Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
20


__ADS_3

Sore ini Ilham sudah bersiap dengan pakaiannya yang sedikit berbeda. Biasanya pemuda itu memakai kaos sebagai dalaman dan kemeja di luarnya. Tapi sekarang terlihat hanya memakai kais polos tangan panjang saja.


"Mau kemana Ham?" tanya Jodi yang baru pulang bekerja dan bertemu Ilham di garasi.


"Mau kerja paman" sahut Ilham menaiki motornya.


"Kerja! kerja apa?" heran Jodi dengan keponakannya itu.


"Nanti aku jelas kalo udah pulang paman, aku udah terlambat, pergi dulu" Ilham langsung mengeluarkan motornya dari garasi dan tancap gas meninggalkan pamannya yang bengong.


"Wah ada yang gak beres nih" gumam pria paruh baya itu bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencari istrinya atau siapapun yang bisa memberinya penjelasan.


Masuk ke dalam rumah dan di sambut sang istri tercinta. Jodi sejenak lupa dengan apa yang hendak di tanyakannya mengenai Ilham.


Setelah berganti pakaian dan duduk santai barulah ia teringat akan apa yang membuatnya penasaran.


"Apa kalian tahu kalo Ilham pergi bekerja?" tanya Jodi di jawab anggukan oleh Hesa dan Ardi.


"Kerja apa dia? untuk apa pula kerja? apa papanya gak kasih uang? atau dia kekurangan uang? atau dia ngabisin uangnya buat hal yang gak bener?" serentet pertanyaan itu keluar dari mulut Jodi sebagai bentuk perhatian dan kekhawatirannya pada sang keponakan.


Takut Ilham salah langkah hingga terjerumus pada hal-hal tidak baik. Tau malah keponakannya bisa saja mengerjakan sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri.


"Tenang yah tenang" ucap Ardi agar ayahnya tidak terlalu khawatir.


"Gimana bisa ayah tenang kalo gak tahu alasan kenapa Ilham kerja? tadi juga dia kelihatan buru-buru gitu" kata Jodi tak sabar untuk segera mendapatkan jawaban.


"Ilham kerja di kafenya Ardi yah" ujar Haru melihat suaminya yang mengkerutkan kening.


"Tapi kenapa? untuk apa?" heran Jodi yang masih tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan anak adiknya itu.


Dirinya sempat berpikir kalau adiknya tidak memberi uang untuk keponakannya maka dia yang akan memarahi adiknya itu karena sudah menelantarkan anak tanpa mau memberi nafkah. Tapi sepertinya dirinya sudah salah sangka.


"Untuk mendapatkan hati seorang wanita yang sangat di cintai, seorang pria harus rela berkorban dna berjuang, apapun akan di lakukan agar bisa mendapatkan perhatian dan simpati darinya, walaupun harus meninggalkan kemewahan demi bisa membawanya kedalam pelukan" ucap Ardi puitis.


Haru memutar bola matanya malas dengan apa yang di katakan anaknya itu.


"Lebay kamu! tinggal bilang aja kalo Ilham itu lagi deketin cewek jadi salah satu cara yang di pakenya itu dengan pendekatan di tempat kerja, gitu aja sok puitis ngomongnya" sentak Haru membuat Ardi cemberut.


"Namanya biar lebih berkesan bun, atau bunda mau aku buatin kalimat puitis juga" tawar Ardi.


"Gak butuh ya!" tolak Haru.


"Iya lah gak butuh orang bunda butuhnya cuma gombalan ayah" ucap Ardi lalu terkekeh.

__ADS_1


"Sok tahu kamu" kata Jodi.


"Tahulah"


"Udah jelaskan sama ayah kenapa Ilham kerja di kafe kamu, cepet" desak Jodi yang sudah tidak sabar.


"Jadi Ilham itu lagi deketin cewek kan yah.."


"Iya ayah tahu, namanya Arabella atau siapalah itu" ucap Jodi.


"Arabella namanya, jadi kemarin itu dia nanyain sama aku apa iya ada di kafe karyawanku yang namanya Arabella jadi ku bilang ada karena mau ngerjain dia sebenernya, aku juga gak tahu ada gak nya karyawanku yang namanya Arabella, malam itu aku ajakin Ilham ke kafe niat sebenernya itu supaya aku ada temen sekaligus supir jadi aku kerjain lagi dia, aku bilang kalo si Arabella itu ada di kafe malam itu jadi Ilham ikut, sampe di kafe aku tinggalin dia gitu aja di parkiran, gak tahu dia pergi kemana tapi pas aku cariin dia lagi makan, selesai makan kami pulang tapi sampe luar parkiran Ilham malah berhenti di pinggir jalan, ayah tahu kenapa?" Jodi geleng kepala sebagai jawaban.


"Dia ngelihatin cewek yang jalan di belakang mobil yah, yang lebih ngagetin lagi tuh cewek pakek seragam karyawan kafe yah!" Mata Ardi melotot kala mengatakan kalimat terakhirnya.


"Ilham lihatin terus tuh cewek sampe di tungguin pas lagi nunggu bus, udah gitu di ikuti lagi bus yang bawa cewek itu sampe berhenti entah di daerah mana aku gak pernhatiin karena Ilham berhenti gak jauh dari halte trus turun ntah kemana aku cuma di suruh nunggu di mobil"


Jodi dan Haru mendengarkan penjelasan Ardi dengan seksama sampai pria itu selesai.


"Jangan bilang kalo cewek itu yang namanya Arabella!" tebak Jodi.


"Tepat! seratus buat ayah, tuh cewek memang yang namanya Arabella yah karyawan di kafe ku, apa gak shok tingkat dewa aku yah menerima kenyataan yang ada" ucap Ardi ngegas.


"Gak usah ngegas juga kali, emosi banget kamu karena kejahilanmu bantet" ejek Hesa yang baru saja pulang bekerja dan mendengar ucapan Ardi.


"Bukan emosi kak cuma gak nyangka aja kalo karyawanku ada yang namanya Arabella, lebih gak percaya lagi sama orangnya" kata Ardi.


Ardi menutup matanya sejenak lalu membukanya lagi.


"Cantik bun, Ardi sempet lihat dia pas lewat dari samping mobil, beh gila si Ilham pilihannya mantul" Ardi bicara sambil mengangkat jempolnya.


"Jadi intinya Ilham kerja di kafe bukan karena kekurangan uang tapi karena mau deket sama cewek itu" ucap Jodi menyimpulkan.


"I yes" sahut Ardi.


Jodi menghela napas seraya mengangguk paham. Ternyata keponakannya sudah mulai membuka hati untuk perempuan dan sudah memilih pasangannya sendiri.


"Rupanya kalian kalah sama Ilham yang acuh ya" ledek Jodi pada kedua anaknya.


"Tunggu aja tanggal mainnya yah, nanti Hesa bawa pacar Hesa ke rumah" sahut Hesa santai.


"Ardi juga nanti bawalah" kata Ardi tak mau kalah.


"Pacar kamu juga" ucap Haru.

__ADS_1


"Enggak bun, istri orang" canda Ardi.


"ARDIIII..."


Yang merasa dirinya terancam langsung lari dengan cepat mengamankan dirinya sebelum ada batal terbang.


"Ampun bunda.... itu cuma bercanda..." teriak Ardi seraya kabur.


Haru mengatur napasnya agar kembali normal setelah tadi berteriak.


"Tenang bun, inget tensi" ucap Jodi mengusap pundak sang istri.


"Ada ada aja si Ardi" gumam Hesa terkekeh.


Di tempat lainnya...


Ilham yang sudah sampai di kafe milik Ardi langsung masuk dan menemui Manager kafe yang sudah di beritahu Ardi untuk memberinya seragam. Setelah itu terserah Ilham mau kerja di bagian apa karena memang niatnya Ilham hanya untuk pendekatan saja.


"Bisa aku kerja di bagian dapur?" tanya Ilham.


"Bisa mas, terserah mas Ilham mau kerja apa" sahut sang Manager di angguki Ilham.


"Apa semua koki di sana udah datang?" tanya Ilham lagi.


"Sudah mas, semua karyawan selalu datang lima menit sebelum shiffnya tiba" jelas sang Manager lagi.


"Saya mau jadi asisten koki yang paling jago masak" kata Ilham di angguki Manager.


Ilham pamit lalu pergi keluar dari ruangan Manager yang sekarang menjadi atasannya.


Menuju dapur kafe dimana sudah masuk shiff pekerja sampai malam. Di sana semua orangs edang sibuk tiba-tiba terhenti kala pintu dapur terbuka.


Sedikit kaget melihat adik bos mereka yang berseragam seperti mereka juga.


"Perhatian sebentar" ucap Manager yang ternyata sudah ada di samping Ilham.


"Mas Ilham akan bergabung dengan kalian di sini dan Arabella!" yang namanya di sebut melihat kesumber suara.


"Kamu bantu mas Ilham kerja ya, dia jadi asisten kamu sekarang" lanjutnya.


"Iya pak" sahut Arabella.


Meski bingung kenapa dirinya harus di beri asisten, tidak ada niatan untuk bertanya atau mencari tahu. Begitulah dirinya yang sangat tertutup dan tidak suka banyak bertanya sesuatu yang tidak penting.

__ADS_1


"Ya sudah kalian lanjutkan pekerjaan" sang Manager pergi meninggalkan dapur.


Ilham berjalan mendekati Arabella yang kembali sibuk dengan masakannya.


__ADS_2