Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
30


__ADS_3

Di dalam kelas kembali temanteman Ilham berkumpul untuk bertanya tentang apa yang terjadi pada Ilham tadi malam.


"Ceritain Ham kenapa tadi malam bisa ada preman yang hadang kalian" pinta Roy di angguki yang lainnya.


Ilham menatap teman-temannya satu persatu yang sudah memasang wajah kepo alias penasaran tingkat tinggi.


Akhirnya Ilham hanya bisa menghela napas panjang saja dan masih belum berminat untuk bercerita. Begitulah Ilham yang memang lebih suka mengatasi masalahnya sendiri jika ia bisa dan tidak terbuka dengan yang lain kalau di rasa tidak penting.


"Ngomong aja Ham, kita udah tahu kok kalo kamu.." Diki mendekatkan diri pada Ilham dan berbisik.


"Lagi deketin si putri es" lanjutnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ilham.


"Kalian tahu darimana?" tanya Ilham kaget karena tidak menyangka teman-temannya tahu akan hal itu.


"Hihihi... sory Ham sebenernya kami beberapa hari ini ngikutin kamu waktu lagi pergi sama si putri es" kata Mono dengan suara pelan.


Ya, mereka berbicara dengan suara pelan agar tidak ada yang mendengarnya dan hanya mereka saja.


"Kita cuma mau bantuin kamu aja kok Ham serius! gak punya niatan jahat apapun" ucap Doni.


"Iya, apa lagi untuk jadi pebinor alias pagar makan tanaman" sambung Toni.


Ilham kembali menghela napas panjang mendengar ucapan teman-temannya. Sebenarnya tidak masalah baginya kalau teman-temannya tahu dia mendekati Arabella. Hanya saja Ilham takut kalau nanti gadis itu tidak nyaman dengan teman-temannya yang sudah tahu akan hubungan mereka.


Karena kalau teman-temannya sudah tahu dia mendekati Arabella, itu artinya gadis itu akan di ajak kenalan dan selalu berada di dekat temannya juga selama dia ada di sana.


Sedangkan kedekatan mereka saja belum terlalu jauh dan masih tahap awal untuk mendapatkan hati Arabella. Tapi ya sudah lah, toh teman-temannya sudah tahu tidak mungkin di paksa harus lupa ingatan.


"Suratnya gimana?"Ilham melihat Gio yang memang di minta Ilham untuk membawa surat Arabella dari rumah sakit ke pihak sekolah agar tidak mendapat nilai jelek karena ketidka hadiran yang tanpa kabar.


"Beres tenang aja, udah di terima sama wali kelas kita" sahut Gio mengangkat jempolnya.


"Gak nanyak yang aneh-aneh kan ibu itu!" ucap Boby melihat Gio.


Karena akan menjadi berita viral di sekolah mereka kalau sampai ada yang tahu tentang kedekatan mereka dengan Arabella. Apa lagi suratnya yang di bawa Gio ke guru pasti akan mendatangkan tanda tanya besar.

__ADS_1


"Ya jelas nanyak lah, namanya hot news, seorang Gio pemuda tertampan di sekolah bawa surat si pu hemmm...." mulut Gio di bungkam oleh Firman sebelum pemuda itu mengatakan kelanjutan kalimatnya.


"Lemes banget sih mulut kamu, tinggal jawab iya atau gak aja susah" protes Firman sembari menekan bungkamannya pada Gio yang membuat pemuda itu berontak.


Gio mengusap mulutnya yang terasa sedikit sakit akibat bungkaman kuat Firman tadi.


"Jahat banget sih kamu mas! menodai diriku yang masih suci ini" ucap Gio dramatis dengan wajah pura-pura sedihnya.


"Jijik tahu gak" Diki menjitak kepala Gio pelan yang malah semakin di bawa dramatis oleh Gio.


"Kamu kok kdrt sama aku sih mas! jahat tahu gak!" Gio cemberut melihat Diki.


"Lah kalo KD yang penyanyi itu bisa joget ntar kita" sahut Toni menggerakkan badannya berjoget sedikit.


"Udah ah! bercanda aja kalian, serius nih kita nanyaknya tadi" ucap Roy melihat Gio yang sudah kembali memasang wajah biasa.


"Ok ok sekarang serius" sahut Gio.


Pemuda itu merapatkan diri dengan yang lainnya seraya merangkul pundak Boby dan Mono yang ada di sebelahnya seperti pemain bola kaki yang akan berdiskusi di lapangan.


Tapi teman-temannya yang lain sudah sangat serius mendendengarkan dan menanti jawabannya.


"Ibu itu nanyak..." Gio kembali menggantung ucapannya dengan menatap serius teman-temannya yang semakin penasaran begitupun dengan Ilham.


"Ntah lah, gak ada nanyak apa-apa cuma nerima suratnya gitu aja udah trus aku gak tahu lagi karena keluar dari ruang guru" lanjut Gio santai berdiri tegak tanpa merasa bersalah.


Mendengar ucapan Gio yang terakhir itu sungguh membuat teman-temannya yang lain dongkol. Bagaimana tidak dongkol kalau sudah serius mendengarkan apa yang akan di katakan tapi malah berakhir tidak mendapatkan apa yang ingin mereka dengar.


Mereka saling pandang dengan perasaan dongkol itu namun ada sesuatu yang tersirat dari itu semua. Sedangkan Guo duduk di kursinya dengan perasaan senang karena sudah berhasil mengerjai teman-temannya tanpa balasan yang di terimanya.


Karena jam masuk pelajaran sudah di mulai jadi dia bebas dari amukan yang lainnya. Itulah kenapa Gio bisa memasang wajah sombong oenuh kemenangan pada teman-temannya.


-------


Tiba jam istirahat semua siswa pergi kekantin, begitu Ilham dan teman-temannya yang ikut pergi kekantin. Kali ini Ilham ikut kekantin agar pikirannya tidak terus berkelana kerumah sakit dan bagaimana keadaan Arabella di sana.

__ADS_1


Dirinya ingin fokus ke sekolah dulu sampai nanti pulang. Langsung ke rumah sakit untuk melihat keadaan gadis itu.


"Pesen apa nih kita?" Mono melihat yang lainnya yang sudah dusuk di meja tempat biasa mereka duduk kalau ke kantin.


"Aku gak mau pesen apa-apa sih cuma mintakan bakso ya sama teh botol karena apapun makannya minumnya teh botol" kata Gio menjawab dengan wajah yang masih sombong.


Roy menatap Gio dengan satu mata yang agak di sipitkan seperri memiliki peluang untuk membalas temannya itu.


"Ya udah bakso aja semua sama teh botol" seru Firman di angguki yang lainnya.


"Kamu Ham, mau bakso juga?" Ilham mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Roy.


Mono dan Roy pergi menuju tempat pemesanan makanan di kantin itu. Meski harus mengantri dengan yang lainnya mereka tidak masalah dan menunggu.


Setelah memesan keduanya kembali ke meja di mana teman lainnya sudah duduk dan bercerita.


"Jadi gimana Ham?" tanya Diki yang sudah sangat penasaran dengan kejadian tadi malam itu.


"Aku kerja di kafe punya kak Ardi mulai tadi malam" ucapan itu membuat yang lainnya kaget.


"Tapi kenapa?" tanya Firman heran dan penasaran.


"Bukan kerja yang betul-betul kerja, cuma pengen supaya bisa deket dia aja" yang lainnya mengangguk paham sekarang dengan maksud Ilham.


"Waktu pulang masuk gang itu gak jauh ada preman yang hadang motor, trus ya gitulah aku lawan tapi ada yang deketin dia sampe pingsan karena ketakutan dianya, jaid aku gendong bawa keluar, untungnya ada mobil kak Ardi di deket halte lagi parkir jadi aku ke sana, kak Ardi sama kak Hesa yang hadapi itu preman, waktu aku mau nelpon paman ku lihat banyak notif di grup kita jadi sekalian aku kirim pesan aja sama kalian buat nolongi biar cepet karena kalian lagi di luar juga" jelas Ilham secara singkat pada teman-temannya agar tidak terus di tanya hal itu itu saja nantinya.


"Kita bakalan bantuin kamu apapun yang terjadi nanti, jadi jangan sungkan bilang sama kami kalo ada masalah Ham" ujar Bagas menepuk pundak Ilham.


"Iya Ham, kami pasti dateng kapan aja kalo kamu butuh bantuan" sambung Boby di angguki yang lain.


Ilham mengangguk pula sebagai responnya atas ucapan kedua temannya itu.


"Terimakasih tadi malam" ucapnya tulus.


"Nyantai aja" sahut Gio dengan gaya coolnya dan sneyuman yang menjengkelkan bagi yang lainnya karena Gio yang masih berusaha sombong pada mereka.

__ADS_1


__ADS_2