
Aji duduk di samping ranjang di mana sang mama berada, wanita yang masih terkihat cantik meski sudah tidak lagi muda.
Sebelum menemui mamanya, Aji sempat melihat adiknya yang juga belum sadar. Bahkan ada selang darah dan infus untuk membantu kehidupan adiknya. Aji juga sempat mengecek di belakang telinga Arabella sebelah kanan yangmemang terdapat tanda bulan sabit.
Bahkan suster yang ikut melakukan operasi sempat memberikan kalung dan gelang yang sangat di kenalinya sebagai milik kedua perempuan tercintanya yang sudah lama hilang.
Kini Aji semakin yakin seratus persen kalau mama dan adiknya memang sudah di temukannya. Bersyukur karena tadi dia mau di ajak mampir oleh Hesa setelah rapat nereka selesai. Entah hanya kebetulan atau memang sudah garis takdir dirinya akan kembali di pertemukan dengan mama dan adik yang sangat di rindukannya.
"Ma.. bangun ma! ini Aji, mama gak kangen sama Aji ma? Aji kanget banget sama mama, udah lama Aji nyariin mama sana adek Rabel tapi baru sekarang Tuhan mengijinkan kita ketemu, maafin Aji yang terlalu lama nemukan mama sama adek" ucapnya sedih menatap sang mama.
Aji menggenggam erat tangan mamanya penuh kehangatan. Di kecup pipi yang sudah mulai mengenduritu dengan kehangatan dan kasih sayang sampai air mata Aji menetes merasakan kebahagiaan tak terkira karena sudah bertemu mama dan adiknya.
Sedangkan di luar ruangan ICU ada Ilham dan teman-temannya yang maish setia menemani Ilham di sana. Sedangkan Hesa harus pergi karena ada keadaan mendesak.
Keempat teman Ilhampergi mencari makan malam untuk mereka. Yang tinggal di sana hanya tinggal Ilham, Doni, Toni, Roy, Gio dan firman. Sisanya pergi keluar menggunakan dua motor berboncengan.
"Ham!" panggil Gio membuat Ilham menatap temannya itu.
"Gimana rasanya ketemu sama calon kakak ipar? apa ada rasa deg-degannya? atau malah kamu grogi!" lanjutnya melihat Ilham ingin tahu.
"Biasa aja" sahut Ilham santai.
"Masa biasa sih Ham! gak serulah kalo cuma biasa, cari sesuatu yang luar biasa gitu" kata Doni yang tidak puas dengan jawaban Ilham.
"Trus gimana?" tanya Ilham mengalihkan pandangannya pada Doni.
"Ya misalnya nih kayak hati kamu bergetar bak sedang berhadapan dengan musuh di medan perang a...."
"Kakak tadi itu orang bukan musuh" sela Toni membuat Doni melihatnya.
"Yang bilang kakak tadi kucing itu siapa? gak ada kan!" kata Doni.
"Ada" ujar Toni.
"Siapa?" tanya Doni.
"Ya kamu tadi yang ngomong, barusan lagi" sahut Gio.
__ADS_1
Doni berdecak kesal karena merasa di serang oleh kedua temannya.
"Musuh memangnya bukan orang hah!" ucapnya.
"Gak semua musuh itu orang, ada juga yang musuhan sama binatang, sama benda mati, sama temen sendiri, ada lagi musuh di dalem selimut kan hebat itu dia, musuh aja di masukin ke dalem selimut dia cuma pakek sarung aja" kata Toni.
"Kamu itu musuh di karungin" kesal Doni.
"Kucing garong dong dalem karung" sahut Gio.
"Kalo aku mah bukan kucing garong tapi kucing persia yang mahal" kata Toni.
"Kalo kucing persianya kayak kamu mana ada yang mau beli, ilfiel duluan yang ada pembelinya baru lihat doang" ejek Doni.
"Mana ada begitu, aku ini kalo jadi kucing ya kucing yang paling di minati sama orang" bangga Toni.
"Lebih tepatnya di minati tante-tante" kekeh Gio mengejek Toni yang mendengus karena dirinya kena balas omongan.
Ilham dan Firman yang mendengar percakapan ketiga teman mereka yang rada gesrek itu hanya diam jadi pendengar. Bagaimana lagi, ketiga orang itu sudah menjadi hiburan tersendiri bagi mereka yang di tinggal bersama mereka.
Selama ketiganya tidak melewati batas dalam bercanda dan berbicara maka biarkan saja.
Hanya Aji yang sempat masuk sebentar ke dalam, itupun karena ingin memastikan sesuatu yang lebih meyakinkan setelah mendapatkan kalung dan gelang dari suster yang katanya milik Arabella dan mamanya.
Ku harap kamu segera bangun Rabel, lihatlah! mama kamu udah dateng, begitupun keluarga kamu yang lain. Sekarang kamu udah gak akan kesepian lagi karena udah ada mereka. Hahhh... entah nanti kita masih bisa ketemu lagi atau gak setelah ini. Karena aku yakin kalo papa sama kakak kamu pasti bakalan bawa kamu pergi.
Ilham menghela napas panjang, bagaimana pun dia tidak akan kuasa menahan kepergian gadis itu kalau nanti papanya datang dan membawanya pergi.
Mereka keluarganya sedangkan dirinya bukan siapa-siapa. Bahkan gadis itu masih bersikap cukup dingin padanya.
Firman yang mengerti kegundahan hati Ilham mendekat dan menepuk pundak Ilham untuk memberi dukungan dan semangat.
"Apa kamu takut dia pergi?" tanya Firman.
"Entahlah, rasanya gak mau kehilangan tapi gak bisa mencegah langkahnya kalo nanti dia pergi" ucap Ilham mengutarakan apa yang ada di hatinya karena memang sudah tidak tertahan lagi perasaan gundah itu.
"Mau denger saran ku gak!" Ilham melihat Firman di sampingnya.
__ADS_1
"Apa?" tanyanya.
"Nikahi" sahut Firman santai.
"Aaauuwwww" teriak Firman spontan kala telinganya di tarik cukup kuat oleh Doni.
"Ssttt.. ini rumah sakit bukan hutan" sentak Gio.
"Apa-apaan sih kalian? sakit Don!" keluh Firman.
"Kamu itu yang apa-apaan, masa temennya di suruh nikah muda" kata Toni menatap intimidasi pada Firman yang sekarang jadi tersangka.
"Itu kan cuma saran supaya Ilham gak pisah sama gebetannya" sangkal Firman membela diri.
"Kamu mau gak masuk jurang?" tanya Toni.
"Sadis amat sih Ton" kata Firman.
"Itukan cuma penawaran" kata Gio.
Firman menghela napas panjang karena kini dirinya menjadi target sidang kesalahan dari teman-temannya yang biasanya selalu gesrek.
Ilham melihat ke dalam lagi di mana Arabella masih terbaring di sana. Bukan tidak perduli dengan apa yang di lakukan teman-temannya tapi Ilham memikirkan sesuatu.
Tentang banyak hal tentunya, juga apa yang di katakan Firman tadi. Apakah mereka harus menikah muda? apa hanya itu jalan satu-satu agar mereka bisa tetap bersama? tapi kalaupun memang menikah muda cara satu-satunya apa Arabella akan mau menikah muda dengannya? pikir Ilham.
Di saat di depan ruang ICU sedang terjadi aksi sidang yang dilakukan oleh Gio, Doni dan Tino. Lain pula dengan yang terjadi di lift, di mana Ardi yang datang dengan membawa paper bag berisi makanan dari bundanya untuk Ilham.
Saat pintu akan tertutup tadi tiba-tiba ada tangan yang putih menjulur masuk menahan hingga pintu lift kembali terbuka. Masuklah Dokter perempuan muda yang pernah satu lift dengannya waktu itu.
Dia dokter yang waktu itukan ya batin Ardi kala orang yang di maksud sudah berdiri di dekatnya meski berjarak.
"Apa ada yang salah tuan?" tanya Dokter perempuan itu.
"Akh entah siapa yang salah? ku tak tahu!" sahut Ardi cepat karena kaget dengan perempuan itu yang tiba-tiba bersuara.
Dokter perempuan itu hanya mengangkat bahunya acuh dan kembali melihat ke depan.
__ADS_1
Untung tadi yang keluar gak ada yang salah! bisa malu berturun-turun kalo salah batin Ardi.