
Seminggu sudah berlalu dengan cepat, semuanya sudah mulai membaik. Keadaan Arabella yang sudah stabil dan tinggal menunggu dokter sore nanti untuk memeriksa terakhir sebelum Arabella pulang.
Dini juga sudah bebas sepenuhnya dari kasus yang menimpanya. Semua bukti menunjukkan kalau dia tidak bersalah, bahkan ada cctv di depan gang yang memberi petunjuk pembenaran kalau Dini bukan pelakunya.
Karena yang terlihat di rekaman yang berhasil di dapatkan suruhan Aji, di sana menunjukan kalau setelah Dini memasuki gang menuju rumahnya. Ayah tiri Arabella masuk ke dalam gang juga dengan langkah cepat mengejar Dini.
Setelah itu terlihat seorang pria yang berpakaian serba hitam dan penampilan seperti preman masuk sembari menyembunyikan pisau yang di jadikan alat membunuh.
Tidak lama setelah pria itu masuk terlihat keluar lagi dengan berlari kencang dengan paniknya.
Bahkan setelah Aji menangkap pria pembunuh yang sesungguhnya. Aji langsung mengintrogasinya tanpa basa basi. Awalnya tidak mengaku dan terus mengelak sampai akhirnya Aji terpaksa mengancam dengan pisau yang sama persis dengan yang di gunakan pria itu saat membunuh.
Setelah semua di dapatkan dan masalah jelas barulah Aji membawa pria itu ke kantor polisi dan menjelaskan semuanya serta memberikan bukti. Dan dari keterangan pria itu sendiri mengakui kalau memang dia yang membunuh ayah tiri Arabella dengan alasan dendam.
Dini pun bebas dari penjara dan beberapa pihak kepolisian meminta maaf pada Dini karena tidak mengusut kasus dengan baik sata itu. Tentu saja Suyowo yang tidak dapat menerima alasan para polisi itu langsung melayangkan protes melalui kuasa hukumnya dan mengajukan tuntutan atas kelalaian para pihak kepolisian itu yang sudah menyebabkan Dini harus berpisah dengan Arabella dan menjalani kehidupan yang sulit.
Sedangkan untuk pemilik kontrakan yang mengusir Arabella di saat masa kontrakan belum habis. Bahkan sudah menghina dan mencaci Arabella serta Dini, kini sudah mendekam ketakutan di penjara atas tuduhan yang tidak berdasarkan bukti itu, serta mencemarkan nama baik.
Suwoyo tidak main-main dengan ucapannya yang akan memberi pelajaran pada orang yang sudah menghina bahkan menyakiti keluarganya.
Hanya satu yang belum baik-baik saja saat ini, dan itu membuat hati seorang ayah masih sedih melihatnya. Karena kesalahan yang tidak pernah di lakukannya dan keteledorannya dalam menjaga keluarganya.
Kini Suwoyo harus menahan segala kesedihan dan perasaan rindunya karena Arabella yang belum mau di dekati olehnya. Bahkan kini segala bujukan dan masukan positif sudah di berikan pada Arabella, tapi tetap saja jiwanya yang pernah terguncang membuatnya sulit menerima kedatangan yang namanya ayah atau papa di sisinya lagi.
"Kita mau pulang kemana ma?" tanya Arabella yang saat ini sedang dui suapi makan siang oleh Dini.
Bukan tidak bisa makan sendiri, tapi Dini merasa ingin melakukan itu pada putrinya untuk memanjakan Arabella.
"Kita pulang ke rumah papa" sahut Dini.
Arabella melirik pria berumur yang sedang duduk di sofa sembari menatapnya sendu dan tersenyum tulus. Meski tidak dapat di pungkiri dalam hati Arabella sangat ingin merasakan pelukan seorang papa. Namun Arabella menahannya karena masih merasa sedikit takut kala pria dewasa mendekat padanya.
__ADS_1
"Dimana?" tanya Arabella lagi sembari melihat mamanya.
"Di kota kelahiran kamu nak, kota J" sahut Suwoyo berdiri dan mendekat ke arah ranjang dengan pelan.
Arabella sedikit memundurkan tubuhnya kala Suwoyo semakin dekat dan berdiri di belakang Dini.
"Tapi.. sekolahku!" ragunya melirik Suwoyo yang tersenyum manis padanya.
"Nanti biar asisten papa yang urus, pindah ke sana aja ya!" bujuk Suwoyo dengan harapan besar putrinya akan mau.
Arabella menunduk, ada perasaan ragu dalam hatinya untuk ikut pergi meninggalkan kota yang sudah di tinggalinya dengan penuh perjuangan itu.
"Aku di sini aja, kalo mama mau ikut sama.. pa pa pergi aja" ucapnya pelan dan ragu saat mengucapkan kata 'papa'.
"Loh kenapa gitu nak? gak mungkin mama tinggalin kamu di sini sendirian" kaget Dini dengan keputusan anaknya.
Sedangkan Suwoyo diam dengan hati yang bergetar saat tadi mendengar Arabella yang menyebutnya papa walau ragu. Tapi itu sudah membuat hatinya senang.
"Gak perlu kerja lagi nak, papa yang bakalan penuhi semua kebutuhan kamu, kamu tinggal bilang aja mau apa nanti papa kasih untuk kamu apapun itu" bujuk Suwoyo.
Arabella mengangkat kepalanya dan menhela napas panjang. Entah kenapa hatinya merasa snagat berat meninggalkan kota itu. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan sangat sulit untuk di tinggalkan.
Pandangan Arabella bertemu dengan seorang pemuda yang sudah menemaninya selama sebulan ini dan selalu ada untuknya. Bahkan di saat bahaya pemuda itu mau menolong dan membantunya.
Kini pemuda itu berdiri di pintu dan menatapnya dengan intens dan serius. Sangat nampak di mata Ilham kalau dirinya tidak ingin Arabella pergi tapi tidak memiliki hak untuk melarang.
Tidak ingin mengganggu pembicaraan keluarga itu, Ilham terseyum manis dan tulus pada Arabella lalu keluar dan menutup pintu rapat.
Tangan Arabella terangkat hendak mencegah Ilham pergi. Tapi suaranya seakan tidak bisa keluar untuk mencegah, hatinya terasa hampa saat Ilham sudah tidak terlihat di matanya.
Ada apa denganku batin Arabella gundah dengan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Suwoyo dan Dini saling pandang kala melihat bagaimana Arabella yang sepertinya tidak mau di tinggalkan pemuda tampan itu.
"Mungkin dia salah satu alasan putri kita gak mau pergi" bisik Suwoyo pelan pada Dini yang hanya mengangguk setuju.
Dini memegang tangan Arabella yang sudah di turunkannya dan pandangannya yang menunduk.
"Kamu suka dia sayang?" tanya Dini yang membuat Arabella menatap kaget pada Dini.
"Eng.. enggak kok ma" sangkal Arabella karena dia belum tahu bagaimana perasaannya, apa lagi belum pernah dekat dengan pemuda.
Dini dan Suwoyo tersenyum saja melihat tingah Arabella yang wajah putihnya sedikit memerah.
Sementara di luar ruangan, Ilham yang tadi akan masuk terpaksa kembali menutup pintu dan mundur lagi. Membuat Hesa dan Aji yang sedang duduk di luar membahas pekerjaan .
"Kok gak jadi Ham?" tanya Hesa menatap Ilham heran begitupun dengan Aji.
"Gak kak, mereka lagi bahas hal penting" Ilham berjalan pergi tanpa menoleh lagi dengan perasaan yang kalut.
Hesa menatap sedih pada Ilham yang pastinya sangat berat akan di tinggalkan pujaan hatinya. Cinta yang baru bersemi harus berpisah jauh.
"Tunggu nak!" panggil Suwoyo cukup kuat karena Ilham yang sudah hampir belok menuju bagian lift.
"Ilham!" panggil Hesa pula yang membuat Ilham langsung berhenti dan menoleh.
Di lihatnya papa Arabella yang berjalan mendekat padanya.
"Kenapa om?" tanya Ilham sopan.
"Bisa bicara sebentar!" pinta Suwoyo.
Ilham terlihat berpikir sejenak, menebak kira-kira ada hal apa. Ia mengangguk setuju dan keduanya langsung duduk di tempat duduk yang ada di sana. Cukup berjarak dengan Hesa dan Aji jadi kedua pria dewasa itu tidak akan mendengar apa yang di bicarakan Ilham dan Suwoyo.
__ADS_1