
Waktu menjelang sore, Arabella dan mamanya sudah masuk ke ruang operasi untuk melakukan operasi sumsum tulang. Sedangkan Ilham duduk di depan ruang operasi menunggu dan menemani Ilham.
"Gak nyangka aku kalo mamanya si putri es itu cantik" ucap Toni yang masih membahas tentang kecantikan mamanya Arabella.
"Memangnya kenapa?" heran Gio melihat Toni yang menatap pintu ruang operasi.
"Kalo mamanya si putri es itu di hias, di make up pasti uwah banget tuh" lanjut Toni tanpa menjawab ucapan Gio.
Firman bersedekap menatap curiga pada Toni.
"Kamu itu suka sama tante-tante ya! pecinta tante-tante kamu?" ucapnya dengan kedua mata yang sedikit memicing.
Toni yang mendengar ucapan Firman langsung menoleh.
"Gak juga sih, cuma kagum" ucapnya menyangkal.
"Kagum! kamu yakin! perasaan dari tadi siang waktu awal kita lihat mamanyasi putri es kamu terus bilang kalo mamanya si putri es cantik" ragu Bagas.
"Dasar predatan" celetuk Doni yang membuatmereka kompak melihat pemuda itu aneh.
"Apa predatan? setauku yang ada itu predator" kata Boby.
"Kalo predator itu gak pandang bulu, yang muda yang tua semua di sikat yang penting enak, kalo pedofil yang tua nyarik yang abg atau yang di bawah umur lah bisa di bilang, tapi kalo yang di sukai tante-tante apa namanya kalo bukan predatan alias perekrut dada tante" jelas Doni dengan enteng dan santai.
Pletak
Jitakan kuat langsung menghantam kepala Doni tanpa perasaan. Si pelaku menatap tajam pemuda yang mengaduh kesakitan itu tanpa merasa kasihan.
"Heh! siapa yang ngajari kamu ngomong gitu hah? dapet darimana kamu kalimat kaya gitu" marah Firman yang tidak habis pikir dengan isi kepala Doni yang ada-ada saja.
"Tahu tuh!, udah kaya raja mesum" ejek Toni yang merasa dapat pembelaan.
"Diem kamu! kalian berdua sama aja" sentak Mono sok galak.
Doni dan Tino yang menjadi tersangka utama keributan melirik kesal Mono.
"Cih! sok suci" gumam Doni.
"Tahu! mendingan juga Suci ibu kantin, cantik bohay" gumam Toni pula yang malah kali ini gantian dirinya yang mendapat jeweran dari Ilham.
"Diem atau pergi!" gertak Ilham yang membuat Toni kincep karena tatapan tajam Ilham itu.
__ADS_1
"Ampun tuan muda! ampun!" rintih Toni pura-pura kesakitan.
Pada hal Ilham tidak benar-benar menarik telinganya. Ilham menarik telinga Toni hanya agar pemuda itu bisa melihat kearahnya yang sudah kesal dengan apa yang di ucapkan Toni sejak tadi.
"Kalo kamu suka tante-tante jangan sama mamanya Rabel, awas aja kamu!" ancam Ilham membuat Toni mengangguk cepat.
"Siap tuan muda! siap! tadi cuma becanda kok" kata Toni cepat.
Ilham melepaskan telinga Toni dan menghela napas panjang. Hatinya begitu gelisah menunggu kabar dari dalam ruang operasi. Entah apa yang di lakukan para dokter di dalam sana hingga sampai malam tiba operasi belum selesai.
Teman-teman Ilham saling pandang dengan wajah heran.
"Siapa Rabel?" bisik Roy pada Firman yang hanya menggeleng.
"Bukannya si putri es itu namanya Arabella! kok jadi Rabel!" bisik Gio pula yang memang tidak tahu akan hal itu.
"Me ne ke te he" ucap Diki memberi respon akan bisikan dari Gio tadi.
Sontak Gio berdecak karena jawaban temannya itu.
Setelah menunggu beberapa jam akhirnya pintu terbuka, Ilham dan yang lainnya berdiri untuk mendengarkan.
"Gimana dokter?" tanya Ilham penasaran.
"Apa mamanya juga harus di ICU dokter?" tanya Ilham heran, pada hal mamanya Arabella hanya mendonor.
"Kondisi ibu Nuri sempat menurun setelah selesai operasi tadi, tapi syukur hanya sebentar dan dapat kami atasi, jadi semuanya sudah baik-baik, tapi tetap harus dalam pantauan kami" sahut Dokter lagi.
Setelah memberikan penjelasan, Dokter pergi meninggalkan ruang operasi, dan tak lama kemudian Hesa datang dengan seorang pria yang kemungkinan seusianya.
"Gimana Ham?" tanya Hesa yang baru datang.
"Operasi berhasil kak, sebentar lagi di pindahkan ke ICU" sahut Ilham.
"Kok ke ICU!"
"Iya dokter masih harus memantau keduanya sampe sadar baru di pindahkan ke ruang rawat"
Hesa mengangguk mengerti.
"Oh! kenalin Ham, ini temennya kakak sekaligus rekan kerja, kita mampir ke sini karena sekalian lewat tadi habis ada kerjaan" Hesa memperkenalkan pria di sampingnya.
__ADS_1
Sudah jadi kebiasaan bagi mereka untuk mengenalkan teman mereka pada keluarga. Meski teman jauh yang jarang bertemu sekalipun. Karena bagaimanapun juga jika nanti bertemu entah di manapun dengan teman mereka, bisa saling sapa dan bersilaturahmi.
"Aji Shaputra Suwoyo" ucapnya mengulurkan tangan yang di sambut oleh Ilham.
"Ilham Hanum Prakasa" balas Ilham.
Teman-teman Ilhampun ikutan berkenalan juga dengan pria uang merupakan penerus perusahaan besar di bagian tambang dan transportasi itu.
Hingga perkenalan mereka selesai dan pintu ruang operasi kembali terbuka. Keluarlah satu ranjang yang di atasnya terdapat Arabella.
Aji melihat wajah yang ada di atas ranjang itu dengan kening yang mengkerut dan merasa familiar.
Karena ruang operasi dan ICU tidak terlalu jauh jadi Ilham hanya mengikuti saja dan tidak berjalan jauh. Tak berselang lama keluar satu ranjanh lagi dari dalam ruang operasi di mana mamanya Arabella ada di atasnya dengan kedua mata terpejam.
Melihat orang yang ada di atas ranjang itu membuat kedua mata Aji melotot kala menyadari siapa orang itu.
"Ma.. mama!" lirihnya dengan dada yang bergemuruh hebat.
Hesa yang ada di sebelahnya menatap heran dengan respon yang di berikan temannya itu.
"Kamu mau kemana Ji?" tanya Hesa kala menyadari Aji yang langsung berlari mengejar ranjang pasien yang baru lewat setelah berucap tadi.
"Ma! mama! ma ini Aji ma! mama" kedua mata Aji berkaca kala menatap wajah yang masih dapat di kenalinya dengan baik.
Wajah yang beberapa tahu belakangan hanya selalu di pandangnya dari foto saja. Wajah yang menghilang saat dirinya berusia hampir sepuluh tahun.
"Suster! mama saya kenapa sus?" tanya Aji pada suster yang baru keluar dari ruang ICU setelah pekerjaannya selesai.
"Mamanya sedang dalam pantauan setelah melakukan donor sumsum tulang belakang mas, setelah sadar nanti baru kami akan pindahkan ke ruang rawat" jelas suster.
"Donor sumsum tulang belakang! tapi..."
"Terimakasih ya sus" sela Hesa menahan Aji agar tidak terus bertanya yang nantinya malah akan menimbulkan pertanyaan pada si suster atau malah bisa menimbulkan masalah.
Setelah suster pergi, Aji menatap Hesa dan yang lainnya menuntut penjelasan.
"Ada apa ini Sa? kenapa mama ku? apa yang terjadi? siapa yang di kasih donor sama mamaku? dan siapa perempuan yang pertama kali keluar tadi?" cecar Aji dengan napas yang memburu karena sudah sangat menahan segala rasa yang bergejolak di dadanya.
Satu sisi hatinya merasa senang telah menemukan mamanya setelah lama mencari, tapi di sisi lain juga sedih dengan apa yang di alami mamanya. Dan perempuan muda sebelumnya membuat hati Aji bahagia dan hangat sekaligus.
Merasa begitu dekat dengan perempuan yang wajahnya di rasa seperti dirinya dan sang papa.
__ADS_1
"Mama! maksudnya apa ya?" tanya teman-teman Ilham kompak menyerukan kebingungan mereka sejak tadi kala mendengar pria yang merupakan teman kakak sepupu Ilham itu terus memanggil mamanya Arabella dengan mama dan mengakui sebagai mamanyapula.