
Arabella menatap roti di tangannya dengan kening mengerut heran. Roti yang sama seperti yang di makannya saat jam istirahat di sekolah tadi. Karena mereka yang cepat pulang membuatnya tidak memeriksa isi tasnya.
Memasukkan buku tadipun dirinya tidak tahu kalau ada roti di dalam tasnya.
"Kenapa bisa ada di dalam?" gumamnya.
Arabella mengangkat tasnya lalu memeriksa tas sekolahnya. Apa ada yang bolong atau bagaimana sampai bisa masuk roti mahal seperti itu.
Ah! ingat kala saat jam istirahat tadi dirinya sempat meributkan orti itu dengan Ilham karena pemuda itu yang memberikan roti padanya tapi di tolak karena takut di minta untuk membayar.
"Kapan dia masukkan ini?"
Melihat sebungkus roti itu dengan penuh minat dan ingin. Rasa enak dari roti di tangannya masih dapat di ingatnya. Bagaimana tidak di ingat kalau selama ini dirinya memakan roti yang rasanya sudah hampir hilang karena roti murah yang di belinya itu memang sudah hampir jamuran.
Mengingat betapa malang hidupnya membuat gadis itu menghela napas. Bahkan untuk mekana saja dirinya kesulitan. Gaji yang di dapatkannya dari bekerja memang lumayan tapi itu masih harus di bagi dengan ongkosnya kesekolah dan pergi bekerja lagi.
Serta tabungan untuknya yang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus nanti. Semua itu membuat Arabella harus rela menahan lapar bahkan makan roti yang hampir berjamur.
Sesekali dirinya juga membeli makanan enak seperti mie instan untuk di makan.
"Hah! semangat Arabella" gumamnya menyemangati diri sendiri.
Roti di tangannya di letakkan di meja buku, anggap saja dirinya tidak pernah tahu kalau ada orti itu dari Ilham. Dan karena dirinya tidak meminta, dia akan diam saja kalau pemuda itu tidak meminta bayaran padanya sampai dia bisa memiliki uang untuk membayar nanti.
Bagi Arabella yang hidup serba pas-pasan, roti yang bagi orang lain murah dan biasa saja itu jadi sangat mahal dan istimewa bagi Arabella. Jadi wajar saja kalau dirinya begitu.
"Untuk besok sarapan" lirihnya meletakkan roti itu llau meraih buku untuk menyelesaikan tugas sekolah.
Karena tadi dia sudah makan bakso enak jadi perutnya masih terasa kenyang, bis abertahan sampai nanti malam saat bekerja dan roti itu bisa untuk besok di makan sebelum pergi sekolah.
Di sisi lain, Ilham yang baru saja mengantarkan Arabella sudah kembali melaju di jalan raya setelah keluar dari gang rumah gadis itu.
__ADS_1
Di balik helm full face nya itu, Ilham menarik ke dua sudut bibirnya membentuk senyuman bahagia. Ya bahagia, Ilham merasa sangat bahagia siang ini. Walaupun tadi sempat ada seseuatu tali dia tidak mau memikirkan itu.
Dirinya lebih suka memikirkan perjalanannya tadi dengan Arabella. Walau hanya makan di taman sebentar saja tapi itu cukup berkesan baginya yang tidak pernah dekat dengan perempuan apa lagi berboncengan dengan perempuan.
Hangat pelukan Arabella di tubuhnya juga masih dapat di rasakan Ilham seakan gadis itu masih ada di belakangnya sedang memeluk dirinya.
Tiba-tiba senyuman Ilham itu hilang karena ada rombongan anak sekolah lain yang lewat dengan konpoi. Kenalpot yang oblong di geberkan hingga mengeluarkan suara berisik yang sangat kuat.
Bukan hanya satu orang yang melakukan itu, tapi hampir semua melakukan itu karena kenalpot mereka semua bentukannya yang bisa mengeluarkan suara berisik.
"Hoy! berisik! memangnya jalan ini punya kalian hah!" bentak seorang pria berumur pada anak-anak sekolah itu karena merasa terganggu.
"Iya pak iya" sahut mereka.
Tapi setelah pria yang menegur menjauh mereka kembali melakukan aksi membuat keributan itu lagi. Entah kenapa juga mereka harus melalui jalur yang sama dengan Ilham.
Dan kelakuan mereka itu benar-benar mengganggu, bukan hanya Ilham saja tetapi juga orang lain yang menggunakan jalan.
Merasa terusik dengan apa yang Ilham lakukan, beberapa orang yang di bonceng melihat kebelakang di mana Ilham sudah merapatkam motornya dengan bagian belakang motor teman mereka sembari membunyikan klakson panjangnya.
"Woy! jangan sok hebat mentang-mentang naik motor mahal" bentak salah satunya.
"Matiin gak klakson kamu!" satu motor memelankan laju motornya dan merapat pada Ilham sembari mengancam dengan mata melotot dan tangan yang menunjuk seolah menantang.
"Berisik tahu gak!" teriak orang yang di samping Ilham.
Ilham menghentikan bunyi klaksonnya tapi maish tetap merapat pada bagian belakang motor salah satu rombongan itu.
"Heh! sadar diri kalian, dari tadi yang buat ribut itu kalian" bentak seorang ibu-ibu yang ada di belakang mereka.
"Bubar kalian bubar! pulang sekolah bukannya pulang kerumah baik-baik ini malah buat keributan" sambar seorang bapak pula.
__ADS_1
Tidak terima di bentak dan di marahi mereka memelankan laju motor dan hendak berbuat anarkis dengan cara menghajar ibu dan bapak yang memarahi mereka tadi.
Tapi aksi mereka harus terhenti karena ternyata di belakang sudha banyak kendaraan lainnya dan semua orang menatap tidak suka pada rombongan itu.
"Apa? mau apa kalian hah? anak sekolah mau sok jago!" bentak seorang ibu yang terlihat membawa belanjaan di bagian depan motor meticnya.
Bahkan temannya yang di belakang terlihat memegang keranjang berisikan belanjaan lainnya.
"Masih minta uang sama orang tua aja belagu kalian, gimana kalo udah cari uang sendiri hah! mau jadi apa negara ini kalo penerusnya anarkis kaya kalian" sentak ibu satunya.
"Belajar yang bener banggakan orang tua, bukan buat malu orang tua" sahut yang lainnya ikut marah dan semakin maju mendesak rombongan anak sekolah tadi.
Merasa terpojok akhirnya rombongan berisik tadi melaju kencang meninggalkan pengendara lainnya yang menyoraki mereka.
"Sial! siapa orang tadi? cari masalah dia sama kita" marah mereka.
"Kita harus cegah dia besok di persimpangan jalan tadi supaya kita tahu siapa dia"
"Bagus, kita beri dia pelajaran gara-gara dia kita di marahin emak-emak"
"Pake di sorakin lagi"
"Awas aja dia nanti"
Sedangkan Ilham sendiri sudah melaju kearah yang berbeda dengan rombongan siswa yang di marahi tadi. Saat para emak-emak mulai marah tadi, Ilham langsung melipir pergi karena tahu rombongan itu tidak akan berbuat macam-macam karena di belakang kendaraan ramai.
Mereka harusnya mikir dua kali kalo mau kompoi pake seragam sekolah, gak lihat-lihat kondisi jalan lagi, kan ribet urusan kalo udah di marahin emak-emak harus tebel telinga gumam Ilham dalam hati.
Sampai di rumah pamannya, Ilham memasukkan motor ke dalam garasi. Di lihatnya di sana sudah ada mobil Ardi terparkir yang artinya pria itu sudah kembali.
Dengan cepat Ilham berjalan masuk karena ada sesuatu yang ingin di katakannya pada kakak sepupunya itu.
__ADS_1