
"Diem atau kakak jahit mulut kamu!" ancam Hesa yang sudah pusing dengan segala tingkah adiknya.
Dengan cepat Ardi menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Takut jika kakaknya akan benar-benar menjahit mulutnya.
Hesa kembali menatap teman-teman Ilham yang sedang berhadapan dengan para preman. Bertepatan dengan itu pula terdengar suara seperti orang kesakitan.
Mata Hesa dan Ardi melotot kala melihat Roy menusuk Gio dari samping. Sedangkan wajah Gio terlihat seperti kaget. Pandangan Hesa melihat sekitar mencari di mana para preman tadi, dan tidak mendapati di mana pun.
Hanya tingga teman-teman Ilham saja yang malah terlihat santai dengan apa yang di lakukan Roy dan Gio.
Tadi para preman itu lari saat Roy mengeluarkan pisau kecil dan pistol dari kantong kresek yang di bawanya. Itulah yang membuat para preman ketakutan hingga pucat dan ambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri.
Setelah para preman itu pergi, Roy malah mengarahkan pisau kecil di tangannya pada Gio yang ada di sampingnya dan menusukkannya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Hesa khawatir kalau Gio di tusuk oleh preman dan Roy akan mencabut pisaunya.
"Jangan di cabut nanti bahaya" lanjutnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, apa yang di lihatnya itulah yang di katakannya.
Teman-teman Ilham saling pandang lalu melihat kedua kakak sepupu Ilham dengan terkekeh.
"Kenapa kalian ketawa? apa yang lucu?" tanya Hesa heran.
"Maaf kak tapi ini pisau sama pistol mainan" ucap Roy menunjukkan kalau benda di tangannya memang mainan.
Bahkan mata pisaunya bisa keluar masuk dari pegangannya, apa lagi pisau itu kecil. Dan pistolnya adalah pistol air yang memang bentuknya seperti pistol sungguhan.
Roy tertawa kecil kala menunjukkan apa yang di pegangnya.
"Darimana kami dapet itu? kamu masih main itu Roy?" tanya Ardi buka suara.
"Tadi sore aku janji mau beliin mainan untuk keponakan ku kak, jadi tadi sebelum ketemu yang lain sempat ke toko mainan dulu beli ini" sahut Roy seraya memainkan pisau mainannya dengan menusuk-nusukkannya ke perutnya sendiri yang tentunya tidak akan terluka.
Karena mata pisaunya masuk ke dalam pegangan. Begitulah mainan itu bekerja tapi mampu menakuti preman hingga kabur.
Hesa menghela napas panjang seraya geleng kepala.
"Ya udah, makasih ya udah mau tolongin kita" ucapnya.
"Sama-sama kak" sahut Firman.
Doni muncul dari gang yang tidak jauh dari halte itu dengan menaiki motor Ilham.
__ADS_1
"Itu motornya Ilham kan!" ucap Toni di angguki Doni.
"Iya, tadi aku gak sengaja lihat di dalem gang gak jauh lah jadi ku ambil aja" sahut Doni.
Hesa tidak menanggapi ucapan teman teman adik sepupunya. Dirinya meraih ponsel dan menelpon Ilham untuk tahu kemana pemuda itu pergi membawa gadis tadi bersamanya.
"Dimana?" tanya Hesa setelah sambungan terhubung.
.....
"Kakak ke sana sekarang, kamu tunggu di situ aja jangan kemana-mana paham!" tegas Hesa.
"Nanti kakak yang kasih tahu bunda sama ayah, kamu jagain dia di sana sampe kakak dateng"
Sambungan terputus, Hesa melihat teman-teman Ilham yang ternyata melihatnya dengan raut identik penasaran.
"Kalian pulang aja udah larut malam, besok harus sekolah juga" ucap Hesa.
"Trus Ilham sama Gio gimana kak?" tanya Bagas.
"Biar kakak yang ke sana, kalian pulang aja nanti di cariin orang tua kalian, Gio nanti kakak suruh pulang juga" sahut Hesa lagi.
Akhirnya semua teman Ilham yang masih ada di sana pergi pulang walau masih merasa penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi. Tapi benar juga kata Hesa kalau mereka harus pulang karena besok harus sekolah dan orang tua mereka juga belum tahu.
Sesampainya di parkiran kedua pria itu langsung pergi masuk ke dalam. Menaiki lift untuk ke lantai dua, di dalam ada seorang Dokkter wanita yang juga akan naik ke lantai atas.
Ardi yang sudah mulai mengantuk nampak kembali segar saat melihat ibu Dokter itu.
"Malam bu Dokter" sapa Ardi ramah dengan senyuman menawannya.
"Malam" sahut Dokter itu ramah pula tersenyum tipis.
"Sendiri aja Dok?" tanya Ardi.
"Gak bertiga" sahut Dokter itu mmebuat Ardi sedikit heran.
Sedangkan Hesa tidak perduli dengan apa yang di lakukan Ardi selama tingkah konyolnya tidak kambuh.
"Bertiga? tapi Dokter sendirian!" ucap Ardi.
"Kalian berdua di tambah saya, kan jadi tiga" Ardi tersenyum kikuk mendengar jawaban sarkas bu Dokter cantik itu.
__ADS_1
Baru kali ini ada yang bisa membuat Ardi tidak berkutik dengan pertanyaannya.
"Tapi maksud saya itu bukan itu bu Dokter cantik, yang saya maksud itu bu Dokter sendirian aja di sini" ucap Ardi mencoba menjelaskan maksudnya.
"Gak! saya di sini sama kalian, apa kalian bukan manusia sampe kamu tanya gitu?" Dokter muda itu melihat Ardi heran. Pertanyaan aneh pikirnya.
Sedangkan Ardi menggaruk kepalanya yang tidka gatal. Di tambah cengirannya yang sangat nampak garing. Ardi melihat kakaknya yang nampak tidak perduli dengan dirinya yang merasa malu.
Sedangkan Dokter itu keluar dari lift sembari geleng kepala melihat Ardi yang salah tingkah.
"Kakak kok diem aja sih lihat adeknya di permalukan, untung tuh cewek cantik" kata Ardi sembari berjalan mengikuti langkah kakaknya yang entah akan menuju kemana arahnya.
"Bukan di permalukan tapi kamu malu-maluin tahu! untung adek kalo gak udah kakak gadaikan kamu karena terlalu malu-maluin" katus Hesa.
"Ish.. tega amat sih kak sama adek sendiri" gerutu Ardi yang tidak mendapat respon apapun dari Hesa.
Hesa malah berhenti di depan salah satu pintu VIP rumah sakit lalu mengetuknya.
"Kok di ketuk kak? memangnya ruangannya yang mana?" tanya Ardi penasaran.
"Menurut Ilham sih yang ini" jawab Hesa.
"Kalo yang ini kenapa harus di ketuk? langsung masuk aja" Ardi akan memegang pegangan pintu sebelum pintu terbuka lebih dulu.
"Kakak udah sampe!" ucap Gio di angguki Hesa.
"Masuk kak" ajak Gio berjalan masuk lebih dulu.
Hesa melihat adiknya yang akan masuk tapi di tahan sebentar.
"Biasakan ketuk pintu dulu sebelum masuk karena kita gak tahu siapa yang ada di dalem sekaligus menjaga kesopanan, paham!" tegas Hesa di angguki Ardi.
Setelahnya barulah mereka masuk bersama dan melihat Ilham yang sedang menatap seorang gadis yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.
"Gimana Ham?" tanya Hesa.
Ilham yang sedang menatap Arabella dengan intens di buat kaget dengan pertanyaan Hesa. Di lihatnya kedua kakak sepupunya sudah berada di dalam ruangan itu.
"Kenapa dia?" tanya Ardi pula ikut penasaran.
Ilham tidak langsung menjawab, hanya menghela napas panjang lalu mengalihkan pandangannya pada Arabella yang terbaring dengan wajah pucat dan tubuh yang dingin.
__ADS_1
Hesa yang belum pernah melihat langsung wajah Arabella mengarahkan pandangannya pada gadis yang terbaring itu. Seketika matanya melotot kala sebentar lalu menyipit seolah sedang mengingat dan berlikir tentang apa yang ada di depan matanya.
Wajah yang familiar, tapi di mana aku pernah lihat ya batin Hesa masih terus mencoba mengingat.