Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
48


__ADS_3

Jam terus berputar dan tahunpun berganti, tidak terasa sudah lima tahun berlalu Ilham berpisah dengan Arabella dan belum pernah sekalipun bertemu.


Meski Ilham pernah bertemu dengan Aji tapi ia tidak pernah bisa bertemu dengan Arabella. Bukan karena tidak mau atau tidak dapat ijin dari orang tua Arabella. Tapi memang Ilham belum mau bertemu dengan Arabella karwna ingin lebih fokus pada pendidikannya dan usaha yang di rintisnya bersama Doni dan Gio yang masih selalu bersamanya.


Kedua teman Ilham itu menepati ucapan mereka untuk menjadi bayang-bayang Ilham dan selalu menemani teman mereka itu. Dan kini usaha restoran yang mereka dirikan sudah sangat maju dan memiliki beberapa cabang di daerah lain.


Tapi mereka sekarang tidak berfokus di restoran lagi karena Ilham sudah mendapat tanggung jawab mengurus perusahaan milik orang tuanya yang ada di kota pusat yang merupakan pusat dari perusahaan mereka.


Sedangkan orang tua Ilham masih ada di luar negeri dan belum kembali. Empat tahun menempuh pendidikan di luar negeri bersama kedua temannya kini mereka sudah kembali ke Indonesia dan sudah menetap selama setahun.


Dalam setahun itu ketiganya di sibukkan dengan pekerjaan yang begitu banyak karena sudah lama di tinggalkan papanya Ilham dan di percayakakan pada orang kepercayaannya. Namun yang ada malah di temukan kecurangan dan korupsi yang jumlahnya tidak sedikit.


Akhirnya Ilham dan kedua temannya yang menjadi asisten harus membereskan semua kekacauan itu. Dan baru selesai setelah satu tahun bekerja, memberantas korupsi yang sudah cukup lama dan tertata rapi itu bukan hal yang mudah.


Kini ke tiga sahabat yang tersisa itu sedang duduk di restoran mereka untuk makan siang, sang sekretaris yang bernama Joko juga ikut.


"Masalah kantor udah beres apa sekarang saatnya kita temui ipar kita?" ucap Doni menatap Ilham.


"Ipar apa?" tanya Gio yang belum paham arah perbincangan Doni.


"Si putri es" sahut Doni yang di balas Gio dengan membulatkan bibirnya.


"Lah iya, masalah udah beres kantor juga udah stabil bahkan bahkan lebih baik, kerugian juga udah balik, kapan kamu mau kekantor camer Ham?" seru Gio pula.


"Apa jadwal setelah ini?" tanya Ilham.


"Gak ada bos" sahut Joko santai.


Memang di luar jam kerja Joko bisa bersikap santai kepada sang atasan dan juga ke dua temannya itu.


"Kalian nanti kembali ke kantor, selesaikan sisa kerjaan" ucap Ilham.


"Bos mau kemana?" tanya Joko.


"Ya jelas jemput nyonya bos lah Ko" seru Doni menjawab.


"Wah berarti sebentar lagi bos kita bakalan punya atasan dong" Joko tersenyum tipis.


"Ya memangkan bos kita punya atasan" kata Gio yang belum maksud akan ucapan Joko.

__ADS_1


"Maksud Joko itu bukan bos besar Gio, tapi pawangnya si bos ini, orang yang bakalan lebih berkuasa nantinya atas diri si bos" Doni menjelaskan maksud ucapan Joko tadi, yang tentunya mendapatkan acungan jempol dari Joko.


"Apa lagi kalo udah bucin parah nanti, beh.. selain bakalan posesif pastinya bakalan...." Joko menghentikan ucapannya lalu mengangkat jari tengah dan telunjuk di sertai senyuman lebar sebagai tanda perdamaian pada Ilham yang meliriknya tajam.


"V bos canda" lanjutnya masih tersenyum lebar.


Ilham menghela napasnya panjang, hatinya sungguh berdegup kencang sekarang membayangkan dirinya akan bertemu dengan sang cinta yang sudah lama berpisah.


"Aku duluan" ucap Ilham bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar.


"Ah iya, jangan lupa periksa pembukuan restoran pastikan semuanya aman" sambungnya sebelum membuka pintu.


"Rebes bos santuy aja" sahut Doni sembari memberi tanda ok pada Ilham.


Ilham keluar dari restoran dan menuju mobilnya yang sudah di lobi karena ia yang sudah menghubungi supirnya tadi. Ilham sengaja memakai supir untuk mengantarnya kemana-mana.


Karena pekerjaannya yang banyak membuatnya terkadang harus mengerjakannya meski masih dijalan. Bahkan waktu tidurpun kurang dan kalau perjalanan jauh harus menyempatkan tidur walau sejenak.


"Ke SW grup" ucap Ilham.


"Baik tuan" sahut si supir.


Sepanjang jalan Ilham terus memegang dadanya yang berdetak cukup kencang. Padahal yang akan di temuinya itu papa dari Arabella belum Arabella tapi kenapa jantungnya sudah berdetak tak menentu.


"Tuan kenapa? apa dada tuan sakit? perlu kerumah sakit dulu?" ucap sang supir yang usianya sekitar empat puluhan.


"Ah gak usah pak, lanjut aja" sahut Ilham.


"Tapi tuan gak papakan? kalo memang sakit banget dadanya kita bisa ke rumah sakit dulu" tawar sang supir yang mengkhawatirkan majikannya terkena suatu penyakit.


"Gak papa pak, sebentar lagi kita juga sampe" kata Ilham yang akhirnya di akngguki oleh sang supir.


Benar saja sepuluh menit kemudian mereka sudah memasuki kawasan perusahaan milik Suwoyo. Mobil berhenti di lobi perusahaan dan Ilham turun di sana sedangkan mobilnya ke tempat parkiran.


Ilham menghembuskan napasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya melangkah dengan pasti memasuki perushaaan.


"Permisi apa pak Suwoyo nya ada?" tanya Ilham pada Resepsionis.


"Hah!" kedua Resepsionis wanita itu menatap Ilham dengan pandangan kagum.

__ADS_1


Tok Tok Tok


"Hello!" panggil Ilham mengagetkan kedua wanita yang menatapnya.


"Ah maaf tuan, bisa di ulangi pertanyaannya?" ucap mereka bersamaan.


"Apa pak Suwoyo ada?" tanya Ilham lagi dengan suara dingin dan wajah datarnya yang semakin terlihat tak bersahabat.


"Ah iya ada tuan, beliau ada di ruangannya di lantai lima belas" jawab salah satu wnaita dengan tatapan penuh minat pada Ilham.


"Terimakasih" ucap Ilham lalu melangkah menuju lift.


Kedua wanita tadi menatap Ilham hingga tak terlihat. Untung saja jam kerja sudah di mulai jika tidak bisa di pastikan Ilham akan lebih risih lagi dengan tatapan para wanita yang tidak ada habisnya.


Tidak di perusahaannya tidak di perusahaan orang lain hal itu selalu terjadi pada Ilham yang memang memiliki daya pikat kuat dengan wajahnya yang tampan itu.


Sampai di lantai lima belas Ilham melangkah ke arah ruangan yang di depannya terdapat meja yang di yakininya sekretaris Suwoyo. Apa lagi di lantai itu hanya ada dua ruangan dan yang satunya bertuliskan wakil Direktur.


"Permisi, saya ingin menemui pak Suwoyo" ucap Ilham pada wanita yang ada di meja sekretaris itu.


"Maaf apa sudah membuat janji tuan?" tanya sekretaris itu sopan.


"Sudah, lima tahun lalu" sahut Ilham membuat wanita di depannya melongo.


"Hah! lima tahun lalu?" herannya.


"Sampaikan saja" ucap Ilham lagi.


"Baik, mohon tunggu" si wanita itu bergerak mendekati pintu lalu mengetuk setelah mendapatkan sahutan barulah masuk.


Tak lama kemudian keluar lagi.


"Silahkan masuk tuan" ucapnya di angguki Ilham.


Ilham pun masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan Direktur utama itu.


Saat melihat ke dalam, Ilham di kagetkan dengan apa yang di lihatnya di dalam sana. Sungguh di luar dugaannya akan secepat ini pertemuan mereka dan kini ia tahu jawaban dari jantungnya yang sejak tadi berdetak cepat.


"Rabel"

__ADS_1


__ADS_2