
Ilham menatap serius Ardi yang sedang menggantung ucapannya.
"Di kafe sepertinya" ucap Ardi acuh.
Pemuda yang merupakan pebisnis muda di bidang makanan itu terkekeh pelan kala mendapati wajah tidak yakin dari Ilham. Bukan pekara mudah menipu adik sepupunya itu.
Bahkan raut wajahnya nampak sangat ragu akan ucapannya. Pada hal sebenarnya Ardi memang bercanda, dirinya yang sangat jarang datang ke kafe tidak tahu siapa saja nama karyawan di kafe sederhana miliknya.
Hanya manager saja yang di kenalnya selebihnya tidak ada karena dirinya yang lebih sering pergi memantau keadaan restorannya yang lebih mewah. Kalau kafe sederhana milik Ardi selalu stabil tanpa ada masalah sejak dulu di miliki Ardi sebagai usaha pertamanya.
Jadi pria itu sangat jarang datang kesana dan laporan mengenai perkembangannya pun di antarkan langsung oleh manager kafe itu.
"Gak percaya ya udah" Ardi beranjak dari duduknya untuk pergi agar tidak semakin di tatap serius oleh Ilham yang malah nantinya akan membuatnya tidak bisa menahan tawanya.
"Kapan kakak mau kesana?" tanya Ilham menghentikan langkah Ardi.
Hehehe
Pria itu tersenyum karena langkahnya mengerjai Ilham akan berhasil.
"Gak tahu, kakak gak pernah ke sana bulan ini" acuh Ardi berjalan menuju ruang keluarga di ikuti Ilham yang masih ingin bertanya.
"Kenapa kakak gak kesana?" Ilham duduk di samping Ardi namun masih berjarak.
"Gak ada yang penting" sahut Ardi sok sibuk dengan tv di hadapannya yang baru di nyalakan.
"Trus kapan kakak mau kesana?" Ardi menatap Ilham serius.
"Kenapa kamu kayak yang pengen banget ke sana? apa ada sesuatu?" Ardi menaik turunkan kedua alisnya menggoda.
"Gak ada, cuma nanya" ucap Ilham acuh lagi melihat tv di depannya juga.
Mata Ardi memicing menatap curiga pemuda di sampingnya.
"Jangan-jangan yang di bilang bunda tadi bener lagi!"
Ilham melihat ke samping.
"Yang mana?"
"Kamu punya pacar namanya Arabella, bener gak! hah! bener gak!" goda Ardi.
Ilham menghela napas.
"Gak ada yang mau sama aku kak"
__ADS_1
"Cih! itu salah satu trik untuk memikat perempuan polos tahu!"
Ilham mengangkat kedua bahunya acuh.
"Kasih tahu kakak gimana parasnya cewek yang bisa bikin kamu kayak gini" ucap ardi ingin tahu perempuan bagaimana yang bisa membuat si acuh penasaran.
"Gak ada" acuh Ilham.
"Jangan bohong"
"Siapa yang bohong?" tanya paman Jodi yang baru saja pulang bekerja.
"Eh ayah, ini yah Ilham gak mau ngaku kalo udah punya cewek" kata Ardi mendapatkan pelototan dari Ilham.
Pamannya itu pasti akan bertanya banyak hal padanya dan yang pasti pria di depannya ini tidak akan berhenti sampai dirinya jujur.
Pria itu duduk di sofa tunggal melihat keponakannya yang nampak sangat acuh itu. Dirinya tentu saja tahu apa yang di rasakan keponakannya.
Merasa kurang perhatian dari kedua orang tuanya yang sibuk bekerja. Walaupun kedua orang tuanya masih selalu menelpon untuk menanyakan kabarnya. Bagi Ilham itu tidak penting tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sejak kecil walau tinggal satu atap dengan orang tua, Ilham jarang berkumpul dengan kedua orang tuanya karena kesibukan. Meski selalu pulang kerumah untuk bertemu Ilham dan menyempatkan diri membelai sayang putra tunggal mereka. Namun tetap saja Ilham merasakan kasih sayang yang kurang.
Itulah yang menyebabkan Ilham sangat acuh bahkan pada orang tuanya. Setiap kedua orang tuanya menelpon pemuda itu hanya diam dan berbicara seperlunya saja. Apa lagi sekarang kedua orang tuanya sednag berada di luar negeri. Awalnya Ilham di ajak untuk ikut namun menolak dan malah memilih untuk ke rumah pamannya saja dan melanjutkan sekolah di sana.
Ilham diam belum menjawab, dirinya juga bingung harus mengatakan apa karena dia juga tidak tahu harus bagaimana memberi jawaban pada pamannya.
"Apa dia cantik?" tanya Jodi.
"Iya, cantik dan misterius" jawab Ilham tanpa sadar.
Kedua matanya melotot kala menyadari apa yang baru saja di ucapkannya.
"Wah akhirnya ada pengakuan juga, jadi yang namanya Arabella itu cantik dan misterius ya! apa misteriusnya itu yang bikin kamu penasaran" ucap Ardi semangat.
"Apa sih kak" elak Ilham.
"Jujur aja nak, apa yang kamu rasakan sekarang?" ucap paman Jodi membuat Ilham menunduk.
Memang pamannya ini selalu bisa membuatnya berkata jujur, apa lagi cara pamannya bertanya yang santai bagaikan seorang teman.
"Aku gak tahu paman, cuma penasaran aja sama dia" ucap Ilham akhirnya.
"Penasaran gimana?" tanya pamannya penasaran juga.
"Dia itu beda sama yang lain, pendiem, dingin, gak ada ekspresi apapun di wajahnya, bahkan sewaktu Toni gak sengaja hampir nabrak dia pun gak minta ganti rugi, bahkan gitu sadar langsung lari secepat kilat pergi entah kemana" jelas Ilham.
__ADS_1
"Tadipun aku sempat lihat dia kayaknya di jalan, tapi karena lampu merah jadi gak kekejar, pas di kejar malah udah gak ketemu" lanjutnya.
"Memangnya dia kemana?" tanya Ardi ikut penasaran.
"Entahlah, kata Diki jalan yang kami datangi itu jalan ke lapas"
"Jalan kelapas! memangnya ada perempuan yang dateng ke sana tadi yah?" tanya ardi melihat ayahnya.
Jodi memang kepala penjaga lapas yang sebentar lagi akan pensiun. Dirinya ingin menghabiskan masa tuanya bersama istri itu sebabnya Jodi ingin mengambil pensiun dini.
"Banyak perempuan yang datang ke lapas, perempuan yang mana?" ucap Jodi bertanya balik.
"Ciri-cirinya gimana Ham?" Jodi melihat Ilham yang menatapnya.
"Kalo gak salah tadi dia pakek baju warna hitam lengan panjang sama celana jeans hitam panjang juga, rambutnya sebahu lebih sedikit" jelas Ilham.
Jodi sedikit berpikir.
"Memang sering ada perenpuan yang datang ke lapas untuk lihat mamanya yang di penjara, tapi hari ini paman gak keluar kantor sih karena harus siapkan berkas terakhir" ucap Jodi.
"Perempuan yang sering dateng itu namanya siapa paman?" tanya Ilham.
"Ya gak tahu lah paman siapa namanya, memang orangnya cantik sih, dia sering datang bawa makanan untuk mamanya"
"Mamanya di penjara kenapa yah?" tanya Ardi juga.
"Bunuh suaminya"
"Hah! kok bisa?" kaget Ilham dan Ardi barengan.
"Menurut laporan dia bunuh suaminya karena mau lecehkan anak gadisnya yang merupakan anak tiri korban" jawab Jodi.
"Maksudnya yang di bunuh perempuan suami keduanya? trus yang mau di perkosa anak tiri korban?" ucap Ardi menyimpulkan ucapan ayahnya agar lebih di pahaminya.
"Iya, katanya lebih baik kehilangan suami dari pada masa depan anaknya hancur" kata Jodi.
"Meskipun dia harus di penjara!" Jodi mengangguk sebagai jawaban dari ucapan Ilham.
"Seorang ibu bisa melakukan apapun untuk melindungi anak-anaknya, apa lagi dari pria bejat kaya gitu, seandainya kalianpun berbuat hal kotor kaya gitu bunda gak akan segan-segan untuk habisi masa depan kalian itu" ucap Haru yang tiba-tiba muncul di samping suaminya.
"Astaga bunda! sadis banget" ucap Hesa putra pertama Jodi yang baru pulang.
"Ya itu harus, orang yang udah hancurin masa depan orang lain masa depannya juga harus di hancurin juga biar tahu rasanya gak punya masa depan, jadi impas" ucap Haru lalu pergi.
Keempat pria di ruang keluarga itu bergidik ngeri melihat Haru yang bisa bersikap ganas kalau ada yang melakukan kesalahan.
__ADS_1