Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
29


__ADS_3

"Bunda lebay banget sih! sampe segitunya kalo masalah perempuan, takut banget kita nyakitin perempuan" ujar Hesa yang malah semakin membuat Haru meradang dan geram.


"Apa kamu bilang? lebay!" ucap Hesa dengan kedua mata yang melotot marah.


"Memangnya kamu bakalan sanggup kalo jadi dia hah? kehormatannya hampir hilang karena ayahnya, masa depannya suram karena sebatang kara, kerja banting tulang setiap malam tanpa lelah untuk sesuap nasi sama biaya hidup, ibu satu-satunya tempat berlindung yang masih ada harus pisah karena hukum yang menjerat ibunya karena belain dia, kamu gak kasihan sama dia hah? memangnya kamu bakalan tega nyakitin dia kalo jadi pasangannya? satu-satunya harapannya cuma satu" Hesa menatap sengit anaknya yang menunduk dengan wajah menyesal dengan ucapannya tadi.


"Dia cuma ingin bahagia, bisa menjalani hidup kaya gadis lainnya, jalan-jalan, belanja kebutuhan pribadinya sendiri, dapet kasih sayang kedua orang tua, yang di pikirkan cuma belajar mengejar masa depan bukan kerja untuk makan belajar untuk masa depan, bunda juga yakin dia pasti punya tekanan batin dari perbuatan ayahnya yang hampir merusak masa depannya itu, itu sebabnya dia langsung pingsan waktu di deketi preman, dia pasti sangat ketakutan" lirih Haru di akhir kalimatnya dengan wajah sendu menatap Arabella.


"Betapa malang nasibmu nak" Haru mengelus kepala Arabella lembut dan pelan.


Jodi mendekati istrinya dan merangkul pundak Haru dengan mengelus pelan.


"Apa paman bisa tolong mamanya Rabel untuk dateng ke sini?" tanya Ilham menatap sang paman yang sedang memeluk bibinya.


Ilham sudah berada di dekat tempat tidur Arabella bagian kaki setelah tadi keluar dari kamat mandi dan mendengar semua ucapan keluarganya.


Jodi melihat Ilham yang menatapnya penuh harap.


"Paman gak bisa sembarangan kasih ijin tahanan keluar Ham, sekalipun paman kepala sipir" ucapnya.


"Tapi ini darurat paman, Rabel butuh donor sumsum tulang belakang dari keluarganya" kata Ilham benar-benar penuh harap.


Jodi nampak berpikir mendenga ucapan Ilham.


"Iya yah, kalo ayah tahu ibunya Arabella kena kasus pembunuhan suaminya ayah pasti tahu ibunya, kasihan dia yah" ucap Haru membantu Ilham membujuk suaminya.


"Baiklah, nanti ayah usahakan ya, ayah harus periksa semua laporan tentang sikapnya selama di tahanan supaya nanti ayah bisa buat alasan apa untuk bawa dia ke sini karena semuanya ada prosedurnya" kata Jodi yang menimbulkan senyuman tipis di wajah keponakannya yang hampir tidak pernah di lihatnya tersenyum.


"Sungguh paman! kalo bisa segera paman karena dia butuh cepet" ujar Ilham sumringah.

__ADS_1


Jodi mengangguk melihat Ilham yang tersenyum tipis membuat hatinya ikut senang juga. Selama kedua orang tuanya semakin sibuk dan tidak pernah memiliki waktu bermain dengannya sejak kecil, Ilham sama sekali tidak pernah tersenyum atau terlihat bahagia.


Wajahnya plat alias datar dan acuh, itu sebabnya Jodi sempat memarahi adiknya yaitu papanya Ilham agar menyempatkan waktu untuk anak semata wayangnya. Jangan hanya harta saja yang di kejar, tapi pekerjaan yang sangat banyak dan perusahaan besar yang di kolalanya membuat papanya Ilham harus ekstra bekerja keras.


Kini Jodi dapat melihat wajah bahagia keponakannya yang sangat plat itu. Dan itu mmebuatnya juga merasa bahagia dan akan melakukan segala upaya agar keponakannya bisa tersenyum.


Meski nanti senyuman itu hanya akan di berikannya pada gadis yang di cintainya saja, Jodi tidak masalah selama keponakannya mendapatkan kebahagiaan sendiri.


Ilham mendekati Arabella lalu menundukkan kepalanya mendekati Arabella.


"Kamu harus sembuh, ibu kamu nanti ke sini buat jenguk kamu, jadi buka mata kamu ya" bisik Ilham di telinga Arabella.


Setelah melakukan itu Ilham mendekati meja dekat sofa di mana ada sarapan mereka di sana. Ilham harus berangkat ke sekolah jadi langsung sarapan dan bersiap berangkat, sebelum benar-benar pergi, Ilham mendekati Arabella lagi.


"Aku pergi kesekolah dulu ya, kamu cepet sadar dan sehat lagi supaya nanti bisa ikut aku ke sekolah, kita sama-sama di sekolah kamu bakalan ada temennya gak kesepian lagi" bisik Ilham.


Ingin rasanya Ilham mengecup pipi gadis di hadapannya tapi tidak mungkin. Di sana ada bibinya yang sedang memperhatikannya, bisa-bisa dirinya di kebiri oleh bibinya kalau berani mencium walau sedikit saja. Bibinya memang sangat protectif terhadap mereka dan pergaulan mereka.


Haru takut kalau anaknya akan berbuat nekat pada kekasihnya kalau du biarkan dan itu hanya akan membuat malu keluarga. Kalau sudah sama-sama suka langsung saja menikah, apa lagi di usia yang sudah pas untuk berumah tangga.


"Aku pergi ya bi, tolong jagain Rabel kasih kabar sama Ilham kalo nanti dia udah sadar" ucap Ilham pada Haru saat menyalami bibinya itu.


"Iya kamu tenang aja, belajar yang baik jangan banyak pikiran" nasehat Haru di angguki Ilham.


Setelah berpamitan pada bibinya, Ilham berjalan keluar ruangan Arabella sembari sesekali melihat dimana Arabella berada.


"Ham!" panggil Jodi kala mereka tiba di parkiran.


"Kenapa paman?" tanya Ilham penasaran.

__ADS_1


"Paman bakalan bantuin kamu" ucap Jodi menepuk bahu Ilham dengan senyum misteriusnya yang membuat kening Ilham mengkerut bingung.


"Maksud paman apa?" tanya Ilham bingung dan tidak mengerti maksud pamannya.


"Sudah sana pergi nanti telat sekolahnya" kata Jodi mendorong Ilham menuju motornya yang tidak jauh dari mereka.


Terpaksa Ilham bergerak mendekati motornya dan mulai bergerak meninggalkan parkiran rumah sakit menuju sekolah yang cukup jauh dari sana. Terpaksa Ilham harus ngebut di jalan yang cukup lancar meski ramai demi supaya tidak terlambat.


Karena pantang baginya dan teman-temannya datang terlambat. Semua guru di sekolah menilai Ilham dan teman-temannya adalah contoh yang baik karena walau terkenal dengan kesan brandalan mereka tidak berbuat onar dan melanggar aturan sekolah.


Ya walaupun terkadang Ilham suka bolos jam pelajaran kalau sedang badmod.


Sesampainya di sekolah Ilham dapat melihat teman-temannya yang sudah sampai dan hendak meninggalkan parkiran. Namun tertahan kala melihat Ilham yang datang.


"Kami pikir gak sekolah kamu Ham" ucap Bagas membuka suara kala Ilham sudah turun dari motor dan mendekati mereka.


"Dari pada harus denger kemarahan bibi Haru" kata Ilham.


"Ada juga yang kamu takuti ya! ku kira kamu gak takut sama siapapun" kekeh Doni di ikuti yang lainnya.


"Tapi ada yang lebih di takuti lagi sama dia selain bibi Haru" ujar Gio membuat mereka saling pandang heran.


"Siapa?" tanya mereka serempak.


Gio tidak menjawab, hanya memandang satu persatu temannya dengan senyuman penuh arti dan menyiratkan sesuatu. Sampai akhirnya mereka ber oh ria bersama kala sudah mengerti maksud dari Gio.


"Oh itu..." seru Firman.


"Jadi beneran ya!" kataBoby.

__ADS_1


"Yang tadi malam itu...." Gio mengangguk membenenarkan ucapan Diki yang belum selesai seakan dia tahu apa yang akan di ucapkan temannya itu.


"Masuk" ucap Ilham tegas tidak mau teman-temannya membahas masalah tadi malam di koridor sekolah.


__ADS_2