
"Gimana tadi Ham?" tanya Mono penasaran.
Saat ini mereka sedang menuju parkiran sekolah untuk pulang karena sudah waktunya.
"Apa sesuatu yang seru?" tanya Roy juga.
"Gak kedua duanya" sahut Ilham singkat sebagai jawaban dari kedua pertanyaan dari temannya.
"Mereka nuntut gak?" tanya Gio penasaran.
Ilham geleng kepala.
"Mereka ngancem?" Ilham mengangguk atas pertanyaan Diki.
"Trus kamu di apain sama kepala sekolah?" tanya Firman.
Ilham hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanda tidak ada. Tapi teman-temannya berpikir mungkin Ilham sedang tidak mood jadi begitu. Atau pertanyaan mereka tidak menarik dan memang tidak ada sesuatu apapun yang terjadi di ruang kepala sekolah.
"Kamu mau langsung kerumah sakit tempat si putri es Ham?" tanya Gio saat mereka sudah naik ke atas motor masing-masing.
"Iya" sahut Ilham yang semakin membuat teman-temannya yakin kalau pertanyaan mereka sebelumnya memang tidak menarik bagi Ilham.
Dan pembahasan tentang si putri es begitu menarik bagi Ilham yang mulai terdeteksi penyakit bunga cinta bermekaran.
"Kita semua ikut ya Ham, penasaran" kata Boby.
"Asal kalian tenang" sahut Ilham mengingatkan teman-temannya lebih dulu karena tahu bagaimana berisiknya teman-temannya itu.
Kesepuluh motor besar itu pergi keluar dari parkiran sekolah menuju jalanan. Tapi ada yang sedikit aneh menurut teman-temannya Ilham. Karena pemuda itu malah menuju rumah sakit yang tidak jauh dari sekolah mereka alih-alih ketempat di mana Arabella di rawat.
Apa di rawat di sini ya batin mereka kala motor sudah berhenti.
Kok ke sini! apa si putri es di pindahkan ke sini? batin Gio pula yang merasa lebih heran lagi.
"Kok ke sini Ham? apa si putri es di rawat di sini?" tanya Toni.
"Gak! nantibaru ke sana" sahut Ilham.
"Trus kita ke sini ngapain? gak mungkin mau gebet dokter atau suster cantik di sini kan" celetuk Doni dengan wajah konyol.
"Ngawur" ucap Firman memukul pelan pundak Doni.
"Ya siapa tahu kan kalian udah bosan jadi jomblo trus mau cari gebetan kaya Ilham" enteng Doni.
"Ngaca woy ngaca" ucap Moni di telinga Doni hingga membuat telinga pemuda itu berdengung.
__ADS_1
"Ish.. gak usah di telinga juga kali ngomongnya, aku gak budeg" protes Doni.
"Lagian kamu kok ya ngadi-ngadi aja ngomongnya" kata Boby.
"Udah diem! jangan sampe kita di usir gara-gara kalian ribut terus ya!" sentak Diki yang membuat teman mereka berhenti berdebat.
"Permisi! ruangan atas nama Meisa di mana ya?" tanya Ilham pada petugas yang berjaga di sana.
"Sebentar ya dek" sahut suster yang menghadap komputer itu.
Teman-teman Ilham sendiri mulai menebak apa yang akan di lakukan Ilham mencari ruangan gadis itu.
"Pasien atas nama Meisa ada di kamar Melati no seratus satu" kata suster.
"Terimakasih" Ilham berjalan menjauhi meja resepsionis setelah mendapatkan apa yang dia mau.
Setelah kepergian Ilham dan teman-temannya itu. Teman darisuster yang ikut berjaga buka suara.
"Astaga ganteng-ganteng banget sih anak orang, masih sekolah aja gantengnya kaya gitu gimana kalo udah dewasa ya" kagumnya pada Ilham dan yang lain.
"Iya, apa lagi anak yang nanyak tadi itu loh mukanya mirip orang bule ya" sambung suster yang tadi berinteraksi dengan Ilham.
"Tapi kelihatan dingin ya dia" kata suster yang satunya lagi.
"Iya, tipe-tipe dingin yang menggetarkan hati dan jiwa, dia pasti idaman di sekolahnya"
"Udah ah kerja"
Ketiga suster itu menghentikan obrolan mereka tentang Ilham dan kembali fokus bekerja.
Sedangkan orang yang menjadi gosip sudah sampai di depan ruangan yang di maksud. Dan bertepatan dengan dokter yang baru saja keluar setelah memeriksa pasien di dalamnya.
"maaf Dokter boleh kami tanya!" ucap Gio cepat saat suter akan menutup pintu.
"Tanya apa ya?" ucap dokter dengan ramah.
"Gimana keadaan di dalam? apa pasien baik-baik aja?" tanya Doni sementara Gio sudah melakukan sesuatu dengan ponselnya yang pura-pura di mainkannya.
"Oh! pasien di dalam baik gak ada luka yang serius walau dapet jahitan lumayan banyak di kepala" jelas dokter.
"Bagian dalam gak ada yang cedera kan dok?" tanya Firman pula.
"Gak ada semuanya aman, kakinya yang terkilir juga udah mendingan, mungkin beberapa hari lagi bisa pulang"
"Terimakasih kalo gitu pak Dokter, ibu Suster atas infonya" kata Bagas.
__ADS_1
"Kalo boleh tahu kalian ini siapanya pasien ya?" tanya Dokter gantian.
"Kami bukan siapa-siapanyakok Dok, kami cuma lagi ada tugas wawancara aja dari sekolah dan harus sesuai dengan apa yang kami cita-citakan" kata Toni.
"Oh begitu, ya baiklah semiga cita-cita kalian tercapai ya" doa si Dokter di aminkan oleh mereka.
Setelah dokter dan suster pergi, Ilham dan yang lainnya pun ikut pergi dari sana karena tidak mammembuat keributan kalau sampai masuk ke dalam ruang perawatan Meisa. Di tambah lagi Ilham tidak ingin gadis itu merasa di perhatikan olehnya hingga datang menjenguknya yang sakit.
"Gimana?" tanya Ilham.
"Beres" sahut yang lainnya saat mereka sudah di dalam lift.
Tadi saat di dalam lift Ilham memang srmpat berdiskusi sedikit dengan teman-temannya itu. Lebih tepatnya Ilham meminta tolong untuk mendapatkan sedikit bukti dari apa yang sedang menimpanya. Kalau kalau suatu saat nanti di butuhkan. Apa lagi dia sudah mendapat ancaman jadi harus segera bersiap walau tidak takut dengan ancaman itu sendiri.
"Sekarang kita kemana?" tanya Diki.
"Pulang dulu kayanya, ganti baju sama makan" sahut Mono.
"Gak jadi lihat gebetannya Ilham" kata Boby.
"Ntar aja, pulang dulu" ujar Roy.
"Lah kita kan gak tahu tuh putri es di ruangan mana" ucapan Toni membuat yang lainnya menatap ke arahnya.
"Anda punya mulut? silahkan bertanya" Firman mengarahkan tangannya pada Ilham tapi matanya menatap Toni.
"Anda bisa bicara? silahkan bertanya" sambung Mono pula.
"Anda punya lidah? silahkan bertanya" ikutan pula Bagas.
"Anda punya nyali? silahkan bertanya" kata Boby.
"Anda pria sejati? silahkan bertanya" ucap Diki pula tak mau kalah.
"Ya ya ya yaaa.. saya punya mulut, bisa bicara karena punya lidah dan masih memiliki nyali sebagai seorang pria sejati, sayapunya semuanya itu, puas kalian hah!" Toni merangkum semua ejekan teman-temannya menjadi satu yang membuat mereka terkekeh bersama.
"Anda punya masalah kejiwaan? silahkan bertanya" kata Mono.
"Anda sehat? silahkan pergi sendiri" ucapan Toni itu semakin membuat mereka terkekeh.
Tidak berani tertawa keras dan lepas karena di lingkungan rumah sakit dan pastinya tidak mau kena usir karena di anggap membuat keributan dan mengganggu ketenangan orang lain.
Walau hanya tertawa dan tidak membuat masalah. Tapi di rumah sakit memang tidak mengijinkan siapapun berbuat keributan. Apa lagi tawa laki-laki yang pasti akan terdengar kuat kalau ada sesuatu yang lucu menurut mereka.
Dan guyonan mereka bisa selalu membuat mereka tertawa bahagia dengan lepas dan cukup keras.
__ADS_1
Setelah keluar dari rumah sakit itu mereka berpisah. Pulang kerumah masing-masing, hanya Ilham yang langsung kerumah sakit karena bibinya juga di sana.