
Saat sampai di depan ruang rawat Arabella, Ilham berhenti karena ada dokter yang sedang melakukan pemeriksaan. Begitupun dengan mamanya Arabella yang terdiam di depan pintu menunggu dokter keluar.
Setelah dokter keluar, mamanya Arabella langsung memberikan pertanyaan.
"Dok! bagaimana keadaan anak saya?" tanyanya dengan cemas.
"Keadaannya semakin turun, kami sedang menunggu sumsum yang cocok untuk anak ibu dari rumah sakit lain, dan kita harus menunggu empat jam lagi karena dariluar daerah, saya harap ibu terus berdoa untuk anak ibu supaya bisa tetap bertahan menunggu" ucap Dokter membuat mamanya Arabella lemah seketika.
"Coba periksa saya dokter, saya siap memberikan sumsum saya untuk anak saya" tawar mamanya Arabella.
"Apa ibu yakin!" dokter menatap mamanya Arabella dengan serius karena kondisinya sendiri yang kurang sehat.
"Sangat yakin dok, yang penting anak saya selamat"
"Baiklah, kalau begitu silahkan ikut dengan suster untuk pemeriksaan ya bu, kalau sumsum ibu dan anak ibu sama kita akan langsungkan operasi saat ini juga"
"Iya dok iya" mamanya Arabella dengan bahagia mengikuti kemana suster membawanya untuk di periksa.
Sedangkan si dokter pergi meninggalkan ruangan itu untuk memeriksa pasien lainnya.
"Apa sumsum mereka bakalan sama yah?" tanya Haru.
"Bisa aja bun, tapi ayah ragu.."
"Ragu kenapa?" tanya Haru menatap suaminya.
"Menurut tim kesehatan di sel, wanita itu punya penyakit hipertensi sama sesak napas, ayah ragu dia gak selamat habis operasi, nanti gimana cara kita jelasin sama anaknya" sahut Jodi.
"Kita cegah juga gak mungkin kan yah! diapasti gak bakalan mau di hentikankarena bagi seorang ibu itu, anak adalah jiwanya" kata Haru yang di angguki Jodi.
"Ayo pulang bun, nanti kita ke sini, bunda juga butuh istirahat" ujar Jodi yang mengkhawatirkan kesehatan sang istri yang tidak bisa kelelahan.
"Sebentar yah, bunda masih mau nemenin mereka, kasihan mereka yah gak punya keluarga lain" tolak Haru dengan halus.
"Iya nanti kita ke sini lagi bun, sekarang pulang dulu udah hampir sore juga nanti malem ayah anter kesini" bujuk Jodi akhirnya di angguki Haru.
Setelah mengambil benerapa barangnya termasuk rantang tempat bekal makan mereka. Jodi dan Haru pamitan pulang oleh Ilham yang tengah duduk di kursi dekat ranjang pasien di mana Arabella terbaring.
"Kalo nanti jadi operasinya kasih tahu bibi ya Ham, nanti malam bibi dateng lagi bawain makan malam kamu" ujar Haru.
"Iya bi, hati-hati"
__ADS_1
Jodi menepuk pundak Ilham dua kali sebelum akhirnya keluar dari ruang perawatan itu.
Setelah kepergian bibi dan pamannya, Ilham menyentuh tangan Arabella yang sudah bebas dari selang tranfusi darah.
"Kapan kamu bangun? tugas sekolah banyak, bentar lagi juga ujian akhir semester kalo kamu gak bangun nanti gak lulus" kata Ilham yang malah mengingatkan Arabella akan tugas sekolah mereka.
Bukannya mengatakan hal manis atau mengingatkan sesuatu yang dapat di kenang untuk meningkatkan kesadaran Arabella. Ilham malah mengingatkan gadis itu akan sekolah mereka.
"Tanganmu dingin, kamu kedinginan ya?" Ilhammenyentuh tangan gadis yang terbaring itu dan merasakan betapa dingin tangannya.
"Bangun kamu biar kita bisa ajak ngopi atau ngeteh, atau gak kita nongki-nongki cari yang anget" seru seseorang yang membuat Ilham langsung melihat ke sumber suara.
Ternyata teman-temannya sudah sampai dan baru masuk tapi langsung menyela ucapannya.
"Apa nongki?" tanya Firman pada Doni yang selalu punya kata aneh.
"Nongki itu kata lain dari nongkrong" jelas Doni yang membuat Firman geleng kepala.
"Ada-ada aja bahasamu" kata Boby.
Mereka mendekat ke arah di mana Ilham berada dan melihat Arabella yang sedang terbaring.
"Jaga mata keranjang anda kisanak" ucap Diki.
"Dia bukan mata keranjang, tapi mata badak" sambung Roy.
"Gak sekalian mata kucing" ketus Toni yang merasa dirinya akan mulai jadi bahan ejekan.
"Kebagusan kalo mata kucing, kecuali kucingnya belekan baru cocok" kata Gio nyengir yang hanya di balas helaan napas oleh Toni yang memilih diam.
Apa lagi dia sudah melihat wajahkesal Ilham yang kurang bersahabat.
"Bisa kalian berhenti debat! di sini ada yang sakit" kaga Ilham mengingatkan.
Karena kalau tidak di ingatkan teman-temannya itu bisa terus berdebat.
"Sory Ham" ucap mereka yang tadi sempat membuat sedikit keributan.
"Gak pernah tahu tempat!" cibir Firman yang malah di beri tatapan kesal yang lain.
"Dasar gak sadar diri" balas Roy sinis di angguki yang lain.
__ADS_1
Sedangkan Firman terlihat acuh karena malas terus berdebat, apalagi Ilham masih melihat mereka dengan intimidasi.
"Gimana keadaannya Ham?" tanya Diki agar suasana tidak canggung.
"Semakin menurun" sahut Ilham singkat lalu melihat gadis yang terbaring itu lagi.
"Apa belum ada donor yang pas?" tanya Gio pula yang memang tahu apa yang terjadi.
"Belum, tapi mamanya masih di periksa" ucapan Ilham membuat yang lain saling pandang.
"Dia punya mama?" tanya Mono kaget.
"Jadi maksudmu dia keluar dari daun" sergah Bagas.
"Ya gak gitu juga sih" Mono menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa dari rumah sakit gak ada?" tanya Boby.
"Dari rumah sakit ini gak ada, jadi di kirim dari rumah sakit lain di luar daerah" jelas Ilham.
"Lama sampenya pasti tuh" ujar Roy di angguki Ilham.
Mereka diam dan duduk di sofa menemani Ilham yang terlihat sedih menatap Arabella.
Tidak lama kemudian seorang wanita membuka pintu. Meski pucat dan tidak terawat seperti ibu mereka, mereka dapat melihat kecantikan alami yang benar-benar memikat dari wanita yang umurnya tidak jauh beda dair ibu mereka itu.
"Gimana bu?" tanya Ilham berdiri dari duduknya.
"Setengah jam lagi operasi bisa di lakukan, sumsum ibu cocok untuk Rabel" sahut mamanya Arabella.
"Syukurlah, tapi apa ibu yakin! maksudnya ibu kelihatan kurang sehat" kata Ilham pelan takut menyinggung perasaan wanita itu.
Apa lagi dia tadi dengar dari pamannya kalau mamanya Arabella memiliki penyakit hipertensi dan sesak napas.
"Untuk seorang anak apapun akan di lakukan ibu selama anaknya bisa bertahan hidup, karena kebahagiaan seorang ibu adalah melihat anaknya hidup bahagia, meski waktu melahirkan harus bertaruh nyawa, jadi sebelum kalian sakiti hati orang tua kalian terutama mama kalian, ingatlah kalo kalian pernah diperjuangkan sampe bertaruh nyawa, rasa sakitnya luar biasa, jangan sakiti perempuan siapa itu, mama kalian sendiri atau orang lain selama kalain gak di sakiti" jelas mamanya Arabella mencoba memberi sedikit nasehat juga pada para pemuda yang masih labil itu.
Teman-teman Ilham mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan oleh wanita yang di pikir mereka mamanya si putri es. Mereka memang selalu mendengarkan nasehat dari orang lain selama itu baik.
"Bisa tinggalkan ibu sama Rabel berdua nak! sebentar aja" pinta mamanya Arabella dan di angguki Ilham.
Ilham mengajak teman-temannya untuk keluar dan memberi privasi pada ibu dan anak itu. Tentu saja teman-teman Ilham tidak banyak bertanya tentang itu karena tidak mau ikut campur juga.
__ADS_1