apa yang di katakan Ilham, pria itu berdiri dengan wajah marahnya.


"Heh bocah! apa kamu pikir dengan bukti begitu saja bisa lolos dari saya hah! saya akan tuntut kamu, gak perduli kamu siapa dan anak siapa saya akan tuntut" ucapnya berteriak.


"Silahkan, saya juga bisa melakukan hal yang sama terhadap anda" kata Ilham tidak takut.


Pria dan wanita yang sejak awal marah-marah itu langsung berdiri dan pergi begitu saja tanpa pamit.

__ADS_1


"Tunggu pembalasan dari ku" ancam si pria menatap sengit Ilham yang nampak biasa saja.


Setelah kepergian kedua orang pembuat onar tadi, Ilham kembali ke dalam kelasnya. Sementara kepala sekola melakukan pemeriksaan terhadap sistem keamanan sekolah yang sudah kecolongan.


__ADS_2