Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
34


__ADS_3

Ilham menyempatkan diri untuk pulang lebih dulu berganti pakaian dan membawa makanan yang sudah di siapkan oleh pekerja di rumah bibinya.


Setelah semuanya siap barulah Ilham pergi kerumah sakit di mana Arabella di rawat.


Sesampainya di sana, Ilham nampak bingung melihat bibinya dan juga pamannya yang berdiri di luar ruang rawat Arabella. Bahkan bibinya terlihat menangis dengan di peluk sang suami.


"Paman!, bibi! ada apa ini?" tanya Ilham heran.


Haru tidak menjawab dan masih melihat ke dalam di mana sesuatu yang membuat hatinya sangat sakit sebagai seorang ibu. Sedangkan Jodi hanya mengarahkan kepalanya melihat ke dalam agar Ilham ikut melihat sendiri apa yang menyebab kan bibinya sampai menangis.


Di dalam sana ada seorang wanita yang sedang mengutarkan isi hatinya pada Arabella. Dengan suaranya yang terdengar sangat memilukan.


"Maafin mama nak karena gak bisa jagain kamu, mama udah gagal sebagai ibu" tangis wanita itu yang membuat Ilham yakin kalau itu adalah mamanya Arabella.


Ilham melihat pamannya yang masih sibuk memeluk sang istri yang menangis. Pamannya bisa membawa mamanya Arabella datang kerumah sakit.


"Terimakasih paman" lirih Ilham yang membuat Jodi melihat ke arahnya sebentar sembari mengangguk.


Hati Jodi pun turut sakit melihat pemandangan di dalam sana. Mereka yang sangat menginginkan anak perempuan merasa sangat terpukul juga dengan apa yang menimpa Arabella. Apa lagi mereka yang sejak awal sudah mendengar semua ucapan wanita di dalam sana untuk sang anak.


"Mama akan lakukan apapun untuk kamu nak, asal kamu bangun, mama kangen kamu nak hanya kamu yang mama punya saat ini, mama kangen senyuman manis kamu sayang, bangun nak mama kangen" terisak wanita di dalam sana menangis menumpahkan segala rasa rindunya pada sang anak.


Beberapa hari memang Arabella tidak pernah datang menjenguknya di penjara. Tentu rindubpada anaknya itu dan berpikir sang anak bekerja keras untuk kelangsungan hidup membuat hatinya sakit.


Tapi siapa sangka kalau ternyata anaknya tidak datang karena ada hal lain yang lebih mengerikan lagi.


"Mama bakalan kasih kamu kehidupan yang mama punya sayang, berjanjilah setelah itu kamu akan sehat dan hidup bahagia, masa depan kamu masih panjang walaupenuh rintangan, tapi mama yakin suatu saat nanti kesabaran dan kegigihan kamu akan berbuah manis, kamu harus sehat anakku" isaknya lagi kala memandang wajah pucat anak gadisnya yang sangat di rindukan.


Setelah bisa mengendalikan diri, mama Arabella berdiri dari duduknya. Menghapus air mata dan berjalan keluar dari ruangan itu.


"Tunggu sebentar ya sayang, mama mau tanya dokter dulu sumsum mama cocok gak sama kamu ya!" wanita itu mengecup kening Arabella lembut dan penuh kehangatan. Setelahnya baru pergi tanpa menyadari kalau mata yang terpejam itu mengeluarkan air mata juga.


Jodi dan Haru yang melihat mamanya Arabella akan keluar langsung menghapus air mata mereka dan berusaha tersenyum.


"Maaf pak, saya mau ketemu dokter dulu" ucap mamanya Arabella berharap dapat ijin.


Sebab dirinya bisa bertemu dengan anaknya karena bapak kepala sipir itu yang membantunya dengan segala alasan.

__ADS_1


"Mari saya temani bu" tawar Ilham yang di balas anggukan oleh mamanya Arabella.


Apa lagi melihat wajah serius Ilham yang berharap dirinya menerima tawarannya. Lagi pula dia tidak tahu ruangan dokternya dimana.


Setelah kepergian Ilham dan mamanya Arabella. Haru melihat suaminya.


"Kasihan banget ya yah mereka, apa lagi Arabella, hidupnya benar-benar malang, tinggal sama ayah tiri mau di nodai pula, di saat ibunya bela dia dan rela bunuh suaminya supaya anaknya aman tapi mereka malah harus berpisah karena hukum bui" kata Haru yang hanya di balas elusan di pundaknya oleh Jodi.


Ilham melirik wajah wanita di sampingnya yang nampak masih cantik. Mata indah yang sama seperti milik Arabella dan hidung yang sangat pas untuk seorang wanita cantik. Bibir yang mungil dan imut milik keduanya juga sama, hanya saja siluet wajah Arabella berbeda dengan wanita di sampingnya.


Mungkin mirip papanya, hah.. jadi kangen pikir Ilham.


"Terimakasih ya nak karena kamu udah nolongin anak ibu dari penjahat" ucap mamanya Arabella membuat Ilham kaget.


"Darimana ibu tahu?" tanya Ilham.


"Bibi mu yang mengatakannya tadi" mamanya Arabella tersenyum tipis.


"Aku juga waktu itu kebetulan lagi sama dia kok bu, jadi ya gak mungkin ku biarkan Rabel di sakiti mereka" ucap Ilham.


"Darimana kamu tahu panggilan itu?" tanyanya dengan perasaan yang bergemuruh, seperti ada sesuatu yang mengingatkannya akan satu hal tapi belum mampu di ingatnya.


"Gak ada bu, saya spontan aja waktu itu mau panggil dia Rabel sewaktu saya tanya namanya" jelas Ilham.


"Tapi kamu bisa panggil dia Ara atau Bella kan! kenapa harus Rabel?" cecar mamanya Arabella ingin tahu.


"Aku cuma mau panggil dia dengan nama berbeda aja bu, kalo Ara atau Bella udah biasa jadi aku panggil dia Rabel.


Mamanya Arabella terduduk seketika saat itu juga, sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ia mengingat beberapa hal yang berputar di ingatannya.


"Siapa nama anak kita mas?"


"Gimana kalo Arabella Putri Suwoyo, kita panggil dia Rabel"


"Kok Rabel! kenapa gak Ara atau Bella aja?"


"Biar beda aja sama yang lain, kalo Ara atau Bella udah biasa"

__ADS_1


"Ya nak ya, kamu Rabel putri papa yang cantik, anak ku sayang"


"Pa adiknya namanya siapa?"


"Namanya adik Rabel, mas Seno harus sayang sama adek ya, jagain adeknya supaya gak ada yang jahati oke"


"Oke ayah, sini yah aku mau lihat adek bayinya".


Air mata mamanya Arabella mengalir lagi seiring dengan suara-suara yang terdengar itu. Dan ingatannya yang mulai mengingat setiap potongan ingatan yang selama ini menghantuinya.


"Gak mungkin!" lirihnya kala mengingat sesuatu lagi.


"Rabel anak papa, lihat apa yang papa bawa untuk kamu sayang"


"Mas beli kalung?"


"Iya, nih lihat ada namanya di bagian luar bandul kalungnya, trus yang di dalem nama lengkapnya sama nama kita bertiga, mas, kamu sama Seno juga"


"Apa gak lecet nantinya kulut anak kita kalo di pakein kalung? masih kecil loh dia ini"


"Ya gak papa, dia kan udah setahun udah mulai belajar jalan juga"


"Eh ini apa?"


"Oh, itu tanda lahirnya mas kata dokter udah kelihatan sewaktu mereka mau bersihin Rabel waktu baru lahir dulu"


"Wah, semakin cantik dong anak papa yang cantik ini, tandanya mirip bulan sabit lagi"


"Iya, jadi semakin cantik, semoga hatinya juga secantik rupanya ya pa"


"Amin, sini anak papa yang cantik".


Ilham yang melihat mamanya Arabella terduduk dengan wajah pucat pun di buat bingung sekaligus kaget. Ingin menolong tapi di tolak oleh mamanya Arabella.


Bahkan semua pertanyaan yang sejak tadi di ucapkannyapun tidak di respon. Mamanya Arabella malah terlihat seperti orang yang linglung.


"Rabel..." mamanya Arabella berlari kembali ke ruang rawat anaknya di ikuti Ilham yang masih belum mengerti ada apa.

__ADS_1


__ADS_2