
Keesokan paginya, mamanya Arabella sudah di pindahkan keruang rawat karena sudah sadar dari pengaruh bius. Hanya saja tadi malam belum sepenuhnya menyadari siapa yang menemaninya dan kembali tidur.
Sedangkan Arabella belum sadar dan menurut perkiraan dokter kemungkinan akan sadar dua jam lagi.
Ilham masuk ke dalam ruang ICU di mana Arabella berada. Hari minggu ini dia akan menghabiskan waktu di ruamh sakit menemani Arabella. Entah setelah ini mereka masih bisa bertemu lagi atau tidak, Ilham hanya ingin menghabiskan waktu sebentar bersama gadis di hadapannya yang masih setia menutup mata.
"Kapan kamu bangun? keluarga kamu udah dateng, mungkin sebentar lagikita bakalan pisah, ya mungkin karena papa kandung kamu pasti bakalan bawa kamu pergi ke kota tempat kamu di lahirkan, entah kapan kita bisa ketemu lagi nanti" Ilham menarik napas panjang sejenak.
"Seandainya aku bisa mencegah kamu pergi pasti aku lakukan, tapi itu gak mungkin! ada keluarga yang menantikan kehadiran kamu, ada papa sama kakak yang nunggu kamu kembali"
Ilham mendekatkan wajahnya pada telingan Arabella lalu berbisik.
"Bolehkah aku minta supaya kamu gak pergi! aku bahkan belum pernah lihat kamu tersenyum bahagia, tapi aku gak bakalan seneng kalo kamu bisa bahagia sama keluarga kamu, senyum dan ketawa sama keluarga kamu" ucapnya lirih.
Tangan Ilham juga memegang lembut dan hangat telapak tangan Arabella yang sudah lepas dari selang tranfusi darah.
Tiba-tiba Ilham di kagetkan dengan gerakan tangan yang di pegangnya, dengan cepat Ilham melihat tanganputih yang dingin itu. Meski sudah tidak sedingin waktu itu kini semuanya sudah normal hanya menunggu kesadaran Arabella saja.
Dan Ilham mendapati tangannya di genggam oleh tangan putih yang di pegangnya. Walau masih lemah tapi pegangan itu terasa hangat di hati Ilham, apa lagi ketika mata Arabella yang perlahan terbuka.
"Kamu udah sadar!" ucapnya bahagia.
Arabella mengalihkan pandangannya pada Pemuda yang tersenyum bahagia di sampingnya.
Ya Ilham, pemuda yang terakhir kali dilihatnya sebelum tidak sadarkan diri. Bahkan terakhir kali ia mengingat Ilham yang berkelahi dengan preman dan berusaha melindunginya.
Dan kini pemuda itu pula yang pertama kalii lihatnya saat buka mata.
"Aku panggil Dokter dulu ya!" Arabella hanya menjawab dengan kedipan mata saja karena tubuhnya yang masih terasa lemah.
Diluar ruangan tempat Ilham dan Arabella berada, ada teman-teman Ilham yang barus aja tiba. Mereka melihat kedalam karena tidak mendapati Ilham diluar.
"Aroma perbucinan mulai menguar" gumam Mono.
"Iya sampe pagi-pagi udah ngebucin, gak sabaran banget sih" sambung Gio yang langsungmendapat senggolan di tangannya Dari Diki karena Ilham yang bergerak keluar.
Kalau Ilham mendengar ucapan kedua teman mereka bisa di pelototi nanti.
"Apa sih? jangan senggol-senggol ya mas saya masih perjaka" kata Gio pula yang tidak menyadari Ilham yang akan keluar karena ia hanya melihat sebentar tadi.
__ADS_1
"Eiihhh gak napsu" ujar Diki dengan wajah seolah jijik.
"Eh! kamu pikir aku na...."
Kalimat Gio tidak selesai di ucapkan kala pintu terbuka dan memunculkan Ilham dengan wajah bahagianya.
"Panggilin dokter cepet!" ucapnya yang sarat akan kebahagiaan.
"Hah! iya iya" Doni di tarik Bagas pergi menuju ruangan dokter yang ada dilantai dua itu.
Sepanjang jalan Doni menggerutu karena dia kaget di tarik tiba-tiba oleh Bagas tadi.
"Untung manusia jantung ciptaan Tuhan, kalo gak udah cobot dia" ucapnya.
"Kapo gak mau jantung yang itu ganti sama jantung pisang" kata Bagas.
"Enak aja ganti sama jantung pisang, mekar nanti yang ada di dalem" ujar Doni memegang dadanya bagian jantung.
"Ya kan bagus sih, memperindah rongga dalam dada" kekeh Bagas yang hanya di sambut dengusan dari Doni.
"Lagian Ilham kok aneh ya! pada hal kan di atas ranjang pasien itu ada tombol untuk manggil dokter, kok gak di pencetnya coba!" kata Doni dengan wajah sedikit heran.
"Iya juga sih, aku sebenernya pun seneng lihat Ilham bahagia kayak tadi, baru ini lohku lihat dia bahagia gitu mukanya ya walaupun gak senyum tapi beda aja" sargah Doni di angguki Bagas sebagai pembenaran.
Sedangkan di depan ruang ICU, saat Ilham berseru untuk segera memanggil dokter. Aji dan seorag pria paruh baya berlari cepat kearahnya.
"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya Aji dengan wajah panik takut terjadi sesuatu.
Apa lagi pintu sudah kembali tertutup dengan Ilham yang masuk ke dalam menemui Arabella.
"Kurang tahu kak" jawab Firman seadanya karena Ilham memang tidak mengatakan apapun saat keluar tadi selain meminta mereka memanggil dokter.
Setelahnya Ilham masuk lagi meninggalkan teman-temannya yang belum di beri tahu ada masalah apa.
"Jangan-jangan terjadi sesuatu adek kamu Ji?" ucap si pria paruh baya dengan wajah takut dan khawatir.
Lantas pria itu hendak menerobos masuk tapi di tahan oleh anaknya.
"Sabar pa, kita tunggu dokter dateng supaya bisa tahu" ucap Aji menenangkan Suwoyo papanya.
__ADS_1
"Tapi papa gak tenang Ji, papa kangen sama Rabel! papa pengen lihat dia nak" kata Suwoyo dengan mata yang sudah berkaca menahan rindupada sang anak perempuan.
"Iya Aji tahu, tapi kita harus sabar" ujar Aji lagi.
Di dalam ruang ICU itu, Ilham menghampiri Arabella yang menatapnya dengan pandangan yang entah.
"Sebentar lagi dokter dateng, tunggu ya!" Arabella berkedip lagi.
Tangannya yang bebas di angkat perlahan dan di gerakkan. Terasa kaku sekali dan harus perlahan ia menggerakkan jari-jarinya.
"Udah berapa lama aku di sini?" tanya Arabella sembari masih menggerakkan tangannya.
"Sekitar empat hari" jawab Ilham membuat kepala Arabella menoleh padanya.
Tapi ia memejamkan mata kala merasakan sakit yang tiba-tiba menyerang.
"Jangan di paksa bergerakkalo masih sakit, pelan-pelan aja"
"Iya"
Dokter masuk untuk memeriksa keadaan Arabella yang sudah sadar. Sedangkan Ilham harus keluar supaya dokter bisa lebih leluasa memeriksa keadaan Arabella.
Sampai di luar, Ilham bisa melihat teman-temannya yang menatapnya penasaran. Begitu pula dengan Aji dan pria yang sebelumnya sempat di kenalnya sebagai tuan Suwoyo papa Arabella dan Aji.
"Gimana keadaannya nak? apa terjadi sesuatu?" tanya Suwoyo.
"Gak ada apa-apa paman, Rabel udah sadar" jawaban Ilham itu sontak membuat semua orang bersyukur.
Apa lagi suwoyo dan Aji yang sudah sangat berharap bisa berbicara dengan Arabella.
Tak lama dokter keluar dengan senyumdi wajahnya.
"Pasien Arabella sudah sadar dan semuanya baik-baik aja, sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang rawat sebelumnya" sahut Dokter tersenyum bahagia karena bisa memberikan kabar baik untuk keluarga pasien.
"Terimakasih banyak Dokter, apa saya boleh masuk melihat anak saya?" ucap Suwoyo.
"Nanti setelah di pindah ke ruang rawat ya pak"
Suwoyo mengangguk dengan semangat tak sabar untuk segera bertemu anak perempuannya.
__ADS_1