
Waktu istirahat tiba, semua siswa keluar kelas untuk melakukan apa yang di anggap mereka sebagai waktu bebas melakukan apapun. Tapi yang paling bebas itu perut dan tenggorokan, bebas dari rasa lapar dan haus. Setelah belajar dan menguras pikiran kini saatnya merefreskan kembali pikiran yang sempat pusing.
"Ayo Ham!" ajak Firman menatap Ilham yang masih diam di tempat duduknya.
"Gak, kalian aja" sahut Ilham membuat yang lainnya kaget.
"Kenapa?" tanya Roy.
"Mager" sahut Ilham membuat teman-temannya saling pandang.
"Aneh banget sih kamu Ham, gak biasanya kayak gini" heran Boby di angguki yang lain.
"Lagi mager aja" tampang malas Ilham membuat teman-temannya yakin kalau pemuda itu memang sedang tidak mood hari ini.
"Ya udah, mau roti gak?" tawar Gio di angguki Ilham.
"Anter cepet ke sini ya sama minumnya" Gio mengangkat jempolnya sebagai jawaban lalu mereka pergi meninggalkan Ilham.
Tinggallah Ilham dan Arabella di ruang kelas itu, Ilham melihat gadis di sampingnya yang meletakkan kepala di meja dan kedua tangan di perut. Itulah yang membuat Ilham tidak ikut pergi ke kantin bersama yang lain.
Alasan lainnya karena masih ingin melakukan pendekatan dengan Arabella secara perlahan.
Pendekatan! masa sih! itukan untuk orang yang suka sama lawan jenisnya, apa aku suka sama dia gumam Ilham dalam hati dengan pandangan yang tidak lepas dari Arabella yang masih memegangi perutnya.
Sesekali Ilham mendengar desisan dari gadis itu yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
Ilham melihat kearah pintu di mana ada Gio yang baru masuk dengan dua bungkus roti di tangannya dan satu botol air mineral kecil.
"Nih" Gio meletakkan bawaannya di hadapan Ilham lalu pergi begitu saja. Tapi sebelum pergi, pemuda itu sempat berbisik di telinga Ilham dengan jahilnya.
"Hati-hati berduaan yang ketiganya setan" Gio melangkah mendekati pintu sembari cekikikan setelah menggoda Ilham.
"Gak sadar" ucap Ilham menghentikan langkah Gio.
"Maksudnya!" bingung pemuda itu.
Ilham menaikkan satu alisnya menatap Gio dengan tatapan mengejek, lalu melirik Arabella yang tidak terganggu dengan kedua pemuda itu.
Gio berdecak kala menyadari maksud dari Ilham. Pemuda itu pergi meninggalkan kelas menuju kantin dengan perasaan yang entah. Kejahilan yang di tujukan kepada Ilham malah menyerangnya balik.
Yang di maksud Ilham tadi itu ya Gio sendiri setannya karena dirinya berduaan dengan Arabella lalu Gio datang. Itu artinya Gio yang menjadi setan di antara pasangan yang sedang berduaan.
__ADS_1
"Apes apes" gumamnya garuk garuk kepala karena tidak berhasil menjahili Ilham si teman acuhnya.
Sedangkan Ilham di dalam kelas menahan senyumnya karena berhasil membalikkan kejahilan Gio. Pandangannya beralih pada gadis di sampingnya yang sedang minum dari wadah yang sepertinya memang di bawa dari rumah.
Arabella juga terlihat mengeluarkan sebungkus roti yang nampak sudah berbeda warnanya. Dan Ilham yakin pasti roti itu sudah tidak layak makan.
Saat Arabella akan memakan roti itu, Ilham dengan cepat bergerak menahan tangan Arabella dan menarik roti yang sudah jamuran. Bahkan Ilham membuang roti itu begitu saja dari jendela di samping Arabella.
"Apa apaan kamu?" marah Arabella karena Ilham membuang satu-satunya makanan yang dia punya.
"Itu gak sehat, apa kamu gak lihat kalo rotinya udah jamuran? pasti udah kadaluarsa gak layak makan" ucap Ilham menatap wajah Arabella yang nampak pucat.
"Itu bukan urusan kamu" sentak Arabella.
Gadis itu berdiri dari duduknya, melihat keluar di mana kira-kira roti itu jatuh.
"Rotiku" lirihnya kala melihat roti miliknya di ambil seorang siswa yang lewat lalu di buang ke tempat sampah. Karena memang bagian belakamg itu taman juga.
Arabella merasa sedih kehilangan rotinya, roti yang dia beli dengan harga murah dan dapat banyak di sebuab toko. Roti itu yang selalu di makannya selama setiap pagi untuk sarapan, dan kini sarapannya sudah hilang. Apa lagi stok rotinya di rumah sudah habis.
Dengan marah gadis itu melihat ke arah di mana Ilham masih diam menatapnya.
Bahkan tatapan matanya terlihat sangat hampa dan sedih walau wajahnya menyiratkan ketidak sukaan dan kemarahan akan apa yang di lakukan Ilham tadi.
Setelah mengatakan itu, Arabella keluar dari kursi hendak pergi. Tapi Ilham menahannya dan mendudukkan lagi gadis yang menyentak tangannya yang memegang pundak Arabella saat memaksa gadis itu duduk.
"Makan ini" Ilham memberikan dua bungkus roti miliknya untuk Arabella.
Mata gadis itu nampak berminat dengan roti enak yang di berikan Ilham. Tapi dia tidak mau menerima pemberian itu begitu saja, apa lagi mereka tidak kenal dekat dan tidak saling sapa sebelumnya.
"Itu milikmu" ucap Arabella menatap ke depan papan tulis.
"Ambillah! anggap aja ganti rotimu tadi" Ilham kembali mendorong roti itu kehadapan Arabella membuat gadis itu menunduk melihatnya.
"Tapi ini roti mahal, aku gak uang untuk bayar" ucapnya.
"Aku ngasih loh, bukan jual roti" Ilham menahan senyumnya melihat gadis di depannya yang menatap selera roti itu.
Ilham meraih salah satunya lalu membuka bungkusnya dan menyerahkan kepada Arabella tepat di hadapan mulut gadis itu.
"Aku kan udah bilang, ini ganti roti mu yang ku buang tadi"
__ADS_1
Arabella menatap lekat mata Ilham untuk melihat kesungguhan pemuda itu. Barulah Arabella mengambil roti di tangan Ilham dan memakannya setelah yakin kalau pemuda itu memang tulus ingin mengganti rotinya yang di buang.
Ilham tersenyum tipis melihat gadis di depannya mau memakan roti pemberiannya dengan lahap. Bahkan sekejab saja roti berukuran sedikit besar itu sudah habis.
Arabella meraih air minumnya sembari melirik roti di depannya yang masih terbungkus utuh. Dalam hati ada ke inginan untuk makan lagi karena masih merasa lapar, tapi apalah daya kalau roti miliknya hanya satu tadi jadi gantinyapun hanya satu.
Tidak ingin serakah dengan meminta roti itu juga, Arabella mendorong roti itu kehadapan Ilham.
"Itu milikmu" ucapnya.
"Gak! kan udah ku kasih kamu" sahut Ilham.
"Punya ku cuma satu tadi yang kamu buang, gantinya satu aja"
"Tapi aku gak suka rotinya, Gio beli roti yang salah" kata Ilham.
Sebenarnya roti itu kesukaan Ilham kalau di kantin sekolah. Tapi karena dia minta roti itu memang untuk Arabella jadi dia bilang kalau tidak suka agar gadis itu mau menerimanya.
Arabella diam tanpa menjawab atau merespon ucapan Ilham. Gadis itu malah melihat kearah luar. Aneh! roti enak kok gak suka, dasar orang kaya batin Arabella.
"Kamu gak mau roti ini?" tanya Ilham menarik perhatian Arabella yang hanya mendapat gelengan saja tanpa melihat.
Ilham menghela napas panjang lalu mengambil roti yang tersisa itu dengan wajah yang pura-pura tidak suka sembari melirik-lirik Arabella. Menunggu reaksi gadis itu.
"Ya udahlah kalo kamu gak mau, ku buang aja" ucapnya hendak berjalan keluar.
"Tunggu!" cegah Arabella memegang tangan Ilham.
"Kamu bisa menghargai makanan gak sih! masa mau di buang" kesal Arabella kala mendengar ucapan Ilham tadi.
Sedangkan yang di pegang tangannya merasakan debaran jantung yang celat karena sentuhan tangan yang dingin namun halus milik Arabella. Terasa lembut menyentuh lengannya yang di lapisi almamater panjang miliknya namun sentuhan itu terasa menembus hingga jantung.
"Kan tadi aku bilang gak suka, ya udah di buang aja dari pada gak ada yang makan" Ilham berusaha bersikap santai agar tidak berlihat kalau sedang gugup.
"Ya jangan dong! sayang.."
"Apanya yang sayang? kamu sayang aku?" tembak Ilham langsung menyela ucapan Arabella.
Gadis itu melepaskan pegangan tangannya di lemgan Ilham lalu duduk. Menopang dagunya dengan satu tangan melihat ke taman di bawah sana.
Ilham melihat tas Arabella yang ada di meja tidak di kancing, dengan pelan pemuda itu memasukkan roti di tangannya ke dalam tas Arabella tanpa di sadari pemiliknya.
__ADS_1