Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
25


__ADS_3

Sebelumnya...


Firman yang bosan di rumah janjian dengan yang lainnya untuk keluar dan akhirnya mereka sepakat untuk bertemu di minimarket karena Doni yang ternyata sedang keluar akan membeli sesuatu.


Dan akhirnya emreka bertemu di minimarket dan berakhir nongkrong di sana.


"Gak kerasa ya sebentar lagi malam minggu" ujar Toni sembari memakan cemilan di yang ada di tangannya.


"Memangnya kenapa kalo malam minggu?" tanya Riki melihat Toni.


"Tahu tuh! kayak punya pacar aja kamu ngurusin malam minggu" seru Diki.


"Kan gak harus yang punya pacar aja yang mau malam mingguan, jomblo kayak kita juga bisa kan malam mingguan" ucap Toni membela diri.


"Kalo kita mah gak pake malam apa malam apa, malam apa aja sikat kalo mau" celetuk Gio.


"Mau bersihin gigi kamu pake sikat?" canda Doni.


"Gak! cuma mau cebok" ketus Gio yang membuat yang lainnya terkekeh.


"Ya kali cebok pake sikat" ucap Firman.


"Gak masalah sih kalo mau" sahut Bagas.


"Lumayan ya! supaya kotoran yang membandel di daerah terlarang bisa hilang" sambung Bagas.


"Rasanya gimana ya!" Toni mendapatkan lemparan snak dari Boby.


"Pake nanya rasanya lagi! anda sehat!" kata Boby.


"Setengah waras kayaknya dia" sambung Roy.


Mereka terus berbincang ringan sampai lupa waktu.


"Udah semakin larut rupanya! ayo pulang" ajak Firman.


"Baru juga jam sebelas, masa anak muda pulang jam sebelas sih" celetuk Toni kembali mendapat lemparan dari Boby tapi bukan snak melainkan bungkusnya.


"Jadi kamu mau pulang jam berapa hah? jam sebelas malam di bilang baru udah hampir tengah malam nih" ucap Gio ngegas.


"Nah loh! ngengas dia, udah masuk berapa Gigi O" canda Roy.


"Masuk gigi sepuluh" sahut Gio ketus.


"Kenceng juga ya" kata Boby.

__ADS_1


"Kalah kalian sama aku" bangga Gio , entah apa yang di banggakannya.


"Iya in biar cepet, buang sampah sembarangan aja sok sokan mau ngengas" ejek Toni.


"Enak aja kalo ngomong, tuh! pelakunya" tunjuk Gio pada Boby yang hanya tersenyum tanpa dosa.


"Woy! sampah kamu nih sampah! buanglah sampah pada tempatnya" kata Toni mencibir Boby yang berdiri di dekat Firman.


"Kalo aku lain bukan itu slogannya" kata Boby.


"Trus apa?" tanya Mono penasaran begitupun yang lainnya.


"Buanglah sampah pada orang yang dekat tempatnya" kekeh Boby lalu kembali melemparkan bungkusan berisi sampah pada Toni yang memang dekat dengan tempat sampah.


"Ini nih! ini!" Toni memasukkan bungkusan sampah itu ke dalam tempat sampah di sampingnya.


"Calon penerus bangsa yang gak patut di contoh, kamu itu sebagai pemuda harapan bangsa harus bisa kasih contoh yang baik untuk orang lain, di mulai dari hal sederhana kaya buang sampah pada tempatnya, patuhi lalu lintas, pakai helm kalo berkendara atau kamu bisa kena tilang dan pasal-pasalnya, dan yang paling penting itu jangan buat orang tua kecewa, buatlah bangga orang tua yang udah susah payyah cari uang untuk biaya hidup kita, walau bukan dengan prestasi setidaknya dengan sikap baikmu yang gak buat susah orang tua, tahu kamu!" lanjut Toni menunjuk wajah Boby yang diam patuh dengan posisi berdiri siap tegak.


"Baik bapak Polisi, saya akan mematuhi semua peraturan perundang-undangan dan tidak akan melanggar" sahut Boby seakan dia mendapat nasehat dari seorang Polisi.


"Mana Polisi?" ucap Gio melihat ke segala arah mencari Polisi yang tadi di sebutkan Boby.


Pak


"Aku mau jadi Tentara bukan Polisi" sangkal Toni.


"Yee.. nih anak di doain yang baik malah gak mau lagi, siapa tahu gak lulus jadi Tentara bisa jadi Polisi?" kata Firman.


"Doa baik itu harus di aminkan" sambung Mono.


"AMIN" ucap yang lainnya pula.


Tiba-tiba ponsel mereka berbunyi bersamaan menandakan ada pesan di grup pribadi mereka. Karena mereka memberi nada berbeda untuk pesan grup chat mereka sendiri.


Mereka saling pandang heran dengan siapa yang mengirim pesan itu karena merasa sedang berkumpul. Tanpa sadar kalau satu personel mereka tidak ikut malam itu bersama mereka.


"Ilham" seru mereka bersamaan.


"Ayo cepat" kata Diki yang langsung naik ke atas motor di ikuti yang lainnya.


Ilham memberi pesan darurat pada teman-temannya melalui grup chat. Dan pesna itu membuat yang lain langsung tancap gas mendatangi alamat yang sudah du berikan Ilham.


Jika biasanya mereka akan santai naik motor, kali ini berbeda. Jalanan yang tadinya senggang karena hampir tengah malam jadi sedikit berisik karena suara motor besar kesembilang pemuda itu yang sedang saling kejar untuk celat sampai tujuan.


Begitu sampai di alamat yang di berikan Ilham mereka melihat mobil milik kakak sepupu Ilham yang berhenti dan di depannya ada dua pria berpkaian rapi dengan empat pria berpakaian preman.

__ADS_1


Khawatir Ilham dalam bahaya mereka menyorot ke arah keenam pria itu kala melihat preman hendak maju menyerang.


Turun dari motor mereka langsung mendekati Ardi dan Hesa yang heran dengan kedatangan mereka.


"Kenapa kak? mana Ilham?" tanya Firman.


"Di mobil" tunjuk Hesa ke arah mobilnya menggunakan jempol.


Gio langsung mendekati mobil kala melihat Ilham memanggil dengan gerakan tangannya.


"Kalian bantu kak Hesa dan kak Ardi aku lihat Ilham" ucapnya berlari cepat.


Sementara yang lainnya berurusan dengan keempat preman itu. Gio mendatangai Ilham yang terlihat cemas.


"Kenapa Ham? ada apa?" tanya Gio setelah dekat.


"Ayo kerumah sakit, kamu supir" Ilham masuk ke dalam mobil di kursi belakang.


Gio yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya mengikuti apa yang Ilham ucapkan. Gio segera masuk di bagian kemudi lalu melihat kebelakang di mana ada Ilham.


Matanya melotot tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ilham mendekap tubuh seorang perempuan yang entah siapa, wajahnya tidak terlihat karena tertutup rambut.


"Siapa?" tanya Gio.


"Nanti aja kalo mau nanyak, cepat jalan" Gio langsung menghadap kemudi dan menjalankan mobilnya meninggalkan para pria yang entah sedang apa di sana.


Kepanikan dan ke khawatiran jelas terlihat di wajah Ilham. Itulah yang membuat Gio langsung tancap gas membawa laju mobil menuju rumah sakit terdekat. Pasti ada sesuatu pikir Gio tetap fokus pada kemudinya.


Sedangkan di tempat yang lainnya, teman-teman Ilham terlihat maju mendekati keempat preman yang mundur. Takut karena kalah jumlah, dan wajah sangar yang di tunjukkan mereka nampak menyakinkan.


Belum lagi sesuatu yang di pegang Roy semakin membuat keempat preman itu pucat.


Lain yang di lakukan teman Ilham lain pula yang di lakukan Ardi dan Hesa. Melihat mobilnya pergi membuat Ardi langsung sibuk.


"Gawat kak! mobil kita di rampok" seru Ardi dengan wajah paniknya.


"Ck! siapa yang rampok orang Ilham sama Gio yang di dalem" sahut Hesa malas kembali melihay adegan di hadapan mereka.


"Apa? jangan-jangan Ilham sama Gio di culik kak! telpon ayah kak cepet"


Tak


Jitakan maut Hesa mendarat di jidat Ardi walau tidak kuat. Sudah yang di depan mereka belum selesia urusan di tambah lagi Ardi yang sikap konyolnya kambuh di tengah malam begini, semakin mumetlah Hesa di buat adiknya.


Untung adikku cuma satu yang modelan begini batin Hesa.

__ADS_1


__ADS_2