Penakluk Si Berandalan

Penakluk Si Berandalan
09


__ADS_3

Pagi sudah kembali hadir, membawa hari yang baru bagi semua orang. Meski aktifitas tetap itu juga dan hanya kegiatan yang sedikit berbeda.


"Udah sarapan aja bro!" seru Hesa yang baru tiba di ruang makan bersama Ardi.


"Hm" Ilham hanya bergumam menyahuti kalimat Hesa karena mulutnya yang sedang penuh makanan.


"Jangan ganggu adikmu makan, duduk ambil makanan sendiri" ucap Haru pada anak pertamanya.


"Iya bun, ini juga mau sarapan sendiri, ya kali di suapin sama bunda malu lah" kata Hesa yang memang dirinya sudah dewasa.


Bahkan Hesa sudah memiliki perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang industri. Sekalian memegang perusahaan ayahnya yang jarang di datangi oleh si pemilik.


"Kalo kamu mau ya ngapain harus malu, yang nyuapin juga bunda, kecuali kalo kamu minta di suapin sama istri orang lain baru harus merasa malu" sahut Haru menatap anaknya sebentar sembari mengambilkan makanan suaminya.


"Berarti kalo di suapin bunda harus malu juga lah, kan bunda istri orang lain juga" celetuk Ardi yang mendapat pelototan dari Haru.


"Orang lainnya itu ayahmu sendiri Ardi, atau kamu mau bunda coret dari kartu keluarga nama kamu! iya!" galak Haru pada Ardi yang cemberut karena ancaman dari bundanya.


"Bunda mah gak seru, gak bisa di ajakin becanda" kata Ardi. Haru kadang memang bersikap galak pada anak-anaknya, apa lagi kalau ucapan kedua anaknya itu tidak beres seperti tadi.


Jiwa perepet ala emak-emak Haru akan keluar, bahkan suaminya juga tak luput dari sikap galaknya kalau merasa tidak cocok dengan apa yang di lakukan dan di ucapkan suaminya. Meski begitu Haru tetaplah sosok wanita yang sangat di sayangi anak-anak dan suaminya. Karena jiwa keibuannya membuatnya terkadang harus sedikit bersikap galak.


Haru pernah berharap agar mendapatkan anak yang pendiam agar bisa menjadi pendingin kepalanya kalau merasa pusing dengan kalimat-kalimat konyol anak-anaknya dan juga tingkah jahil mereka. Meski tuhan tidak memberikannya langsung dari rahimnya.


Namun Tuhan masih mendengar doanya dengan kedatangan Ilham yang pendiam dan acuh. Namun saat berhadapan dengannya sungguh mmebuat hatinya tenang. Tenang dalam artian tidak darah tinggi seperti saat menghadapi anaknya yang jahil. Ilham yang pendiam sangat penurut dengannya, itulah yang membuat Haru sangat senang dengan kehadiran Ilham yang selalu bisa di ajaknya bicara pelan-pelan.


Kalau anaknya sendiri maka akan bersikap cukup bar-bar dalam menanggapi apa yang di katakannya. Bukan bar-bar dalam tindakan, tali omongan yang sungguh terkadang menguji tensi.


"Sekarang waktunya sarapan! bukan bercanda!" ucap Haru.

__ADS_1


"Iya bunda tayang lope lope mendal yang paling tantik sedunia teletubis" sahut Ardi dengan kekonyolannya.


"Ardi.. jangan sampe bunda suapin kamu pakek sendok sayur ya!" geram Haru menatap galak anka bungsunya.


"Sekalian pake sendok semen aja bun atau gak pakek tangan alat berat yang untuk angkat sampah itu" ucap Hesa semangat memanasi suasana. (kalo di daerah author yang di maksud Haesa tadi namanya beko ya).


"Iya sekalian kalian berdua bunda keruk juga pakek alat berat itu biar tahu rasa" kesal Haru menatap kedua anaknya.


"Jangan dong bun! nanti ketampanan Hesa luntur kalo di keruk pakek alat berat" sahut Hesa santai sembari menyisir rambutnya dengan jari tangannya.


"Iya bunda, nanti kalo Ardi gak laku deketin cewek gimana? nanti bunda gak bakalan bisa punya menantu cantik" sambung Ardi.


"Bodo amat" sentak Haru kesal duduk di tempatnya.


Jodi yang mendengar keributan kecil dari anak dan istrinya hanya diam sembari terkekeh kecil. Interaksi seperti ini hanya akan terjaid di kala sarapan saja. Kalau makan malam sudah capek dan akan istirahat masing-masing.


"Aku berangkat" seru Ilham di tengah keributan kecil itu.


Menghampiri Haru, mencium pipi kanan wanita itu lalu menyalami paman Jodi sebelum akhirnya pergi keluar dari ruang makan untuk pergi kesekolah.


"Nadai anakku selalu bersikap tenang seperti itu pasti darah tinggiku aman" gumam Haru melirik kedua anaknya yang malah menahan tawa di sela kunyahan mereka.


Apapun yang di katakan oleh Haru tidak pernah mereka ambil hati, apa lagi kalau di banding-bandingkan dengan Ilham. Mereka tidak akan terpengaruh sama sekali. Bagi kedua anak Jodi itu, mengganggu bunda mereka adalah hal paling menyenangkan yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.


Apa lagi setiap ucapan bundanya yang selalu membandingkan sikap mereka dengan Ilham itu hanya candaan. Haru malah akan seperti orang ketakutan dan sangat khawatir bila kedua anaknya justru menjadi pendiam.


Di pikiran Haru malah anak-anaknya yang sedang sakit atau ada masalah besar yang sedang mereka hadapi makanya banyak diam. Jadi apapun yang di katakan bunda mereka tentang keributan yang mereka lakukan di rumah itu tidak pernah di anggap serius.


"Heh!" Hesa menyenggol kaki Ardi di bawah meja untuk menarik perhatian adiknya.

__ADS_1


"Apa?" sahut Ardi santai memakan sarapannya.


"Ceritakan yang tadi malam" pinta Hesa melirik adiknya sembari memasukkan makanan ke dalam mulut.


"Cerita apa?" tanya Jodi buka suara setelah sejak tadi berdiam diri menikmati makanannya.


Ardi meletakkan sendok di tangannya, meraih minum barulah ia mulai bercerita.


"Kakak tahu gak kalo perempuan yang namanya Arabella itu memang ada di kafeku!" seru Ardi heboh.


"Oh ya!" sahut Hesa pelan karena masih makan.


"Bukannya kamu bilang memang ada karyawanmu yang namanya Arabella!" heran Haru menatap serius anak bungsunya.


"Sebenarnya itu Ardi cuma bercanda bun! mau ngerjain Ilham aja karena diakan gak pernah kelihatan deketin cewek manapun, bahkan waktu acara ulang tahun Ardi pun Ilham gak mau di deketin temennya Ardi, dia malah pergi pulang kan! nah jadi waktu denger bunda sama Ilham bahas masalah cewek yang di deketin Ilham ya sekalian Ardi kerjain dia, eh malah rupanya cewek yang di kejer Ilham memang ada di kafe Ardi" jelasnya panjang lebar.


"Jadi bisa di bilang candaanmu itu nyata gitu!" ucap Hesa.


"Lebih tepatnya memang ada karyawan ku yang namanya Arabella kak, dan memang cewek itu juga yang lagi di kuntit sama Ilham" sahut Ardi lagi.


"Itu namanya kamu lagi sial, kejahilan kamu gak berguna" celetuk Haru.


"Dasar dianya aja bun yang gak peka sama sekitarnya, karyawan sendiri aja gak tahu padahal kafenya gak besar" ejek Hesa.


"Mana kafe usaha pertama lagi, karyawan yang malang" sambung Jodi ikut mengejek anak bungsunya.


"Apa sih yah? namanya juga Ardi gak pernah lagi ke kafe yang itu" elak Ardi.


Yang lain hanya bisa terkekeh geli melihat Ardi yang biasanya selalu berhasil dalam hal menjahili saudaranya, kini harus sial karena kejahilannya mengerjain Ilham justru malah membuatnya harus shok dengan kenyataan yang ada.

__ADS_1


__ADS_2