Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
28


__ADS_3

Malam itu keempat pria itu memutuskan untuk pulang besok pagi. Hari yang semakin malam tidak memungkinkan mereka untuk melakukan perjalanan pulang.


Meski bisa saja sebenarnya, tapi keadaan yang sudah mengantuklah yang tidak memungkinkan. Lebih baik istirahat saja di sana menunggukan besok pagi-pagi sekali baru mereka akan pulang.


Gio dan Ardi tidur di lantai yang beralaskan selimut tebal yang tadi sempat di pinjam Hesa pada pihak rumah sakit. Sedangkan Ilham tidur dengan posisi duduk di dekat tempat tidur Arabella.


Keheningan malam itu di isi oleh dengkuran dari Gio dan Ardi yang saling bersautan. Meski tidak kuat namun cukup terdengar jelas di malam itu.


Hesa mendekati ranjang di mana Arabella yang terbaring koma. Mengarahkan ponselnya pada wajah Arabella yang terpasangi alat bantu napas yang menutupi sebagian wajahnya tapi masih dapat mengenali gadis itu.


Setelah melakukan itu Hesa duduk di sofa panjang yang ada di sana. Mengirim pesan pada seseorang hingga beberapa kali lalu mengakhirinya dan bebaring tidur.


------


Keesokan paginya....


Gio membuka matanya yang masih terasa berat kala merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Belum lagi suara yang satu nada di telinganya terasa mengganggu bagai alaram rusak.


Matanya terpejam dalam kala merasa masih perih saat membukanya tadi. Setelahnya barulah ia bisa membuka sempurna kedua matanya.


Hhuuuaaaaa


Teriakan heboh Gio itu mengagetkan yang lainnya. Hesa sampai terjatuh dari sofa, sedangkan Ilham langsung bangkit dari posisinya hingga kursi yang di duduki terjatuh dengan suara yang cukup keras.


Ardi sendiri yang berada di hadapan Gio langsung berdiri dengan lebih kagetnya. Melihat ke sana sini dengan paniknya.


"Apa? kenapa? siapa?" ucapnya dengan suara yang cukup keras.


Mereka sama-sama terdiam dan saling pandang satu sama lain mencari tahu apa yang terjadi. Bahkan Gio si sumber awal keributan pun tak luput dari kebingungan atas apa yang sudah terjadi di sana.


"Kenapa kalian teriak-teriak?" tanya Hesa tegas setelah merasa tidak ada apa-apa dan pandangannya sudah pulih.


"Maaf kak! tadi aku kaget" sahut Gio garuk kepala merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan tadi, tapi apa boleh buat dia sendiripun tadi kaget.


Dengan posisi dirinya yang tidur telentang memeluk erat lengan Ardi, satu kakinya naik di salah satu kaki Ardi sedangkan kepalanya menghadap ke sofa. Sementara Ardi posisinya satu kaki di atas perut Gio dan satu tangannya di dada yang di peluk Gio. Wajahnya di dekat telinga Gio hingga dengkurannya dapat terdengar jelas di telinga Gio.


Satu kaki Ardi di timpa stau kaki Gio namun ia tidak merasakan apa-apa akan posisi itu.


Ilham memijat keningnya yang berdenyut akibat bangun tiba-tiba. Belum lagi nyawanya yang terasa masih melayang entah kemana dan belum berkumpul sepenuhnya.


Pemuda itu hendak duduk tapi tertahan karena kursinya terjatuh, setelah membenarkan posisi kursi iti barulah Ilham duduk. Menatap Arabella yang masih dengan kondisi sama seperti tadi malam.

__ADS_1


"Kamu pulang aja Gio, udah jam lima tiga puluh nanti kamu kesiangan ke sekolahnya kalo nunggu terang baru pulang" ucap Hesa setelah ia melihat jam di tangannya.


"Iya kak" sahutnya berjalan mendekati Ilham setelah mengambil kunci motor di meja samping sofa.


"Aku duluan ya Ham, ku harap kamu dateng ke sekolah nanti" lanjutnya seraya menepuk dua kali pundak Ilham.


Ilham hanya mengangguk saja tanpa berpikir macam-macam lagi.


"Hati-hati" ucapnya di jawab angkatan jempol oleh Gio.


Setelah kepergia Gio tinggalah tiga bersaudara iyu di sana.


Ilham berdiri dari duduknya dan masuk kamar mandi untuk cuci wajah. Setelahnya bergantian dengan Hesa yang sudah tidak bisa tidur lagi setelah kejadian tadi.


Sementara Ardi malah mengambil posisi nyaman di sofa panjang dan kembali memejamkan mata tanpa kesulitan sama sekali.


"Heh bangun!" ucap Hesa membangunka Ardi setelah keluar dari kamar mandi dan mendapati adiknya kembali tidur.


"Bangun Di bangun! pulang sana"


"Apa sih kak?" gumam Ardi tanpa membuka matanya.


"Bangun! tadi malam bunda bilang kamu harus cepet pulang pagi ini" kata Hesa.


"Cepet Di!"


"Lima menit lagi" gumam Ardi meringkuk di sofa.


"Ck! payah memang kalo kebo udah tidur, dia yang bangunin orang sama keributannya dia juga yang tidur lagi" gerutu Hesa geleng kepala.


"Kakak udah kasih tahu bibi?" tanya Ilham.


"Udah, nanti bunda ke sini bawa seragam kamu" Ilham hanya menganggu lalu melihat Arabella lagi.


Pandangan Ilham sendu menatap gadis itu, entah kapan mata itu akan terbuka. Bahkan Ilham belum pernah melihat senyumannya walau sedikit.


"Apa dia si Arabella gebetan kamu itu Ham?" tanya Hesa sembari melipat selimut yang tadi di gunakan Ardi dan Gio untuk tidur.


"Iya" sahut Ilham singkat.


"Nama lengkapnya siapa?" Ilham geleng kepala membuat kening Hesa mengkerut.

__ADS_1


"Kok bisa!" kagetnya


Bagaimana mungkin bisa adik sepupunya itu tidak tahu nama lengkap gebetannya. Biasanya kalau orang hendak mendekati seseorang pasti yang akan di tanya lebih dulu nama panggilan lalu nama lengkap baru lainnya.


Tapi ini memang aneh, Ilham ternyata masih si cuek yang bahkan tidak tahu nama lengkap gebetannya.


Kalo nama lengkapnya aja gak tahu gimana mau tahu sama keluarganya batin Hesa geleng kepala dan menghela napas.


Pukul enam pagi Haru dan Jodi sampai di rumah sakit dan masuk ke dalam ruangan yang sudah di beri tahu Hesa tadi malam.


Jodi membawa tas sekolah Ilham dan sebuah paper bag berisi sepatu dan pakian sekolah. Sedangkan Haru membawa sebuah rantang berisi makanan untuk anak-anaknya sarapan pagi ini.


Apa lagi Jodi sendiri yang juga belum sarapan karena tidak ingin sarapan sendirian.


Setelah mengetok pintu dan di buka oleh Hesa, keduanya masuk ke dalam dan melihat Ilham yang masih setia memandang seorang gadis yang sedang terbaring lemah dengan mata tertutup.


"Udah mandi Ham?" tanya Haru mendekati keponakannya dan memegang pundaknya.


"Belum bi" sahut Ilham.


"Ya udah sana mandi ini seragam sama sepatunya di dalem situ" tunjuk Haru pada paper bag yang di letakkan Jodi di meja dekat sofa.


Jodi mendekati ranjang rumah sakit kala Ilham masuk ke kamar mandi. Mata tua itu menyipit untuk memastika apa yang di lihatnya itu.


"Loh! bukannya dia yang sering ke lapas" kaget Jodi kala ia sudah yakin dengan apa yang di lihatnya.


"Ayah kenal sama dia?" tanya Haru kaget.


Padahal tadi dirinya memandang sendu dan penasaran gadis yang membuat ketiga anaknya tidak pulang semalaman itu.


"Iya bun, dia anak salah satu napi wanita di lapas yanh waktu itu pernah ayah bilang ada perempuan yang bunuh suaminya karena mau lecehkan anak gadisnya" jelas Jodi.


"Ah iya bunda inget! jadi dia anaknya yah?" Haru melihat kasihan Arabella.


"Iya, dia sering dateng nemuin ibunya bawa makanan setiap siang"


"Dia yang namanya Arabella yah, gebetannya Ilham" ujar Hesa di sela kegiatannya membuka bekal dari sang bunda.


"Oh ya! wah kalo gitu Ilham harus bunda kasih peringatan keras nih!" kata Haru dengan satu tangan yang di kepalkan dan di pukulkan pelan di telapak tangan satunya.


"Peringatan apa bun?" tanya Jodi penasaran begitupun juga Hesa.

__ADS_1


"Peringatan supaya dia gak nyakitin gadis malang ini atau bunda bakalan kasih dia pelajaran setimpal nanti" sahut Haru.


Jodi dan Hesa langsung menatap horor Haru yang sangat perasan dengan hal-hal kecil yang berhubungan dengan sebuah perasaan dan hubungan.


__ADS_2