Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
19


__ADS_3

Ilham keluar dari kamarnya setelah mengganti pakaiannya. Berniat mencari kakak sepupunya untuk menanyakan sesuatu yang penting.


Tiba-tiba langkahnya terhenti kala terpikirkan sesuatu.


"Kalo di ejek gimana ya?" gumam Ilham ragu untuk menghampiri kakak sepupunya yang sedang berada di ruang keluarga itu.


"Terserahlah" lanjutnya meneruskan langkah turun ke lantai bawah.


Di ruang keluarga hanya ada Ardi dan Haru saja, sedangkan dua pria lagi belum pulang.


"Udah makan Ham?" tanya Haru pada Ilham yang baru mendaratkan bokongnya di sofa.


"Udah bi" sahutnya.


Ardi melirik pemuda di seberangnya dengan senyum jahilnya. Dirinya sangat senang kalau menjahili sepupunya yang acuh dan banyak diam itu.


Yah meski terkadang harus menelan pil pahit karena kejahilannya yang tidak berhasil seperti waktu itu. Tapi tidak membuat Ardi jera untuk mengganggu dan menjahili pemuda acuh itu.


"Lirik lirik matanya... jelek jelek orangnyaaa..." Ardi mulai bersenandung dengan wajah mengejek Ilham karena pemuda itu yang sejak duduk tadi terus meliriknya.


"Membuat diriku sangat ingin mencolok matanyaa.. membuat diriku sangat ingin menarik pancuran airnyaaa..." kekeh Ardi kala melihat wajah malas Ilham karena merasa lagu itu untuknya.


Ardi dan Hesa terkadang memanggil Ilham dengan pancuran air karena hidungnya yang mancung bagaikan orang Turki. Sangat berbeda dengan mancungnya Ardi dan Hesa yang biasa saja. Khasnya mancung orang Indonesi.


Haru hanya geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya itu. Entah nasib baik atau sial Ilham yang pendiam dan acuh mendapatkan kakak sepupu yang jahil dan suka mengganggunya dengan segala ucapan mereka itu.


Tapi justru keusilan dan kebisingan kedua kakak sepupunya itu yang membuat Ilham merasa mendapatkan perhatian dengan cara yang berbeda. Jadi dirinya tidak pernah marah saat di jahili oleh kedua kakaknya dan bersikap biasa saja yang malah membuat kedua kakaknya geram sendiri dengannya.


"Ngapain ngelirik aja dari tadi? naksir? jangan kakak masih normal" kekeh Ardi lagi kala Ilham semakin terlihat malas.


"Aku juga masih normal" sahut Ilham yang memang terdengar malas.


Ardi tertawa geli.


"Ya ya ya ya... yang masih normal, percayalah kakak sih orang kamu udah punya gebetan, kalo tadi kamu masih sendiri baru kakak gak akan percaya kalo kamu masih normal karena kemana mana sama temen-temen kamu itu, kakak kira kalian saling suka"


Buk


Bantal sofa melayang mengenai wajah Ardi yang sedang tertawa.


"Heh! omongan kamu itu ya Ardi tolong di filter sedikit, masa adiknya di doa in jadi homo sih!" sentak Haru memarahi Ardi yang kalau bicara asal saja.


Untung adik sepupunya masa bodoan orangnya dengan apa yang selalu di katakan kakak-kakaknya selama itu bukan hal yanh serius. Dan dugaan Ardi tentang dirinya yang di anggap homo bukan masalah baginya.


"Itukan cuma opini aja sih bunda gak beneran, baperan bunda ih" ucap Ardi cemberut sembari memeluk bantal yang tadi di gunakan Haru untuk melempar dirinya.


"Tapi jangan gitu juga ngomongnya, tahu kalo ucapan itu doa! nanti kalo adik kamu jadi homo beneran gimana, bisa-bisa kamu yang di cabuli sama Ilham" mata Ilham dan Ardi melotot tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Haru.


"Amit amit bi" ucap Ilham.

__ADS_1


Ardi langsung melihat adiknya yang seperti sangat merasa enggan.


"Heh! memangnya kakak ini sesuatu yang mengerikan apa sampe kamu bilang amit-amit" protes Ardi.


"Amit amitnya itu jangan sampe apa yang di bilang bibi jadi beneran" ucap Ilham menjelaskan.


"Bilang dong kalo yang itu, kakak juga gak mau kali sama pancuran air kayak kamu" kekeh Ardi.


"Dasar baperan kamu" ejek Haru gantian pada Ardi yang tadi sempat mengatakan dirinya baperan.


"Gak ya! bunda tuh baperan" sangkal Ardi tidak terima di bilang baperan.


"Iya bunda memang lagi baper"


"Tuh kan..."


"Ba waannya la Per" lanjut Haru memotong ucapan anaknya.


Ardi mendengus mendengar ucapan bundanya.


Haru pergi ke dapur meninggalkan keduanya di ruang keluarga.


Ilham melihat Ardi yang melihat tv di depannya setelah sang bunda pergi tadi.


"Kak!" panggil Ilham.


"Hm, kenapa?" sahut Ardi.


Pandangan Ardi beralih dari tv ke Ilham yang terlihat sedang serius.


"Ya adalah, iya kali udah kerja capek capek gak di kasih makan, walau kerja mereka masak sama melayani pembeli tapi itu juga butuh tenaga" jelas Ardi.


Ilham mengangguk sembari terlihat sedang berpikir.


"Kenapa memangnya? jangan bilang kalo kamu mau..."


"Boleh ya kak!" seru Ilham memotong kalimat Ardi sebelum pria itu menyelesaikannya.


"Alasannya?"


"Gak ada"


Ardi membuang napasnya panjang dan kasar. Sangat susah memang kalau mau mendapatkan pengakuan dari pemuda acuh itu tentang apa sesungguhnya yang sedang di rencanakannya.


"Bilang aja kamu mau pepet itu si Arabella, iya kan!" Ardi menaik turunkan kedua alisnya menggoda Ilham.


"Kalo tahu ngapai nanyak" skak dari Ilham membuat wajah Ardi lemas seketika.


"Punya adek kok gini banget ya" gumamnya menghela napas lagi.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Ilham ingin memastikan.


"Memangnya kamu mau apa di sana?" tanya Ardi balik.


"Yang penting kakak setuju gak!" desak Ilham.


"Ya ya ya terserahlah Ham, lakukan apa yang kamu mau yang penting semuanya aman terkendali"


"Hm"


Ilham berdiri dari duduknya menuju dapur karena ingin makan bersama bibinya yang sudah ada di sana.


"Hah bau bau orang orang bucin tuh! apa aja di lakuin demi cinta.. oh cinta..." Ardi kembali bersenandung sedikit.


Haru melihat Ilham duduk di kursi meja makan langsung bertanya.


"Mau makan Ham?"


"Iya bi, ini bibi masak sendirikan!" tanya Ilham di angguki Haru.


"Mau bibi ambilkan!" tawar Haru di balas gelengan oleh Ilham.


"Aku ambil sendiri aja bi, bibi habiskan aja makanan bibi"


"Tadi pagi mama kamu nelpon bibi Ham" seru Haru melirik keponakannya yang terlihat tenang makan.


"Kamu gak angkat telpon mama kamu ya tadi malam!" Ilham geleng kepala.


"Kenapa?"


"Mama nelponnya pas Ilham udah tidur, ponselnya juga lagi carger jadi gak denger"


"Ya udah nanti kamu telpon mama kamu ya" Ilham mengangguk.


Bukan Ilham tidak suka atau membenci orang tuanya. Hanya saja komunikasi yang kurang anatara Ilham dan orang tuanya membuatnya acuh dengan kedua orang tuanya. Apa lagi kedua orang tuanya yang sangat sibuk dengan pekerjaan membuat Ilham acuh dengan keduanya.


Walau tidak di pungkiri kalau dirinya merindukan kedua orang tuanya dan sangat ingin mendapatkan perhatian selayaknya orang tua yang selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama anak.


Di lain tempat....


Sembilan pemuda baru saja keluar dari gedung sekolah setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Untung kita duluan ya, lihat tuh!" tunjuk Roy pada seorang pria yang baru turun dari motor dengan penampilan yang cukup mencurigakan.


"Jangan suka nuduh orang sembarangan, mungkin dia memang ada urusan di sekolah ini" ucap Firman.


"Ya sebagai warna sekolah yang baik kita juga harus waspada sama orang orang yang mencurigakan, iya gak!" Diki menatap Roy yang jelas setuju dengan apa yang Diki ucapkan.


"Yo i bro" sahut Roy.

__ADS_1


"Udah udah ayo pulang" ajak Bagas.


Mereka menaiki motor masing-masing dan mulai bergerak meninggalkan sekolah yang masih cukup ramai dengan para siswa yang sedang ada kegiatan.


__ADS_2