Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
23


__ADS_3

Hari semakin malam dan sudah waktunya bagi kafe untuk tutup. Pekerja bagian dapur sudah selesai membersihkan alat kerja mereka langsung keluar dari dapur dan hendak pulang.


Arabella berjalan keluar kafe dari pintu belakang seperti biasanya. Ilham yang melihat itupun langsung mengikuti langkahnya.


Dan ketika Arabella hendak pergi ke arah halte, Ilham menahan tangan gadis itu yang malah mendapat penolakan dengam keras.


Bagaimana tidak di tolak pegangan Ilham kalau tiba-tiba menyentuh, sedangkan gadis itu tidak menyadari keberadaan Ilham di belakangnya. Jadi repleks saja tangan Arabella melepaskan pegangan tangan Ilham dengan kasar.


"Maaf" ucap Ilham yang merasa bersalah sudah mengagetkan gadis itu. Apa lagi Arabella menatap tajam padanya.


Tanpa memperdulikan Ilham, gadis itu berjalan lagi tapi mendapat cegahan lagi dari Ilham.


"Kenapa?" tanya Arabella dengan wajah malasnya.


Bagaimanapun dirinya belum punya uang untuk membayar roti yang ada di tasnya kalau Ilham menangih, itulah yang saat ini ada di pikiran Arabella.


"Ayo ku antar" tawar Ilham menarik gadis itu begitu saja.


Mata Arabella melotot tidak percaya dirinya akan di antar pulang oleh Ilham. Nanti dia minta bayar ongkosnya lagi pikir Arabella. Entah kenapa gadis itu selalu berpikir negatif tentang suatu hal. Perasaannya selalu waspada dan kurang baik dengan niat baik seseorang, selalu merasa kalau akan ada sesuatu di balik niat baik itu.


"Gak! aku naik bus" tolak Arabella menarik tangannya dari pegangan Ilham.


"Gak baik perempuan pulang malem sendirian, apa lagi ini udah hampir tengah malam" ucap Ilham kembali menahan tangan Arabella yang tadi sempat terlepas.


Mata Arabella menatap tajam Ilham penuh curiga.


"Gak! aku mau pulang sendiri aja" tolak Arabella lagi hendak menarik tangannya tapi tidak bisa karena Ilham menggenggam kuat tangannya meski tidak sampai menyakiti.


"Biar aku antar kamu, jadi uang ongkos itu bisa untuk besok lagi" ucap Ilham mencoba membujuk.


"Gak!" semakin keras Arabella berusaha menarik tangannya.


Malam yang semakin larut membuat Ilham tidak punya pilihan lain. Dengan cepat ia mengangkat tubuh Arabella di pundaknya dan menurunkan gadis itu di atas motornya yang hanya dua langkah lagi dari tempat mereka berdiri tadi.


"Apa yang kamu lakukan?" kaget Arabella karena tubuhnya melayang dan tiba-tiba duduk di atas motor.


Sadar dirinya ada di atas motor yang tinggi itu membuat Arabella memegang pundak Ilham cukup kuat untuk pegangan karena takut jatuh.


"Tu turunkan aku" pinta Arabella gugup.


"Tenanglah! aku gak akan berbuat macam-macam sama kamu" ucap Ilham yang menyadari kenapa gadis di depannya tidak mau di antar pulang.

__ADS_1


Ada ketakutan yang tidak bisa di jelaskan dari ekspresi wajahnya kala Ilham memaksa akan mengantarnya pulang.


"Gimana aku bisa tahu kamu gak akan macam-macam?" lirih Arabella menundukkan pandangannya.


"Hey! lihat aku! aku serius, gak akan aku macam-macam sama kamu percayalah" ucap Ilham lembut mengangkat wajah Arabella dengan tangannya hingga wajah mereka saling berhadapan dan mata mereka saling tatap.


Arabella melihat ketulusan yang sangat dalam dari mata pemuda di depannya. Tidak ada keraguan atau maksud lain yang dapat membuat hatinya ragu. Malah sebaliknya, pandangan Ilham saakan menyaratkan bahwa ia akan selalu melindunginya.


Lagi, Arabella menunduk tidak mampu menatap wajah tampan di depannya terlalu lama. Selain karena dirinya tidak pernah bertatapan muka dengan orang lain, ini kali pertama dirinya menatap wajah pemuda secara dekat dan serius.


Sangat cantik namun penuh kesakitan batin Ilham kala melihat wajah dan kedua bola mata Arabella yang memang terlihat menyimpan banyak ke sakitan dan keraguan.


"Kita pulang!" Arabella mengangguk walau masih ragu, tapi entahlah kepalanya repleks saja mengangguk kala Ilham bertanya.


Akhirnya keduanya menaiki motor bersama untuk pulang meninggalkan kafe. Hati Ilham merasa sangat senang karena akhirnya bisa mengantarkan Arabella pulang seperti keinginanya.


Mulai saat ini Ilham bertekat akan selalu mengantarkan Arabella pulang bekerja karena takut ada apa-apa di jalan. Meski ada keinginan untuk selalu bersama gadis itu tapi Ilham tidak ingin memaksa.


Setelah motor Ilham meninggalkan parkiran kafe, ada dua orang pria yang melihat dengan senyuman mereka.


Siapa lagi kalau bukan kedua kakak sepupu Ilham yang sangat penasaran dengan bagaimana cara adik sepupu mereka yang acuh itu mendekati gadis pujaannya.


"Tancap gas ya Ilham" seru Hesa kagum dengan tekat kuat adik sepupunya dalam mendekati Arabella.


Cukup celat juga pergerakan Ilham si pemuda acuh dan cuek dalam hal mendekati cewek.


"Siapa sih yang gak mau sama Ilham, muka ganteng mirip kakak apa lagi" ucap Hesa dengan percaya dirinya membuat Ardi langsung melihat ke arahnya.


"Pede sekali anda! muka Ilham tuh kayak ada bule-bulenya kalo kakak itu bukan ada bule bulenya" Ardi menghentikan ucapannya kala Hesa melihatnya.


"Jadi kayak ada apa nya?" tanya Hesa penasaran.


"Kayak ada bego begonya" ucap Ardi yang langsung mendapatkan tonyoran di kepalanya dari Hesa.


"Dasar adik kurang ajar! gak ada sopan-sopannya ngomongin kakaknya kayak gitu" omel Hesa.


"Lagian kakak juga sih! masa Ilham di samain sama kakak ya bedalah, Ilham itu standar internasional kalo kakak standar nasional Indonesia aja belum mencukupi" ejek Ardi lagi.


Hesa langsung menarik kepala adiknya dan menaruhnya di bawah ketiak. Sedangkan kening pria itu di gosok-gosok menggunakan kepalan tangan Hesa.


"Dasar adik kurang ajar! minta di karungin, rasain nih" Hesa mempercepat gosokan kepalan tangannya di kening hingga kepala Ardi.

__ADS_1


"Ampun kak! ampun! gak lagi deh ampun!" ucap Ardi yang merasa panas di bagian yang di gosok kakaknya.


"Tiada ampun bagimu" Hesa masih terus melakukan apa yang ingin di lakukannya sampai akhirnya terhenti karena ada telepon dari pacarnya.


Huh selamat batin Ardi sambil mengusap kepala dan keningnya yang terasa panas.


Di tempat lainnya, Ilham dan Arabella masih di atas motor menuju rumah Arabella. Saat di depan gang rumah Arabella, ada beberapa orang yang mengehntikan mereka.


"Siapa mereka?" tanya Arabella takut semakin mengeratkan pelukannya di perut Ilham.


"Tenanglah! kalo kamu menunjukkan wajah takut mereka malah semakin senang" ucap Ilham pelan menenangkan Arabella.


Empat orang pria itu berdiri di sekitar motor Ilham dan menatap dengan tatapan yang garang.


"Hey turun-turun! motor ini punya kami" ucap pria yang ada di depan motor Ilham.


Ilham hanya diam saja tanpa menjawab tapi matanya menatap tajam pria di depannya dengan wajah datarnya yang tertutup helm.


"Ayo turun cepat!" bentak pria yang ada di samping kanan.


"Boleh juga nih cewek" kata yang ada di kiri mendekati Arabella dan memperhatikan gadis itu.


Kerena takut Arabella semakin menyembunyikan wajahnya di pundak Ilham dengan tubuh yang sudah gemetaran.


Ilham sedikit bingung bagaimana cara melawan para preman jalanan itu. Bukan bingung menghadapinya tapi cara melepaskan dirinya dari pelukan Arabella yang sangat ketakutan.


Tidak mungkin dia melepaskan pelukan gadis yang ketakutan itu. Namun diam saja pun hanya akan membuat mereka celaka kalau sampai para preman itu berbuat nekat.


"Heh! cepat turun! ini motor kita" ucap preman di depan Ilham yang sejak tadi mengakui motor Ilham sebagai miliknya.


---------


Maaf ya temen temen kalau ceritanya gak sesuai ekspetasi kalian. Soalnya di sini author mau buat cerita yang berbeda sama kebanyakan anak berandalan lainnya.


Author mau kasih pandangan berbeda aja tentang sekelompok anak sekolah yang di kasih julukan berandalan. Dan itu cuma sekedar julukan aja bukan bener-bener berandalan.


Karena kalau buat cerita yang bener real seperti anak berandalan susah lolos reviewnya.


Author harap kalian suka ya๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚


Jangan lupa di like dan komen

__ADS_1


Untuk yang udah like dan komen Terimakasih๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2