Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
24


__ADS_3

Preman yang kehabisan kesabaran karena Ilham tidak menuruti keinginan mereka pun marah. Salah satu dari keempatnya memegang tangan Ilham dengan kuat dan hendak menariknya turun.


Ilham melepaskan cengkraman preman itu hingga lepas dan sedikit mendorong si preman mundur.


..."Wah! punya nyali juga kamu untuk melawan ya" ucap preman itu pada Ilham....


Tidak perduli dengan apa yang di katakan preman itu. Ilham turun dari motornya dengan Arabella di gendongan belakang. Karena posisi duduk Arabella yang sama seperti Ilham memudahkan pemuda itu membawa turun Arabella yang masih ketakutan.


"Hey! kenapa di bawa turun tuh cewek? dia punya kami juga" ucap salah satu preman yang sejak tadi memperhatikan Arabella.


Tidak menghiraukan ucapan preman itu, Ilham berjongkok menurunkan Arabella dari gendongannya. Awalnya gadis itu menolak karena takut, tapi Ilham menyakinkan Arabella kalau mereka justru akan lebih dalam masalah lagi kalau gadis itu tetap tidak mau turun dari gendongannya.


Akhirnya dengan sangat terpaksa Arabella turum dari gendongan Ilham yang nyaman. Meski kedua kakinya terasa lemas dan gemetar, Arabella memaksakan kedua kakinya untuk bisa berdiri dengan baik dan melepaskan Ilham.


"Kasih kita tuh cewek, kamu pergi yang jauh kalo masih mau selamat" ucap preman itu, sedangkan yang dua sudah mulai melihat dan mengelus motir besar Ilham.


"Motor itu lebih berguna untuk kalian" kata Ilham masih dengan wajah datar dan pandangan tajamnya.


Preman yang sejak awal kekeh menginginkan Arabella juga berdecak kesal.


"Heh! anak ingusan! motor itu untuk di jual kalo dia untuk temen kita bersenang-senang, iya gak!" ucapnya melihat teman-temannya di belakangnya.


"Yo i, kamu pergi aja yang jauh sebelum kita habisi" kata temannya pada Ilham.


Arabella yang mendengar ucapan preman itu semakin gemetaran. Tangannya mencengkram kuat kaos yang di pakain Ilham. Matanya bergerak gelisah mengamati pergerakan preman dengan was-was.


"Dasar serakah" ejek Ilham yang semakin memancing kemarahan para preman itu.


"Lancang! hajar dia!" ucap preman yang berada di atas motor Ilham.


Preman yang berada di hadapan Ilham langsung melayangkan pukulannya ke arah Ilham. Dengan mudah Ilham menahan pukulan itu dan melawan dengan mudahnya walau masih kalah besar tubuhnya dari preman itu.


Walau tubuh Ilham kekar namun tubuh para preman itu lebih besar dan gempal. Hanya tinggi badannya saja yang lebih tinggi Ilham sedikit.


Arabella yang kaget dengan pukulan tiba-tiba dari preman itu sontak berteriak semakin ketakutan. Apa lagi melihat Ilham yang di keroyok dua orang preman membuatnya semakin merasa tubuhnya tidak terkendali lagi.

__ADS_1


Bayangan masa lalu berputar lagi di kepalanya hingga menimbulkan rasa sakit di kepalanya. Sakit yang tidak terkira, bayangan masa lalu dan beberapa tahun silam terus berputar bagai kaset rusak di ingatannya.


Sampai akhirnya tubuh Arabella lemas dan terjatuh di tanah tepat saat salah satu preman mendekatinya.


"Rabell!" kaget Ilham melihat tubuh Arabella yang tergeletak tak sadarkan diri.


Sedangkan ada satu preman yang semakin mendekatinya. Dengan fokus yang terbagi Ilham masih mencoba bertahan melawan dua preman.


"Wah wah wah gadis manis, kamu udah gak sabar ya mau bersenang-senang sama mas sampe tiduran duluan, jadi gadis baik yang nurut ya" ucap preman yang mendenati Arabella itu dengan senang karena tidak perlu mengalami penolakan dari gadis yang akan di tangkapnya.


Saat tangan preman itu akan menyentuh tubuh Arabella. Tubuhnya tiba-tiba terhempas dari hadapan Arabella karena tendangan Ilham yang cukup kuat membuatnya bergeser dengan tidak baik dari hadapan incarannya.


"Kurang ajar!" marahnya mencoba berdiri dari posisinya yang telungkup di tanah.


Setelah Ilham bisa melumpuhkan dua preman tadi, dengan cepat ia menendang preman yang mendekati Arabella. Ia tidak rela gadisnya di sentuh orang lain apa lagi preman mesum seperti itu.


Ilham mengangkat tubuh Arabella dan membawa gadis itu keluar dari gang. Preman yang di atas motor Ilham dan yang sempat di tendangnya segera mengejar. Sedangkan yang dua lagi berlari dengan tertatih-tatih karena sakit di kaki dan perut mereka yang sempat menjadi sasaran pukulan Ilham tadi.


Beruntung mereka tidak jauh dari jalan, namun maish tetap belum aman karena jalan sudah sepi karena tengah malam. Malam sabtu yang cukup sunyi untuk dekat akhir pekan.


Sedikit bernapas lega karena ternyata itu kedua kakak sepupunya. Yang membuat Ilham sangat khawatir saat ini bukan karena para preman itu masih mengejar. Tapi keadaan Arabella yang pingsan dan tubuhnya terasa sangat dingin.


Ardi dan Hesa langsung mendekati Ilham yang sedang menggendong Arabella di kedua lengannya. Dengan wajah heran sekaligus bingung mereka mendekat.


"Kenapa Ham? ada apa?" tanya Hesa setelah Ilham mendekat.


"Hey jangan lari!" teriak para preman itu semakin mendekat.


"Ayo kak cepat" ajak Ilham saat melihat kedua kakaknya melihat para preman itu mendekat.


"Siapa mereka itu?" tanya Ardi pula.


Tok


"Aduh!" Ardi mengaduh sakit kala kepalanya mendapat jitakan dari kakaknya. Pada hal jitakan itu pelan tapi memang dasar Ardi terlalu dramatis kalau ada apapun.

__ADS_1


"Itu preman! gak lihat apa tampang mereka yang galak itu" kata Hesa.


"Bunda juga galak kak, tapi bunda gak preman" ucap Ardi dengan santainya.


"Aaa aduh aduh aduh... sakit kak! jangan kdrt mentang-mentang lebih tua" ringis Ardi kala mendapat jeweran dari Hesa.


Bisa-bisanya adiknya itu bercanda di saat sedang genting seperti itu.


"Bukan saatnya kamu bercanda Ar!" sentak Hesa yang hanya di angguki Ardi dengan tampang tidak bersalah.


"Minggir! jangan sok jadi pahlawan" ucap preman itu kala sudah berada di hadapan Ardi dan Hesa.


"Kalian juga minggir! jangan jadi penjahat malam-malam" balas Ardi membuat Hesa melihat adiknya tidak habis pikir.


"Apa urusannya sama kamu? mau kami jadi penjahat malam-malam atau siang-siang itu urusan kami" kata preman itu.


"Apa urusannya juga sama kalian kalo kami mau jadi pahlawan? kami mau jadi pahlawan kesubuhan, mau apa kalian hah?" Hesa menepuk keningnya mendengar ucapan adiknya.


"Minggir atau kami habisi kalian berdua" sentak preman itu marah karena ucapan Ardi sejak tadi yang di rasa menantang dan mempermainkan mereka.


"Huwaaahhh, kalian kanibal ya?" kata Ardi dengan wajah kaget dan tidak percayanya.


"Kak! mereka kanibal bukan preman, kalo preman pasti kita mau di hajar bukan mau di habisi" pria itu melihat saudaranya di samping yang sudah memasang wajah pasrah dengan segala ucapan adiknya.


"Banyak omong! ayo habisin mereka" para preman itu maju hendak menyernag Ardi dan Hesa.


Tapi gerakan mereka terhenti kala ada beberapa sorot lampu yang mengarah pada mereka dari jarak yang semakin dekat.


Para preman itu menutupi wajah mereka karena silau cahaya lampu yang terang itu menyorot wajah mereka.


"Aduh! siapa sih yang hidupin lampu di depan muka orang? gak ada sopannya sama sekali" gerutu Ardi ikutan menutupi wajahnya dari sinar lampu.


Hesa semakin menghela napas melihat kekonyolan adiknya yang sangat tidak tepat waktu itu.


Dulu bunda ngidam apa ya waktu hamil nih anak? batin Hesa.

__ADS_1


__ADS_2