
Suasana di perkemahan pasukan kerajaan Adipura beserta aliansinya menjadi begitu suram, jeritan dan tangisan prajurit kini menghiasi perkemahan itu. Para pemimpin pasukan berusaha menenangkan mereka, namun rasa takut akan kematian yang berada di depan mereka tidak bisa dihilangkan semudah membalikkan tangan. Semula mereka merasa yakin akan menang dengan mudah, namun setelah melihat kekuatan lawan mereka akhirnya mereka sadar bahwa jumlah saja tidak akan membantu untuk menang.
Menteri Balda yang mengamati jalannya perang harus menerima kenyataan pasukannya harus dipikul mundur untuk hari ini. Banyak sekali pasukannya yang terluka bahkan harus gugur di medan perang. Untuk prajurit yang masih sempat mundur mental mereka saat ini benar-benar jatuh, tubuhnya tak berhenti bergetar karena baru saja menyaksikan kekuatan lawan yang tidak kalah besar dari jumlah mereka bahkan lebih.
Patih yang memimpin pasukan yang baru saja mundur langsung menghadap raja Jaka yang ditemani menteri Balda dan wanita muda di samping, perasaan takut menyerangnya. Dia sudah membayangkan betapa murkanya pemimpin dia nanti setelah mendengar laporan saat di medan perang.
“Ampun raja, kami harus mundur sebab....”, belum sempat Patih itu menyelesaikan kata-katanya raja Jaka lantas memotong dan berbicara dengan nada marah, “Bagaimana mungkin kalian dikalahkan oleh pasukan sekecil itu!!! Apa yang kalian lakukan di sana!? DASAR BAJINGAN PENGECUT!!!”, amarah raja Jaka terus menggebu-gebu karena kekalahan prajuritnya hari ini. Dia memandang tajam ke arah Patih itu, sementara Patih yang melapor berkeringat dingin karena sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya terhadapnya.
“Tidak ada kata ampun!!! Hukum gantung pengecut ini!!!”, tidak ingin lama-lama lagi raja Jaka menyuruh pasukan pengawalnya untuk menangkap dan menghukum mati Patih itu. Mulut Patih itu terbuka hendak mengungkapkan sesuatu, namun tenaganya sudah habis untuk menahan agar tubuhnya tidak bergetar saat ini.
“Tunggu dulu murid Jaka! Jangan terlalu gegabah mengambil tindakan, hari ini pasukan kita kalah karena kurangnya pengetahuan tentang kekuatan pasukan lawan. Orang tua yang memegang tombak saat pertemuan tadi adalah seorang jenius perang yang sulit dihadapi. Aku yakin penyebab mereka mundur karena menghadapi orang itu”, menteri Balda menghentikan gerakan prajurit yang ingin menangkap Patih yang datang melapor dengan kata-katanya barusan.
Wanita muda tertawa setelah mendengar penjelasan dari menteri Balda, tawanya sungguh membuat telinga dari menteri Balda menjadi panas. Menurut menteri Balda saat ini wanita muda sedang menertawakannya, “Apa yang lucu sehingga kau tertawa?”, menteri Balda menatap tajam ke arah wanita muda.
Wanita muda kemudian juga membalas tatapan tajam dari menteri Balda, “Aku hanya heran, apakah benar orang itu adalah ahli perang paling jenius yang pernah ada? Apa harus setakut itu dengan dia?”, wanita muda tersenyum penuh makna ke arah menteri Balda, “Jika dibandingkan dengan menteri sendiri, siapa yang lebih baik? Orang itu atau menteri?”, senyuman wanita muda terus melebar menunggu jawaban dari menteri Balda.
Menteri Balda terdiam karena perkataan wanita muda barusan, dia mengepalkan tangan erat seraya bersumber, “Tentu saja aku yang lebih baik dari orang itu!”, perkataan itu spontan keluar dari mulutnya.
Wanita muda kembali tertawa, “Jika benar yang dikatakan oleh menteri, kami akan menunggu pembuktiannya”, senyumnya masih terarah ke menteri Balda.
__ADS_1
Menteri Balda seperti terjebak dalam muslihat wanita muda, menurutnya lawan bicaranya saat ini sedang menyuruhnya turun tangan langsung dalam menghadapi lawan mereka. Menteri Balda menjadi jengkel setelahnya, dia kemudian keluar dari tenda sembari membawa Patih yang akan di hukum mati keluar dari tenda.
“Biarkan saja, bisa jadi kita masih membutuhkan orang itu”, ucap wanita muda berucap kepada raja Jaka yang hendak menghentikan perbuatan menteri Balda. Raja Jaka langsung menurut dengan perkataan wanita muda, emosinya yang membara-bara tadi kini sudah sedikit tenang.
*
Suasana di markas pemberontak beterbalikan dengan perkemahan pasukan kerajaan Adipura dan aliansinya. Kini para pasukan berdiri mengelilingi sebuah bangunan kayu kering yang telah disusun rapi untuk upacara pemakaman. Subani melangkah ke tumpukan kayu itu dengan menggendong seorang mayat pemuda ditemani oleh prajurit yang lain membawa saudara-saudara mereka yang telah gugur hari ini.
Mayat-mayat itu disusun serapi mungkin agar semuanya muat dalam tumpukan kayu yang telah tersedia. Terdapat ratusan mayat yang diletakkan disitu dengan kondisi masih bagus. Sementara kondisi mayat yang tidak bagus lantas dibiarkan saja, melihatnya saja akan membuat mereka mual.
Aryo melangkah ke depan dengan obor di tangan kanannya, “Hidup seseorang memiliki jalannya masing-masing, tapi aku percaya saat ini jalan kita adalah satu. Satu tujuan itu kita lakukan untuk kehidupan yang lebih baik untuk generasi setelah kita. Hari ini banyak sosok pahlawan yang pergi mendahului kita, tapi semangat dan nama mereka akan selalu terkenang sampai kapanpun. Mari kita berdoa agar rekan-rekan kita yang telah gugur dituntun dewa ke tempat yang lebih baik”, Aryo menutup pidatonya dan setelah itu obor yang ia pegang ia letakkan di tumpukkan kayu kering tadi.
“Paman, apa ini akan berakhir sesuai dengan keinginan kita?”, Aryo bertanya kepada pria sepuh. Dia melontarkan pertanyaan itu dengan wajah yang diselimuti kesedihan yang mendalam.
Pria sepuh yang melihat hal itu lantas menjawab, “Takdir kita sudah ditentukan oleh dewa tuan muda, siap atau tidaknya itu adalah urusan kita nantinya. Sudah sewajarnya kita sedih karena kehilangan saudara-saudara kita, tapi jangan menyalahkan diri sendiri karena hal itu. Tidak hanya tuan muda, kita disini adalah satu. Kami juga merasakan apa yang tuan muda rasakan, jadi menurut paman sebaiknya tuan muda lebih tegarkan diri untuk menghadapi apa yang akan muncul ke depannya”, pria sepuh menjelaskan panjang lebar jawabannya.
Jawaban dari pria sepuh membuat suasana hati Aryo menjadi tenang, dia tersenyum ke arah depan dan kemudian memandangi langit, “Jika takdir sudah ditentukan apa boleh buat”, ucapnya pelan. Keduanya terus berdiri memandangi kobaran api, sementara Patih Purno dan Subani hanya sebentar berdiri dan kini beristirahat untuk memulihkan tenaga mereka masing-masing. Aryo dan pria sepuh baru beranjak dari tempat mereka berdiri setelah matahari tenggelam, dan saat itu kobaran api sudah menjadi bara api sekarang.
*
__ADS_1
Angin malam berhembus pelan mengiringi dinginnya malam, beberapa prajurit berdiri atau duduk berkumpul di sisa-sisa bara api sekedar untuk menghangatkan diri. Masih dalam situasi perang membuat mereka harus selalu waspada baik siang maupun malam. Musuh sudah mengetahui letak markas mereka, bukan tidak mungkin musuh akan menyerang dalam kegelapan malam.
Mereka yang berhasil lolos dari serangan kerajaan Kendala saat Aryo masih menjadi raja kerajaan Adipura masih mengingat jelas peristiwa itu. Karena terlalu terlena dengan hiburan saat diadakan acara pernikahan 7 hari 7 malam lantas membuat mereka menurunkan kewaspadaan. Hal itu pulalah yang menjadi titik kesalahan terbesar yang telah mereka buat, karena tidak ingin kecolongan lagi mereka yang masih mengingat peristiwa itu lantas berjaga semalaman di benteng.
“Shhhhuuttt.... Tunggu aba-aba dari menteri, jangan ada yang bergerak sendiri”, perintah Patih yang melapor ke tenda raja Jaka. Kini dia ikut dalam misi penyusupan ke benteng lawan bersama menteri Balda.
Menteri Balda sekarang berada di depannya, sedang mengamati penjagaan pasukan pemberontak. Matanya begitu liar dan sangat cepat, tidak lama kemudian dia berbalik badan ke arah Patih itu, “Sudah saatnya, jalankan sesuai rencana!”, perintahnya dengan nada pelan.
******
Saya juga ingin merekomendasikan sebuah karya berjudul “Merintis Luka” karangan Badut Pajangan. Karya ini bercerita dengan genre romansa modern, bagi anda yang menyukai cerita-cerita dengan nuansa seperti itu mari kita ramaikan novel ini.
Itu saja yang ingin saya sampaikan, sampai jumpa di lain waktu. Terima kasih.
Jangan lupa like dan terus ikuti cerita pendekar pedang dewa naga :)
__ADS_1