Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
40


__ADS_3

Arabella sudah di pidahkankeruang rawatnya semula. Dan saat ini ada Ilham dan teman-temannya yang masih ada di sana.


Meski hari sudah mulai beranjak siang mereka belum mau pergi. Apalagi di hari minggu begini biasanya mereka akan berkumpul bersama di tempat kumpul mereka. Tapi karena Ilham ada di rumah sakit, mereka akhirnya memutuskan untuk menemani Ilham saja di rumah sakit.


Kali saja nanti tenaga atau keberadaan mereka di perlukan.


Arabella menatap Ilham dengan alis yang menyatu. Matanya bolak balik melihat Ilham lalu ke arah yang lainnya yang ada di sofa sedang duduk santai sembari berbicara pelan agar tidak mengganggu.


Ada gurat kurang nyaman di wajah Arabella karena ia tidak pernah satu ruangan dengan pemuda dalam keadaan dirinya sendirian. Meski di tempat kerja banyak karyawan laki-laki juga tapi di sana banyak yang perempuan juga.


Jadi Arabella masih bisa biasa saja, sedangkan ke adaan sekarang dia hanya seorang diri. Sedangkan teman-teman Ilham ada sembilan orang.


"Mereka udah jinak, gak bakalan gigit" kata Ilham yang membuat teman-temannya langsung melayangkan protes karenanya.


Walau suara Ilham tidak terlalu keras tapi suasana yang tenang itu membuat yang lain dapat mendengar apa yang di ucapkan Ilham.


"Heh! kami bukan anjing galak yang suka gigit ya" kata Diki.


"Kami cuma kucing garong yang sukanya mencari mangsa" kata Toni.


"Siapa kucing garong?" tanya Gio pada Toni.


"Kita lah siapa lagi!" sahut Toni.


"Kita! lo aja kali gue enggak" ucap yang lain kompak menolak di jadikan kucing garong oleh Toni.


Sementara Ilham hanya geleng kepala melihat teman-temannya yang sepertinya akan memulai sesi keributan mereka. Sedangkan Arabella yang melihat kekompakan itu merasa sangat ingin memiliki teman yang seperti itu.


Tapi apalah daya dirinya yang tidak pernah berani bersosialisasi dengan baik pada orang lain. Arabella lebih suka menutup diri dan tidak mau melibatkan diri dengan orang lain.


"Ck! gini amat sih punya temen gak berperi ketemanan sedikitpun" gerutu Toni.


"Kamu mau ketaman? taman mana?" tanya Mono.


"Ketemanan bukan ke taman" ralat Toni membenarkan ucapan Mono yang menurutnya salah sangka.


"Kalo dia cocoknya ke jembatan Ancol bukan ke taman" ujar Roy.

__ADS_1


Mereka mengaikan Toni yang menatap protes.


"Kalo kamu ketemu sama si manis di sana jangan lupa di ajak foto ya Ton" usul Bagas.


"Tanda tangan jangan lupa" sambung Firman.


"Atau kalo perlu kamu ajak dia ketemu sama kita biar sekalian kita kenalan juga" Doni ikut buka suara.


"Ck! gak sekalian aja kalian nyuruh aku nemenin dia di sana jadi hantu gentayangan hah!" kesal Toni.


"Boleh juga tuh" sahut Boby yang membuat mereka terkekeh bersama.


Sedangkan Toni mendengus kesal, ya pastinya bukan kesal yang dari hati. Karena mereka sudah biasa seperti itu, saling bercanda, saling mengejek. Dengan itu mereka bisa terus berkomunikasi dan semakin dekat sebagai teman karena bisa saling menerima dan saling menemani.


Arabella menarik sedikit sudut bibirnya, merasa kekonyolan teman-teman Ilham itu cukup menghibur di sana. Ilham tidak bisa melihat senyuman tipis itu, tapi raut wajah yang nampak berbeda itu membuat Ilham cukup senang. Karena selama ini dirinya hanya di suguhkan dengan wajah dingin tanpa senyuman.


Tidak berapa lama pintu ruangan Arabella terbuka. Masuklah sang mama bersama dua pria yang tidak di kenalnya.


Tapi bukan ke duapria itu fokusnya, melainkan sang mama yang duduk di kursi roda dengan pakaian rumah sakit sepertinya.


"Kamu udah sadar nak? mama kangen kamu" ucap Dini mendekati Arabella dengan wajah bahagianya.


"Mama di sini?" tanyanya heran dengan kening yang mengkerut dalam.


Ilham berdiri memberi ruang untuk ibu dan anak itu saling menumpahkan rindu.


"Iya, mama dateng untuk kamu, maaf selama ini mama gak pernah tahu gimana kodisi kamu yang punya penyakit" sesal Dini dengan mata berkaca.


"Maksud mama apa? aku punya penyakit apa?" tanya Arabella yang memang tidak tahu kalau dirinyapunya penyakit.


Selama ini dia memang kerap merasa sakit di beberapa tubuhnya tapi itu hanya di anggapnya sebagai rasa lelah saja dan tidak mau ambil pusing dengan itu.


Apa lagi keberadaannya yang di rumah sakit itu di kiranya hanya karena dia yang tidak sadarkan diri waktu itu. Saat ini dia pun tidak merasakan apa-apa di tubuhnya selain kondisi yang semakin membaik dan lebih bertenaga saja walau masih harus istirahat.


"Kamu butuh donor sumsum tulang belakang dan keberadaan mama di sini untuk itu, supaya kamu bisa sembuh" jelas Dini membuat Arabella kaget.


"Kenapa mama lakuin itu? trus kondisi mama sendiri gimana? penyakit mama!" terlihat wajah khawatir di wajah Arabella membuat Dini tersenyum.

__ADS_1


"Mama baik, apapun bakalan mama lakuin untuk kamu nak jadi jangan pernah tanyakan untuk apa" kata Dini yang membuat Arabella menghela napas pelan agar air matanya tidak jatuh.


Aji dan Suwoyo yang melihat mata Arabella mirip dengan Dini dan wajah yang seperti mereka hanya ini versi ceweknya.


"Rabel, anak papa" ucap Suwoyo dengan mata berkaca karena luapan kebahagian yang membuncah di dadanya.


Arabella yang mendengar ucapan itu sontak dengan cepat melihat orang yang mengucapkan kalimat yang sering di dengarnya di dalam mimpi.


Suara itu.. batinnya.


"Ini papa sama mas kamu nak" ujar Dini yang mengetahui ke bingungan anaknya.


"A.. apa ma?" degupan jantung Arabella tidak terkendali kala mendengar apa yang baru di ucapkan mamanya.


"Ini papa nak! kamu Rabel anak papa" Suwoyo berjalan mendekati Arabella yang shok.


"AAKKH"


Teriakan Arabella begitu menggema dan mengagetkan semua orang yang ada di ruangan itu. Bagaimana tidak kaget jika tiba-tiba gadis itu berteriak, bahkam kini tubuhnya yang tadinya setengah berbaring langsung duduk ketakutan.


"Ja.. jangan mendekat! jangan mendekat!" tolak Arabella pada Sowoyo karena bayangan dirinya yang hampir di lecehkan ayahnya dulu seakan membayang lagi di matanya.


"Kamu kenapa nak?" tanya Sowoyo kaget melihat keadaan anak gadisnya.


Apa lagi penolakan Arabella membuat hatinya sakit hingga tak terkiran.


"Jangan lakukan itu padaku! jangan!" isak Arabella.


Ilham langsung mendekap tubuh bergetar itu dan mencoba menenangkan Arabella yang benar-benar ketakutan saat ini.


"Anakku!" Dini menangis melihat kondisi anaknya yang masih saja trauma dengan seseorang yang dipanggil ayah, papa atau apapun itu, juga pada pria dewasa lainnya.


"Apa yang terjadi padanya sayang?" tanya Suwoyo pada Dini yang masih menangis.


Dini memeluk lengan pria yang sudah memberinya dua anak itu. Sedangkan yang lainnya masih menatap dengan diam karena tidak tahu apapun yang terjadi dengan Arabella.


Arabella memeluk erat tubuh Ilham, kenapa dia mau dipeluk bahkan memeluk Ilham?. Karena selama dia mulai menutup diri, Ilham lah yang mulai mendekatinya dan mereka juga sudah beberapa kali bersentuhan fisik walau tidak melewati batas.

__ADS_1


__ADS_2