Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
46


__ADS_3

Sebelumnya Arabella yang masih di rumah sakit menolak untuk di ajak kembali ke rumah mereka di kota pusat. Hingga Dini sang mama berhasil meyakinkan sang putri untuk ikut dan mereka akan memulai semuanya dari awal.


Bersama keluarga yang sesungguhnya, dan kehidupan mereka yang sesungguhnya. Hingga Suwoyo menghampirinya dan mengatakan kalau pemuda yang selalu menemaninya itu ingin menikahinya.


Suwoyo juga mengatakan kalau ia akan merestui keduanya asal Arabella mau ikut dengannya. Suwoyo mengira kalau Arabella belum mau ikut tapi ternyata sudah, namun karena sudah terlanjur mengeluarkan kata yang sedikit mengancam itu akhirnya Suwoyo mengatakan lagi kalau dia meminta pemuda itu untuk datang setelah ia sukses.


Arabella sendiri sudah tidak terlalu mendengarkan apa yang di katakan papanya setelah mendengar kalau Ilham akan menikahinya.


Bukannya merasa ilfiel atau benci, Arabella malah merasa hatinya senang dan semangat. Dirinya pun tidak mengerti kenapa ia bisa merasakan hal seperti itu. Semua ingatan kebersamaan mereka yang sesaat itu membuatnya merasakan nyaman dan kehangatan di hati.


Akhirnya setelah pulang dari rumah sakit Arabella dan mamanya di bawa ke apartemen milik Aji yang baru di belinya. Karena memiliki bisnis bersama Hesa di kota itu Aji membeli apartemen untuk di gunakannya saat berkunjung.


Setelah semua urusan di sekolah dan kepindahan selesai. Suwoyo dan Aji memboyong Arabella dan mamanya ke kota pusat sore itu juga.


Tapi sebelum itu Arabella minta kepada sekretaris sang papa untuk mengarahkan mobil ke taman di mana ia pernah bersama Ilham.


Entah kenapa firasatnya mengatakan untuk peegi ke tempat itu dulu. Dan setibanya di sana ia melihat Ilham yang duduk termenung sendirian. Ingat akan apa yang di katakan papanya di rumah sakit. Arabella merogoh tas selempangnya dan mengambil sebuah cincin putih yang kebesaran untuknya.


Arabella membelinya saat sebelum mamanya di penjara dulu. Karena ingin memakai cincin seperti yang lainnya Arabella membeli satu cincin dengan harga murah, meski murah tapi untuk mendapatkannya gadis itu harus menyimpan uang jajannya lebih dulu.


Kini cincin itu di sematkannya di jari pemuda yang selalu ada untuknya belakangan ini. Meski terkadang merasa risih karena belum terbiasa terlalu dekat dengan laki-laki, gadis itu tidak bisa memungkiri perasaan nyaman di hatinya kala Ilham menunjukkan perhatiannya.


Gadis itu mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil kala melihat Ilham yang berlari mendekati mobil yang mulai melaju. Arabella duduk lagi seperti semula di samping mamanya.


"Tenanglah sayang, kalo memang jodoh pasti dia bakalan dateng untuk kamu" Dini mengelus kepala anak gadisnya yang menunduk.


Di belakang, Ilham melompat girang karena meski merasa hampa karena perpisahan ia mendapatkan sesuatu yang lainnya. Di tatapnya cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya.


Di ciumnya cincin itu dengan perasaan yang melambung tinggi. Semangatnya untuk semakin melangkah maju meningkat drastis. Tidak sabar untuk segera lulus sekolah dan menemui Arabella.


"Wuih ada yang lagi berflower flower di kayaknya" ucap Toni.


Teman-teman Ilham sudah sejak tadi berada di sana untuk memberi semangat pada teman mereka yang sedang galau. Tapi saat akan menghampiri Ilham, Doni melihat Arabella yang melangkah mendekati Ilham.


Jadi mereka berdiam diri dan memberi waktu pada kedua orang itu untuk saling berbicara.

__ADS_1


"Bakalan ada yang official nih" goda Diki memegang tangan Ilham yang ada cincinnya.


"Kamu di lamar sama si putri es itu Ham? di mana harga dirimu sebagai laki-laki?" ucap Gio ngengas.


"Ini bukan lamaran tapi dia nerima lamaranku" kata Ilham masih dengan senyuman yanh mengembang.


"Apa? jadi kamu beneran mau nikah muda Ham? wah gak bener nih!" seru Bagas kaget.


"Ini dia nih biang keroknya" tunjuk Roy pada Firman.


"Apa salah dan dosaku?" sangkal Firman dengan tampak polosnya.


"Gak usah sok polos kamu Man! kamu kan yang waktu itu ngasih saran Ilham untuk nikah muda" kata Boby yang membuat Firman garuk kepala.


"Ya itu kan cuma saran aja, salah Ilham nya juga kenapa di ikutin" ucap Firman membela diri.


"Tetep aja kamu yang mulai, mau jadi apa temen kita kalo sampe nikah muda" ucap Mono.


"Ya jadi enaklah kalo udah nikah" sahut Tino santai.


"Enak apanya?" Diki melihat Toni.


"Pengalaman banget ya Don yang begituan" seru Bagas.


"Gak usah munafik kita mah, udah sama-sama dewasa kalo masalah begituan masih pura-pura polos, sini ku polosin orangnya nanti" tantang Doni.


Ilham tidak menanggapi apapun yang di katakan teman-temannya. Ia menatap cincin putih di tangannya dengan senyuman yang merekah kala mengingat kalau perasaannya tidak sepihak.


"Beli cincin di mana Ham?" tanya Diki kala menyadari arah pandangan Ilham.


"Tumben pake cincin Ham, ini murah loh di pasar" seru Boby yang membuatnya di perhatikan yang lainnha.


"Kok kamu tahu cincin ini murah!" kata Mono.


"Namanya juga dia pedagangnya" seloroh Roy yang membuat mereka terkekeh bersama.

__ADS_1


"Enak aja kalo ngomong, aku pernah nemenim mamaku ke pasar minggu, gak sengaja ngelewatin penjual cincin beginian, harganya murah-murah" Boby menunjuk cincin di tangan Ilham.


"Kirain kamu penjualnya" kelakar Gio pula yang semakin membuat mereka terkekeh.


"Gak papa murah, nanti aku beliin dia yang mahal" mendengar ucapan Ilham itu membuat teman yang lainnya diam.


"Jangan bilang ini dari si putri es!" tebak Diki di angguki Ilham.


"Wah selamat-selamat, kalo gitu kamu harus jadi orang sukses Ham supaya bisa nikahin anak orang" seru Mono.


"Gak perlu sukses juga kan kalo mau nikahin anak orang" kata Doni.


"Ya walau gak sukses setidaknya punya pekerjaan tetap supaya punya jaminan anak orang gak kelaperan, trus punya rumah untuk tempat tinggal jadi anak orang yang di nikahi tahu mau di bawa tinggal ke mana, jadi laki-laki itu penuh tanggung jawab bro gak gampang kalo mau nikahin anak orang" ucap Toni yang malah mendapat jitakan dari teman-temannya.


"Wuih.. tumben bener ucapan kamu Ton, biasanya kaya menara Pisa" kata Doni


"Kok menara Pisa?" heran Firman.


"Mereng" Doni memiringkan tubuhnya layaknya menara Pisa.


"Tapi menara itu condong, bukan mereng" koreksi Firman.


"Tetep aja di penglihatan kita itu menara mereng" sanggah Doni tidak mau kalah.


"Udah lah mending kita pulang aja, kalo pembahasan terus di lanjutkan yang ada kita bakalan di sini sampe malem" seru Roy.


"Ya gak papa sih kalo sampe malem, malah kita bisa lihat bintang di langit" kata Gio.


"Malem itu banyak acong bekeliaran, apa lagi taman begini" ucap Bagas.


"Pengalaman ya Gas!" ujar Diki.


"Bukan pengalaman lagi kalo dia, dia tutornya para acong malah" mereka tertawa geli mendengar ucapan Roy.


"Acong apa sih yang kalian maksud?" tanya Toni.

__ADS_1


"Itu loh laki-laki yang begini" Doni menaikkan satu tangannya dengan gaya lentik yang membuat Toni bergidik melihatnya.


"Kok mirip ya" seru Boby yang membuat mereka semakin tertawa sembari berjalan menuju motor mereka.


__ADS_2