
Ekspresi pria misterius menunjukkan rasa tidak nyaman, namun belum sempat dia menjawab menteri Balda akhirnya buka suara dan menjawab pertanyaan itu.
“Kau memang masih terlalu muda, sebagai raja baru kesibukan mu hanya untuk menumpas gerakan saudara mu yang ingin memberontak. Apakah kau yakin ingin mendengar jawabannya?” balas menteri Balda.
“Murid yakin menteri” jawab raja Jaka setelah memantapkan hatinya untuk mendengar jawaban dari pertanyaannya.
“Aku tahu sedikit tentang ritual yang dilakukan wanita itu, dan menurut ku itu terlalu liar” ucap menteri Balda membuka penjelasan.
Setelahnya menteri Balda terus menceritakan bahwa ritual itu berkaitan dengan ilmu hitam yang sangat tersohor di pulau Sulagendi. Ritual ini menuntut agar penggunaannya melakukan pembunuhan dan memakan hati dari korbannya yaitu wanita perawan berjumlah 100 orang. Jika sudah mencapai angka itu maka pengguna ritual ini akan memiliki kekuatan mistis yang sangat besar dan tidak menutup kemungkinan dia bisa menjadi ancaman dalam dunia persilatan.
“Walaupun ritual ini sangat mengerikan terdapat juga kelemahannya” kata-kata menteri Balda terhenti di sini.
Raut wajah raja Jaka dan pria misterius yang awalnya mendengar dengan seksama kini melirik ke arah menteri Balda. Menteri Balda kini terdiam dan melihat ke arah luar sambil memandangi langit.
“Maaf menteri, apakah kelemahan dari ritual itu?” tanya raja Jaka kembali karena penasaran.
“Ritual ini bersifat keturunan, tidak bisa dipelajari seperti ilmu silat. Tiap-tiap keturunan harus menjadikan salah satu dari mereka sebagai inang agar ilmu hitam ini terus berlanjut” jawab menteri Balda masih memandangi langit.
__ADS_1
“Bagaimana menteri bisa mengetahui semua itu?” tanya pria misterius.
“Aku pernah ditugaskan ke sana oleh raja Padri dan tidak sengaja menghadapi salah satu dari mereka. Untungnya saat itu ilmu orang yang ku lawan belum terlalu tinggi. Walaupun begitu dengan susah payah akhirnya aku bisa terlepas dari kejarannya” balas menteri Balda dan kini melirik ke arah raja Jaka.
Raja Jaka dan pria misterius terdiam mendengar penjelasan menteri Balda barusan. Mereka tidak menyangka bahwa ilmu hitam dari pulau lain juga memiliki kekuatan yang di luar nalar seperti ini.
*
Pasukan raja Jaka terus berjalan menuju tempat yang telah ditentukan. Sampai menjelang malam barulah pasukannya berhenti untuk beristirahat dan membuat perkemahan. Sementara itu, di markas pemberontak Patih Purno keluar dari kamarnya dan meminta kepada seorang prajurit untuk diantarkan ke kamar Aryo.
Tookkk... Tookkk... Tookkk...
Aryo langsung bangkit dari tidurnya dan segera membukakan pintu. Setelahnya Aryo mempersilahkan agar Patih Purno masuk. Kini mereka berdua duduk di kursi, Aryo tidak menyangka bahwa dia kedatangan tamu di malam ini.
“Ada gerangan apa Patih sehingga datang di saat larut begini?” tanya Aryo membuka pembicaraan.
“Maaf jika mengganggu waktu istirahat tuan muda” ucap Patih Purno seraya memberikan hormat.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Patih, mungkin kedatangan Patih ingin membahas mengenai hal penting. Apakah itu benar?” tanya Aryo kembali.
“Benar tuan muda, saya ingin bertanya tentang satu hal yang saya lihat ketika sampai di sini” ucap Patih Purno.
Aryo kini mendengar pertanyaan Patih Purno yang tidak lain adalah tentang ruangan yang dijaga oleh beberapa prajurit dengan sangat ketat. Karena terasa mengganjal bahwa ruangan kecil itu dijaga dengan demikian, Patih Purno bertanya ada apakah di dalam ruangan itu sehingga harus dijaga seperti itu.
“Jika Patih merasa penasaran, aku bisa membawa Patih untuk melihatnya” jawab Aryo.
“Jika tuan muda tidak keberatan Patih bersedia ikut” balas Patih Purno lagi.
“Mari Patih” ajak Aryo kepada Patih Purno.
Keduanya kini keluar dari kamar dan berjalan menuju ruangan itu. Saat keduanya sampai mereka tidak langsung masuk karena menunggu kedatangan pria sepuh terlebih dahulu. Saat pria sepuh datang tidak menunggu lama akhirnya mereka masuk ke dalam.
Dengan gerakan cepat pria sepuh menyalakan obor yang menjadi penerangan dalam ruangan itu. Karena merasa masih terlalu gelap pria sepuh meminta agar 2 prajurit masuk ke dalam dengan membawa obor masing-masing. Setelah keduanya masuk perlahan ruangan itu akhirnya menjadi sedikit terang.
“Suku kulit hitam!” ucap Patih Purno sedikit memekik.
__ADS_1
Aryo dan pria sepuh spontan menoleh ke arah Patih Purno yang barusan memekik. Keduanya merasa kebingungan dengan ucapan Patih Purno barusan. Saat keduanya masih dalam kebingungan, Patih Purno kembali berucap sekaligus bertanya kepada Aryo.