
Suwoyo menatap nanar anak perempuannya yang sedang gemetaran ketakutan padanya. Pada hal dirinya sangat ingin mendekap anak perempuan tercintanya yang sudah sangat dirindukan.
Dini baru saja selesai menceritakan apa yang terjadi pada Arabella hingga membuatnya takut pada sosok yang di panggil ayah atau lainnya. Bahkan semua orang yang ada di sana sampai terperangah mendengar cerita Dini yang di rasa sangat keterlaluan.
"Tega sekali dia, sekalipun bukan anak kandung tapi gak semestinya dia berbuat itu" lirih Haru yang berdiri di samping Jodi yang mendekapnya.
Ilham semakin mengeratkan pelukannya pada Arabella dan dengan lembut tangannya mengelus kepala dan bagian belakang tubuh Arabella untuk memberi ketenangan pada tubuh yang masih gemetar itu.
Kini Ilham semakin memantapkan hatinya untuk bersama Arabella dan memilih gadis itu untuk menjadi pasangannya. Dia akan berusaha mendapatkan hati gadis itu. Apa lagi setelah mengetahui kisah kehidupan Arabella yang ternyata cukup rumit dan penuh kesakitan membuatnya ingin sekali memberikan kebahagiaan untuk Arabella.
Hingga tak berapa lama, tubuh di pelukan Ilham mulai melemah dan sepenuhnya bersandar pada Ilham. Arabella tertidur di dekapan Ilham, selain karena merasa nyaman dengan apa yang Ilham lakukan juga efek obat yang tadi sempat di berikan dokter di infusnya membuat Arabella kini terlelap.
Aji dan Suwoyo merasa sangat iri dengan Ilham yang bisa memeluk Arabella. Sedangkan mereka yang sangat merindukan belum bisa mendekat. Namun juga bersyukur karena ternyata masih ada orang yang mau menerima Arabella apa adanya dan membuat gadis itu nyaman bersamanya.
"Apa benar kalo kamu bunuh pria itu?" tanya Suwoyo pada Dini yang duduk di kursi roda.
Dini geleng kepala.
"Aku gak bunuh dia mas, pukulan ku waktu itu gak buat tewas karena dia masih bisa nyariin aku sama Rabel, dia bahkan terus nakutin Rabel, dia ngancam bakalan terus gangguin Rabel kalo aku gak mau kasih dia uang, jadi aku bawa Rabel ke kota ini, tapi dia tetep bisa nemuin di mana tempat kami, waktu malem itu aku pulang kerja tiba-tiba dia dateng minta uang sama aku, aku bilang gak ada trus dia marah tiba-tiba ada orang yang dateng tusuk dia dari belakang, aku yang kaget dan shok lihat darah banyak keluar gak sanggup ngelakuin apa-apa, aku cuma diem berdiri di sana, jiwaku rasanya kosong, bahkan aku gak sadar kalo pisau yang di pake untuk bunuh itu di lemparkan di bawahku, bahkan aku sempet di hakimi masa waktu itu karena di tuduh pembunuh, kalo aja polisi gak dateng cepet mungkin aku udah gak ada lagi sejak lama" tangis Dini pecah setelah ia mengeluarkan semua apa yang selama ini tersimpan di hatinya.
Suwoyo mendekap erat tubuh Dini dan sesekali memberi kecupan di kepala wanita yang menangis itu. Hati pria mana yang tidak akan sakit kala melihat sang pujaan hati menangis pilu akibat kepedihan hidup yang di hadapinya.
Sementara dirinya bisa tidur dengan nyaman, makan dengan enak dan mendapatkan segala yang ia mau dengan mudah. Istri dan anak perempuannya justru mengalami banyak penderitaan.
Meski tak sepenuhnya salahnya karena selama ini pun sudah mengupayakan pencarian, tapi mencari orang yang lupa ingatan dan mengganti namanya bukan pekara mudah.
"Maafin mas sayang, maafin mas yang gak becus jaga kalian, maaf" sesal Suwoyo.
Aji mendekati ke dua orang tuanya dan ikut memeluk sang mama dengan perasaan sakit.
__ADS_1
Setelah bisa mengontrol perasaannya, Suwoyo menangkup pipi Dini dan menghapus air mata wanita itu.
"Sekarang kamu kasih tahu mas, dimana tempat dulu kejadian itu? dan gimana ciri-ciri pembunuh yang sebenernya itu?" tanya Suwoyo.
Dini mengatur napasnya lalu menatap pria di hadapannya.
"Di gang lima dekat halte bus, kalo ciri-cirinya gak terlalu jelas karena semuanya begitu cepet, yang aku inget cuma orangnya tinggi agak gemuk trus matanya sebelah agak merem kayaknya" jelas Dini.
"Jangan-jangan preman yang kemaren itu!" seru Diki membuat semua orang di ruangan itu menatapnya.
"Preman yang mana?" tanya Bagas.
"Yang waktu Ilham minta tolong sama kita ngadepin empat preman itu loh" Diki mencoba mengingatkan teman-temannya.
"Tapi dia matanya melotot bukan sipit sebelah" kata Roy.
"Mata kamu sini ku jahit biar belok kayak kadal" geram Mono.
"Galak amat mas" gumam Toni menutupi matanya.
"Pa! kita kerahkan orang untuk cari si pembunuh itu pa, kita harus keluarkan mama dari penjara" kata Aji di angguki Suwoyo.
"Kayaknya aku pernah lihat orang yang ciri-cirinya begitu" gumam Gio pelan tali dapat di dengar Yang lain.
"Benarkah?! dimana?" tanya Aji semangat.
"Di daerah Klong B kak, tapi udah sebulan yang lalu" sahut Gio
"Ngapain kamu di daerah Klong B? di sana kan tempatnya om-om sama onte-onte" kata Doni.
__ADS_1
"Apa onte-onte?" tanya Firman.
"Itu loh yang suka layani para pria kantong tebal" Firman memutar bola matanya malas seraya menghela napas.
"Gak ondel-ondel sekalian" gerutu Firman.
"Heh! jawab ngapain kamu di sana? ku bilangin tante nih ya" ancam Doni pada Gio dan mengabaikan gerutuan Firman.
"Siapa yang ke sana sih! waktu itu aku gak sengaja aja lewat karena di suruh mami cari pecel lele dan harus di daerah Spen, kan gak jauh tuh tempatnya sama daerah yang itu, pas lagi nunggu pesenan keluar dia dari tenda pecel lele trus masuk ke daerah itu" jelas Gio.
Aji berdiri dan mengucapkan terimaksih pada Gio atas info yang berharga itu. Walau belum pasti tapi Aji tidak akan patah semangat untuk membebaskan mamanya. Apapun akan di lakukannya demi bisa hidup bersama sang mama lagi.
Sebelum keluar dari ruang rawat Arabella, Aji menyempatkan diri mengecup kening sang mama.
Jodi yang mendengar semua penjelasan Dini menghela napas panjang lalu mendekat.
"Kalau cerita sesungguhnya begitu, kenapa dulu waktu di pengadilan kamu gak bilang yang sesungguhnya?" tanya Jodi penasaran.
Meski dirinya hanya kepala sipir yang menerima tahana dari polisi dan hanya mendapat tugas menjaga tahana turut merasa bersalah juga marena sudah menahan seseorang yang tidak bersalah dan harus memisahkan ibu dan anak dengan waktu yang cukup lama.
"Saat itu pikiranku gak fokus, aku gak tahu apa yang ku lakukan karena bayangan masa lalu yang hilang itu mulai bermunculan, tapi aku gak tahu bayangan apa itu karena semuanya terasa mirip fuzzle yang berserakan dan sulit untuk di rangkai, lihat darah yang keluar waktu pembunuhan itu, itulah yang buat ingatanku berputar dan sadar sama apapun yang terjadi" jelas Dini apa adanya.
Bukan pekara yang mudah mengatasi rasa shok dengan apa yang di depan mata dan bayangan misterius yang berdatangan satu persatu tapi tidak jelas.
"Kalo gitu semua bukti harus di dapatkan supaya mamanya Arabella bisa di bebaskan, maaf walapun saya kepala sipir saya gak bisa bebaskan tahanan gitu aja, ini pun saya bisa bawa mamanya Arabella ke sini dengan dalih kompensasi karena berbuat baik selama di tahanan dan anaknya yang sakit parah, dan kemungkinan besok sore kami harus bawa mamanya Arabella kembali ke sel" jelas Jodi pula pada Suwoyo.
Suwoyo mengangguk paham.
"Gak masalah, kami bakalan kumpulkan semua bukti secepatnya dan bawa pembunuh sebenernya ke penjara" yakin Suwoyo.
__ADS_1