Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
47. Ketenangan sesaat (2)


__ADS_3

Pasukan pimpinan menteri Balda mulai bergerak atas perintahnya barusan. Mereka bergerak senyap dan pelan agar misi penyusupan ini berhasil dilakukan. Menteri Balda sudah memikirkan matang-matang rencana penyusupan ini, bahkan dia tidak segan meminta dukungan dari wanita muda untuk meminjam pasukan suku kulit hitamnya.


Pasukan suku kulit hitam berlari dengan cepat ke sisi benteng yang minim penjagaannya, menteri Balda memberi perintah agar mereka yang maju duluan untuk mengamankan area itu. Dengan kekuatan di atas rata-rata pasukan kulit hitam dengan mudah mendekati sisi benteng itu, ketika menurut mereka sudah aman mereka lantas memberi aba-aba untuk pasukan lain maju.


“Cepat bergerak dan jangan menimbulkan suara apapun!”, menteri Balda memberi perintah kepada pasukannya. Pasukannya bergerak berkelompok dengan satu kelompok terdiri dari dua puluh orang lebih. Saat kelompok itu sampai mereka lantas melemparkan tali yang sudah diikat besi berbentuk kail untuk memanjat tembok benteng.


Pasukan ini sangat terlatih, dalam waktu singkat tali-tali itu sudah siap digunakan. Mereka memang dikhususkan dalam misi seperti ini, atas ajaran dari menteri Balda sendiri. Sehingga membuat menteri Balda dan pasukannya dikenal sebagai pasukan serigala hitam, begitu cepat dan senyapnya gerakan pasukan mereka membuat siapa saja tidak akan mengetahui bahwa mereka telah menyusup ke daerah lawan.


“Tali-tali itu sudah siap menteri”


“Bagus, segera panjat dan habisi pasukan penjaga mereka!”


“Baik menteri”, Patih yang bersama menteri Balda lantas bergerak menuju arah pasukan yang telah menyiapkan tali untuk memanjat tembok benteng. Patih itu sendiri orang pertama yang mulai memanjat diikuti oleh beberapa pasukan serigala hitam dan suku kulit hitam. Mereka bergerak perlahan agar tidak menimbulkan bunyi yang akan mengundang pasukan penjaga lawan ke arah mereka.


Tidak butuh waktu lama kini mereka sudah berada di atas tembok benteng, mereka yang telah sampai bertugas untuk berjaga jikalau pasukan penjaga akan ke arah mereka. Waktu berjalan begitu cepat, namun tidak satupun penjaga yang mereka dapati. Dengan kondisi seperti ini memudahkan pasukan yang masih di bawah untuk naik segera ke atas tembok benteng.


“Bagaimana situasinya?”, tanya Patih kepada prajurit yang ditugaskannya melihat pergerakan penjagaan pasukan pemberontak.


“Semuanya terkendali sampai saat ini Patih, musuh belum mengetahui kita sudah berhasil menyusup ke markas mereka”, prajurit itu tu menyampaikan pengamatannya dengan sedikit berbisik. Patih yang mendengar hal itu menjadi begitu bersemangat, “Bagus! Sekarang menyebar, dan balaskan dendam rekan-rekan kita yang telah mereka habisi hari ini!”


“Baik Patih!”


“Menyebar!”, perintah Patih menutupi pembicaraan. Kini pasukan serigala hitam mulai menyebar dan mulai melancarkan aksi penyusupan mereka. Pasukan pemberontak yang berjaga di atas benteng tidak pernah menyangka bahwa malam ini akan menjadi malam yang penuh darah nantinya. Keheningan malam serta angin yang berhembus pelan membuat mereka agak sedikit menurunkan kewaspadaan, rasa lelah dan kantuk menyerang saat hembusan angin itu menerpa tubuh mereka.

__ADS_1


Pasukan serigala hitam terus menyusup ke dalam markas musuh, tiap prajurit pasukan pemberontak yang mereka temui akan mereka habisi dengan cepat. Pembunuhan yang sangat singkat serta teratur membuat aksi penyusupan itu berjalan dengan mulus, tidak sedikit pasukan pemberontak yang menjadi korban dari aksi penyusupan pasukan lawan.


*


“Kanda, anak kita sebentar lagi akan lahir. Apa kanda sudah memikirkan nama yang bagus untuk anak kita?”


“Tentu saja dinda, kanda sudah punya satu nama bagus untuk anak kita”


“Kenapa hanya satu? Bagaimana kalau anak kita kembar?”


“Maksud dinda?”


“Sepertinya kita akan memiliki anak kembar kanda”


“Benar kanda, tapi sebaiknya kanda harus tegar nantinya, sebab...”


“Sebab apa dinda?”


“Sebaiknya kanda pulang untuk mengetahuinya, dinda pamit. Tolong jaga anak kita”


“Dinda... Kemana engkau pergi? Kenapa tiba-tiba langit mendung! Dinda, dinda jangan pergi!!!!!! Dindaaaa!!!!!!!”, Aryo tersentak bangun dari tidur lelapnya, mimpi yang ia rasakan barusan seperti kenyataan baginya. Nafasnya memburu dan kepalanya mulai berkeringat dingin, “Aku bermimpi!”, batinnya berbicara. Dia kemudian mencoba menenangkan diri agar nafasnya tidak memburu lagi, saat sudah tenang ia mengambil air minum dan menenggaknya.


“Mengapa di saat seperti ini aku bermimpi seperti itu, apa yang terjadi dengan dinda? Apa semua itu nyata?”, Aryo kembali duduk di tempat tidurnya. Perasaannya saat ini sedang diselimuti rasa khawatir dan penasaran yang sangat besar, batinnya terus bertanya apa maksud dari mimpinya barusan.

__ADS_1


“Aaarhhghhhh kepala ku pusing”, karena terlalu keras berpikir membuat kepalanya menjadi sedikit sakit. Walau masih penasaran dengan makna mimpinya Aryo lantas menepis semua itu, karena tidak bisa kembali tidur akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Baru saja membuka pintu hembusan angin malam yang serasa menusuk kulit menghantam tubuhnya, begitu kuat dan dingin. Firasatnya menjadi tidak enak, keheningan malam ini begitu tidak biasa dari sebelumnya.


“Mengapa terasa begitu hening malam ini, apa semuanya tertidur lelap?”, Aryo mencoba berpikir positif dengan keadaan sekarang, mungkin para pasukannya tertidur lelap karena sudah menempuh pertempuran yang cukup berat hari ini. “Sebaiknya aku melihat-lihat keadaan mereka”, ia kemudian melangkah ke depan untuk melihat pasukannya yang sedang beristirahat.


Dia berjalan sendirian sambil mengamati pasukannya yang tertidur cukup lelap hanya beralaskan kain seadanya, dia kemudian bergerak ke arah bara api sisa upacara pemakaman tadi siang. Banyak dari pasukannya yang berada disitu, mereka saling merapatkan barisan dan tertidur dalam kelompok-kelompok kecil dengan senjata lengkap bersamanya. Aryo tersenyum, dia lega melihat wajah para pasukannya yang tidur lelap melepas segala penat akibat pertempuran barusan.


Tidak lama kemudian dari arah gerbang markasnya dia samar-samar mencium aroma yang tidak pernah ia duga, “Kenapa ada bau b**i disini, seingat ku tidak pernah ada yang menangkap atau memakan b**i”, Aryo berucap pelan dan bertanya-tanya dengan aroma yang ia cium ini. Saat masih dalam kebingungan yang ia rasakan tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang.


“Patih!!!”, Aryo melompat ke depan untuk menjaga jarak, dia tidak menyangka bahwa orang yang telah menepuk pundaknya adalah Patih Purno. Patih Purno berdiri di belakangnya dengan pakaian lengkap hendak berperang, “Maaf Patih aku tidak tahu kalau Patih ada di sekitar sini”, Aryo mencoba bersikap tenang. Sikapnya barusan dia lakukan karena kaget, sebab dia tidak pernah menduga Patih Purno akan menjumpainya malam ini.


Melihat tidak ada reaksi balasan dari Patih Purno membuat Aryo menjadi linglung, ia pikir Patih Purno sedang tersinggung dengan sikapnya barusan. Ia kemudian kembali berbicara untuk mencairkan suasana, “Ada apa Patih? Mengapa anda terbangun di saat tengah malam seperti ini?, Aryo bertanya kembali.


Patih Purno diam sesaat sebelum balik bertanya kepada Aryo, “Apa tuan muda mencium aroma yang aneh saat ini?”, Patih Purno lantas bertanya.


Aryo yang mendengar pertanyaan itu sontak kaget, ternyata Patih Purno mencium juga apa yang ia cium barusan. “Apa itu seperti aroma b**i?”, tanya Aryo untuk memastikan.


“Benar tuan muda”, Patih Purno membalas singkat. Aryo menatap ke arah Patih Purno, pandangan Patih Purno kini tertuju ke arah gerbang markas mereka. Perasaannya kini menjadi kalut, sebab aroma itu kini kian kuat dan terasa terus mendekat, “Persiapkan diri tuan muda, kita kedatangan tamu tak diundang malam ini!”, Patih Purno memberi arahan kepada Aryo.


“Tamu tak diundang?”, Aryo bertanya-tanya dalam hatinya, apa maksud dari perkataan Patih Purno barusan, “Jangan-jangan...?”, Aryo berbalik badan menghadap arah aroma itu datang, perlahan tapi pasti aroma itu menjadi begitu kuat dan terasa dekat membuatnya menjadi waspada sesuai arahan Patih Purno barusan.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2