
Langit masih terus menurunkan airnya dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Sekarang sudah tepat tengah malam dan seharusnya sekarang mereka sudah tiba di markas. Akibat curah hujan yang sangat tinggi membuat kuda yang ditunggangi pria sepuh tergelincir dan jatuh ke lereng bukit. Pria sepuh berhasil selamat namun kudanya terus terjatuh ke bawah bukit dan hanyut dibawa derasnya banjir.
Aryo yang melihat kejadian itu buru-buru menghampiri pria sepuh dan menolongnya. Karena dipastikan teman perjalanannya tidak mengalami luka apapun Aryo berniat mengajaknya untuk mencari tempat berteduh.
“Paman sebaiknya kita lanjutkan dengan jalan kaki. Kita juga tidak bisa meneruskan perjalanan dalam hujan selebat ini, aku yakin tidak jauh dari sini pasti ada tempat untuk kita berteduh” ajak Aryo kepada pria sepuh tersebut.
“Maaf tuan muda, perjalanan kita terhenti karena kesalahan hamba” ucap pria sepuh.
“Ini bukan salah paman, keadaan yang membuat kita begini. Mari kita lanjutkan perjalanan kita” ajak Aryo kembali.
Keduanya kini menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, perlahan namun pasti mereka yakin akan sampai walau sedikit terlambat.
Saat mereka menuruni bukit dari jauh tampak ada sebuah pondok kecil dengan penerangan berupa obor. Keduanya mempercepat langkah agar sampai disana untuk menumpang berteduh. Perlahan pondok itu dapat mereka lihat dengan jelas namun ada kejanggalan yang terjadi di rumah itu.
__ADS_1
“Paman apakah engkau pernah melihat yang seperti ini?” tanya Aryo yang seakan tak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya sendiri.
“Hamba baru kali ini melihatnya tuan muda, ini benar-benar tidak masuk akal” jawab pria sepuh sambil mengusap matanya berharap yang dilihatnya hanya lah mimpi.
Keduanya mematung tidak jauh dari pondok tersebut. Fenomena yang dilihatnya begitu asing dan sangat tidak wajar. Ini dikarenakan pondok tersebut tidak terkena hujan sedikitpun dan diatas pondok seperti ada dinding tembus pandang yang menahan tetesan air hujan saat ini.
Lamunan mereka akhirnya buyar ketika melihat sosok yang keluar dari balik pintu pondok tersebut. Sosok itu memakai jubah kuning dengan tongkat hanya setinggi pahanya. Aryo perhatikan lebih teliti sosok di depannya adalah seorang lansia dengan keadaan tubuh sudah membungkuk, mungkin faktor usia menurutnya.
*
Ki Ratno berjalan perlahan menuju pintu rumahnya berniat keluar untuk menemui tamu yang akan datang. Setelah dia keluar dia menemukan tamunya berdiri mematung dan matanya melotot ke arahnya. Dia tersenyum hangat seraya bmelambaikan tangan agar keduanya mendekat ke pondoknya.
“Apakah aku bermimpi atau memang orang itu melambaikan tangan kepada kita tuan muda?” pria sepuh spontan bertanya setelah melihat lambaian tangan itu.
__ADS_1
“Bukan mimpi paman tapi memang nyata terjadi, orang itu menginginkan kita kesana menemuinya” balas Aryo.
Keduanya saling berpandangan dan tidak lama memutuskan untuk menghampiri orang tersebut. Ketika sudah dekat orang itu tersenyum ramah dan segera mempersilahkan keduanya masuk ke dalam pondok.
Suasana di dalam pondok sangat sederhana dan bisa dibilang sedikit tidak nyaman ditinggali oleh seseorang. Mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana ada orang yang mendiami pondok ini yang jauh dari keramaian. Keduanya masih menatapi keadaan pondok sampai suara asing mengalihkan perhatian mereka.
“Hujan lebat seperti ini akhirnya membawakan ku tamu. Maaf kalau pondok ku kurang nyaman, sejujurnya aku tak menyangka kedatangan 2 orang dengan basah kuyup seperti ini” ucap Ki Ratno kepada tamunya.
“Justru kami yang minta maaf paman, kami disini ingin menumpang berteduh sesaat sampai hujan berhenti dan meneruskan perjalanan kami” jawab Aryo dengan sopan kepada orang di depannya.
“Dalam sebuah perjalanan? Bolehkah aku bertanya kemana tujuan kalian” Ki Ratno kembali bertanya.
Kini pria sepuh dan Aryo saling memandang satu sama lain, sebenarnya mereka pikir tujuan mereka tidak boleh ada yang tahu karena merupakan tempat yang amat rahasia. Melihat gelagat tamunya seperti itu Ki Ratno tertawa dan mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
“Hahahaha tidak apa-apa pria tua ini mengerti, sepertinya kalian akan melakukan tugas penting. Sebelum itu mari keringkan tubuh kalian terlebih dahulu” ucap Ki Ratno kembali.