Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
11. Akhir Penyerangan


__ADS_3

Pria misterius buru-buru menengahi keduanya, telat sedikit bisa berakibat fatal. Dia coba melerai agar keduanya tidak saling menumpahkan darah karena sesama rekan untuk penyerangan kali ini.


“Aku sudah menyelesaikan tugas ku, aku ingin imbalan yang telah dijanjikan dan harus segera dipenuhi. Aku beri waktu 2 hari, jika sampai waktu ditentukan tidak aku terima aku tidak akan segan membuat perhitungan!” setan merah mengingatkan kepada pria misterius akan kesepakatan yang telah dia buat dengannya.


Pria misterius mengiyakan permintaan setan merah dan berjanji akan menepati kesepakatan tersebut. Sementara raut wajah menteri Balda terlihat sangat penasaran sambil mendengarkan percakapan keduanya.


“Apa yang disepakati oleh keduanya? Apakah itu adalah hal yang penting?” demikian pertanyaan yang terlintas di pikiran menteri Balda.


“Aku akan kembali ke padepokan sekarang. Aku tidak ingin berurusan dengan hal politik, cukup dengan imbalan yang telah dijanjikan aku akan tutup mulut” setan merah kembali menjelaskan dan berniat meninggalkan tempat tersebut.


Menteri Balda dan pria misterius melihat setan merah pergi menjauh dan setelah wujudnya hilang digelapnya malam mereka berdua kembali memperhatikan situasi disekitar. Kumpulan mayat bergelimpangan disertai bau amis yang membasahi tempat pelaminan. Untuk orang biasa yang melihat hal itu pasti akan tertekan dan mungkin akan hilang nafsu makan selama beberapa hari.


“Lapor menteri, pasukan kerajaan Adipura telah berhasil dilumpuhkan dan hanya sedikit yang menyatakan menyerah. Bagaimana kami menyikapi mereka?” laporan seorang prajurit penyerang memecahkan lamunan menteri Balda dan pria misterius.


“Ikat mereka lalu kumpulkan di depan ku. Dan panggilkan juga pangeran Jaka untuk menghadap ku!” perintah menteri Balda.


“Baik menteri” prajurit itu pun pergi untuk menjalankan tugasnya.

__ADS_1


“Kenapa aku hanya melihat menteri disini? Dimana adik seperguruan ku Liva?” tanya pria misterius.


“Seharusnya pertanyaan itu aku tunjukkan padamu. Dia datang dengan murid Jaka yang terluka lalu memintaku untuk menolong murid Jaka. Setelah itu dia meminta izin agar pergi membantu disini, kemana dia sekarang?” menteri Balda balik bertanya karena keheranan.


*


Raja Aryo sedang menemani istrinya yang masih belum sadarkan diri. Kondisi istrinya yang sempat pucat dan lemas perlahan mulai membaik. Pikiran raja Aryo tidak hanya tentang istri didepannya namun juga keadaan di istana, dia memerintahkan beberapa prajurit untuk melihat situasi dan segera memberitahukan kepadanya.


“Kenapa mereka lama sekali? Apa situasi semakin memburuk? Apakah Patih Yarna dan yang lain masih selamat disana?” pertanyaan demi pertanyaan muncul di pikiran raja Aryo.


 Karena merasa terlalu lama dia berniat menyusul prajurit pengintainya namun begitu keluar dari tempat persembunyiannya dia melihat 3 orang berpakaian biasa berlari sekencang-kencangnya seolah seperti ada hantu yang mengejar mereka.


“Apa yang terjadi? Kenapa kalian tergesa-gesa seperti ini? Dan dimana pakaian prajurit kalian?” pertanyaan bertubi-tubi itu raja Aryo arahkan kepada prajurit yang kini didepannya dengan nafas ngos-ngosan seperti dikejar hantu.


"Pasukan penyerang berhasil memergoki kami, mereka mengejar dengan jumlah ratusan orang. Kami melepaskan pakaian prajurit agar lebih cepat berlari untuk memberitahukan laporan ini" jawab prajurit yang terjatuh tadi setelah berhasil memperbaiki posisinya.


“Pasukan kita dikalahkan raja, tidak ada harapan untuk kembali kesana” prajurit yang lain menjawab.

__ADS_1


Prajurit itu kembali menjelaskan apa yang telah mereka saksikan. Penyerangan yang terjadi di dalam istana begitu mengerikan bahkan tidak bisa dibilang penyerangan namun sebuah pembantaian. Lautan mayat bergelimpangan dengan kondisi yang tidak enak dipandang baik anak-anak, laki-laki, perempuan semuanya tewas mengenaskan. Dan terakhir prajurit itu menjelaskan proses kematian Patih Yarna kepada raja Aryo.


Mata raja Aryo memerah menahan amarah sebab dari penyampaian prajuritnya setan merah begitu sadis menghabisinya. Hubungan raja Aryo dan Patih Yarna amatlah dekat karena Patih Yarna sudah mengabdi semenjak ayahandanya masih menjadi raja. Dan saat dia diangkat menjadi raja baru, Patih Yarna adalah orang pertama yang memberikan selamat kepadanya serta berjanji akan melayani sampai akhir hayatnya.


“Beritahu yang lain agar segera bersiap bergerak. Kita akan ke wilayah kerajaan Gundala untuk meminta perlindungan disana. Kejadian hari ini akan kita balas dikemudian hari” perintah raja Aryo kepada prajurit nya.


Para prajurit segera bergerak untuk melaksanakan perintah rajanya. Dalam hening raja Aryo menatap langit dengan tatapan penuh kesedihan. Karma apa yang telah dibuat kerajaan Adipura sehingga semua ini terjadi dan bagaimana cara untuk menyelesaikannya.


Terima kasih kepada:



Ridha Prasatya


Nur Fatimah


Karena selalu mensupport saya agar terus berkarya dalam cerita ini.

__ADS_1



__ADS_2