
Ardi mengajak Ilham pulang setelah kafe akan tutup. Ilham hanya mengangguk saja mengikuti apa yang di katakan oleh Ardi.
Mobil milik Ardi keluar dari parkiran menuju jalan raya. Ardi yang sedang bermain ponsel heran kala mendapati mobil yang terasa berhenti. Pandangannya naik dan melihat kalau memang mobil yang di kendarainya berhenti.
"Kenapa Ham?" tanya Ardi melihat pemuda di sebelahnya yang malah fokus melihat spion.
"Heh! kenapa sih?" heran Ardi ikut melihat dari spion juga agar tahu apa yang sedang di lihat adiknya.
Namun bukannya mendapatkan apa yang di inginkannya, Ardi malah di dorong oleh Ilham agar kembali ke posisi semula.
"Ada apa sih?" penasaran Ardi.
Ilham tidak perduli dengan segala pertanyaan kepo kakaknya dan masih fokus di spion. Sampai akhirnya pandangannya mengikuti gerakan seorang perempuan yang menuju halte bus di depan sana.
Dialah Arabella atau Rabel panggilan, masa lalunya yang masih menjadi misteri membuatnya lebih sering di panggil Arabella.
Ardi melihat juga perempuan berpakaian seragam kafe miliknya yang sedang menuju halte.
"Kamu itu nungguin apa sih Ham?" geram Ardi karena mobil mereka yang tidak kunjung bergerak.
Ilham tidak merespon geramnya sang kakak dan masih melihat Arabella yang menunggu di halte. Ardi menyadari arah pandangan Ilham yang tidak beralih itu dari perempuan di halte sana.
"Jangan bilang kalo kamu lihatin dia ya!" ucap Ardi menebak dengan senyum nakalnya.
Ilham hanya mengangguk dengan acuh membuat senyuman Ardi merekah. Tidak menyangka kalau adik sepupunya yang acuh pada perempuan ini malah memperhatikan perempuan pula.
"Wah! siapa dia? apa kamu punya gebetan baru setelah Arabella itu? atau kamu udah gak tertarik lagi sama Arabella makanya cari yang baru? kalo di lihat dari seragamnya dia kayaknya karyawan kafe kakak deh Ham" ucap Ardi panjang lebar mengeluarkan semua yang ada di kepalanya.
"Siapa dia namanya?" tanya Ardi lagi menaik turunkan kedua alisnya menggoda Ilham.
"Arabella" Ardi menarik wajahnya kaget mendengar nama yang barus aja di sebutkan oleh Ilham itu. Bahkan bibir di bawah hidungnya terangkat sebelah saking kagetnya.
__ADS_1
"Masa sih! kakak serius nih!" kata Ardi masih dengan tampang kagetnya. Ilham hanya mengangguk dengan mantap.
"Maksud kamu perempuan yang pakek seragam karyawan kakak itu namanya Arabella?" Ilham mengangguk lagi.
"Arabella yang udah buat kamu penasaran itu? dia orangnya?" lagi Ilham mengangguk mengiyakan.
"Hah! astaga kenyataan macam apa ini" gumam Ardi shok.
Ternyata ucapannya yang sejak awal di anggapnya candaan pada Ilham malah jadi kenyataan. Atau malah memang dirinya yang baru tahu kenyataan itu.
Mobil bergerak meninggalkan tempat di mana mobil mereka tadi berhenti demi melihat gebetan Ilham. Yang aneh bagi Ardi adalah, kenapa mobil mereka malah mengikuti arah jalan bus di depan mereka itu.
"Jangan bilang kalo kita mau ngikutin bus itu ya!" tebak Ardi melihat Ilham yang hanya diam fokus melihat bus di depannya.
"Oh Arabella betapa kamu sudah memporak-porandakan hatiku.. hu wo wo wo.. andai kamu tahu hatiku yang selalu bergetar kala melihatmu oh Arabell.. akh huwek, apa sih Ham?" lagu asal-asalan yang di ciptakan dadakan oleh Ardi untuk menggoda Ilham harus terhenti kala Ilham memasukkan tisu ke dalam mulut kakaknya yang sangat berisik itu.
Selain mengganggu konsentrasinya, lagu yang di nyanyikan oleh Ardi tadi justru membuat Ilham merasa malu mendengarnya. Merasa dirinya terlalu terlihat sekali kalau sedang menyukai seorang perempuan. Padahalkan baru penasaran aja pikirnya.
Bus berhenti, mobil yang di kendarai Ilham juga berhenti. Bukan Arabella yang turun,mobil kembali melaju mengikuti bus yang kembali bergerak sampai akhirnya berhenti lagi di salah satu halte.
Di halte itulah Arabella turun dan langsung berjalan pergi meninggalkan halte menuju gang yang tidak jauh dari halte. Ilham menghentikan laju mobilnya lalu keluar untuk mengikuti Arabella.
"Mau kemana Ham?" teriak Ardi karena di tinggalkan.
Pria itu menghela napas panjang sembari memperhatikan Ilham yang menjadi penguntit sampai hilang di balik tekongan gang.
"Hah disini aja lah, males keluar biar Ilham aja yang jadi penguntit" gumam Ardi pada dirinya sendiri.
Mengambil ponselnya lalu berkirim pesan pada orang di seberang sana yang pasti akan sangat tertarik dengan kabar yang akan di sampaikannya. Bahkan sampai melakukan video call untuk meyakinkan di mana keberadaan Ardi saat ini agar tidak kena tipu oleh pria itu.
Sedangkan Ilham masih mengikuti Arabella dari belakang dan cukup berjarak. Tidak ingin terlalu dekat karena akan terlalu mencolok, Ilham juga bertingkah layaknya orang gang situ agar Arabella tidak curiga.
__ADS_1
Membuka kemeja hitam yang di pakainya lalu mengikatnya di pinggang. Menyisakan kaos hitam lengan pendek yang menutupi badannya yang nampak cukup kekar untuk ukuran anak remaja yang beranjak dewasa.
Arabella yang merasa ada seseorang di belakangnya berhenti berjalan. Melihat kebelakang siapa yang sedang berada di sana. Seorang pemuda yang terlihat sedang berjalan pelan sembari menunduk bermain ponsel.
Merasa tidak ada yang janggal, Arabella kembali melangkahkan kakinya tanpa perduli dengan orang di belakang sana. Ilham melirik ke depan mendapati perempuan yang di ikutinya sudah berjalan lagi.
Mengehmbuskan napas lega karena tidak di curigai, bahkan Arabella tidak merasa takut dengan keberadaannya.
"Apa mirip warga sini ya? makanya dia gak takut" gumam Ilham pelan sembari terus melangkah mengikuti Arabella dengan gaya cool nya seperti tadi.
Pada hal tidak ada apapun yang di lakukan Ilham dengan ponselnya. Hanya melihat pesan-pesan yang di kirimkan teman-temannya di grup, membalas seadaanya karena fokusnya bukan ke situ.
Langkah kaki Ilham terhenti kala mendapati yang di ikutinya belok menuju sebuah rumah sederhana. Bahkan terkesan kumuh bagi Ilham walaupun tidak ada yang berantakan di bagian depannya.
Arabella masuk ke dalam rumah kecil itu setelah membuka pintunya dengan kunci yang di keluarkan dari dalam tas lusuh yang di sandangnya. Masuk lalu menutup pintu lagi dengan rapat tanpa tahu dan sadar kalau ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.
"Apa itu rumahnya? atau kontrakannya? kenapa dia kayak yang tinggal sendirian? apa gak ada keluarganya yang tinggal sama dia? kemana orang tuanya? apa dia bukan warga sini juga?"
Ilham bergumam sendiri dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan itu di benaknya. Masih menatap pintu di mana tubuh Arabella tadi menghilang. Ilham tidak menyangka kalau ternyata Arabella memang perempuan yang sangat misterius seperti apa yang di katakan teman-temannya.
Tidak ingin berlama-lama di sana yang malah akan membuatnya ketahuan, Ilham balik arah kembali keluar gang. Menuju mobil yang tadi di parkirkannya di dekat halte.
Brak
Ilham menutup pintu mobil setelah duduk di balik kemudi. Menghela napas panjang sebelum akhirnya menghidupkan mesin dan meninggalkan area halte.
"Bagaimana? apa yang kamu dapatkan di sana?" tanya Ardi penasaran.
Apa lagi melihat wajah Ilham yang nampak semakin penasaran saja dengan perempuan yang tadi di ikutinya.
Ilham hanya mengangkat kedua bahunya menandakan dirinya tidak mau berkomentar apa-apa. Karena memang apa yang di lihatnya nasih belum mendapatkan jawaban yang pasti.
__ADS_1