Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
27. Strategi Baru


__ADS_3

Sorak-sorai menggema malam itu setelah lawan Patih Purno menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka sangat senang dengan hal yang baru saja terjadi. Namun tidak demikian dengan Aryo yang beranggapan kematian orang itu adalah kematian terhormat. Dia mencoba buka suara untuk menutup sorak-sorai itu namun segera dihentikan oleh Patih Purno.


“Tidak apa-apa tuan muda, mungkin ini salah tapi setidaknya kita berhasil membangkitkan semangat juang prajurit kita” ucap Patih Purno sambil menepuk pundak Aryo.


Aryo mematung, sungguh sulit menerima keadaan itu. Namun dia harus mengerti keadaan prajurit lebih penting sekarang. Bukan tidak mungkin ke depannya mereka akan menemui pertempuran yang sulit.


 “Segera siapkan upacara pemakaman yang baik untuk orang itu!” perintah Aryo kepada salah satu prajurit.


“Baik tuan muda” jawab prajurit cepat.


Para prajurit kini mulai bergerak berkelompok. Ada yang bagian mengurusi kayu-kayu untuk pemakaman sedangkan yang lain mengurusi jasad orang tadi. Semuanya bergerak cepat agar pekerjaan itu dapat diselesaikan sebelum fajar menyingsing.


“Ampun tuan muda, upacara pemakaman sudah siap di mulai” lapor prajurit yang bertugas mengawasi pekerjaan tadi.


“Laksanakan pemakaman segera!” perintah Aryo kembali.


Prajurit itu menganggukkan kepala seraya berjalan mundur dan segera memberitahukan kepada yang lain agar membakar jasad orang tadi. Api dengan cepat membakar tubuh tak bernyawa itu, kobaran api itu terus membesar bahkan mampu menerangi seluruh lapangan markas pemberontak.

__ADS_1


“Paman, apakah jika aku mati nanti akan ada upacara pemakaman seperti ini untuk ku?” tanya Aryo sambil menatap kobaran api.


Pria sepuh tidak langsung menjawab, untuk sesaat pria sepuh memandangi wajah Aryo. Saat ini Aryo memasang wajah yang terlihat amat sedih, mungkin saat ini dia teringat dengan istrinya pikir pria sepuh.


“Tuan muda jangan berpikiran yang aneh-aneh, hamba tahu tuan muda merindukan rumah. Kita sama-sama memiliki keluarga yang menunggu kepulangan kita nanti. Jika memang waktunya kita pulang pasti akan pulang, dan jika waktunya kita mati pasti kita akan mati” jawab pria sepuh panjang lebar.


“Mengapa paman terlihat amat santai dalam menghadapi kematian?” tanya Aryo lagi.


“Apa yang berasal dari tanah, akan kembali menjadi tanah bukan” jawab pria sepuh dengan senyuman menghiasi wajahnya saat ini.


Hati Aryo terhenyak saat mendengar kata-kata terakhir dari pria sepuh. Dia kemudian memejamkan mata seraya menghembuskan nafas pelan. Mati adalah pasti, setiap insan akan mengalami kematian. Melihat kesungguhan kata-kata pria sepuh membuat hatinya bergetar sesaat sebelum kemudian timbul rasa hormatnya kepada pria sepuh.


*


“Patih Purno diminta menghadap tuan muda di ruangannya” ucap seorang prajurit yang ditugaskan menjemput Patih Purno.


“Baik, mari segera berangkat” jawab Patih Purno cepat.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama Patih Purno kini sudah sampai di ruangan rapat yang kini diisi oleh petinggi-petinggi dari aliansi pemberontak. Setelah kehadiran Patih Purno rapat itupun dimulai. Rapat itu membahas tentang kejadian tadi malam, menurut mereka itu perlu dicarikan sebuah cara untuk melawan orang-orang seperti itu.


“Satu saja seperti itu sudah merepotkan, apalagi jika ada ratusan bahkan ribuan” ucap salah satu Patih yang tergabung dalam aliansi.


“Benar, lawan kita terlalu berat. Apakah kita sanggup melawannya nanti?” timpal seorang pendekar yang sudah berumur.


Suasana menjadi sedikit ribut dengan berbagai argumen. Namun itu tidak berlangsung lama setelah suara dari Patih Purno keluar semuanya terdiam.


“Lawan kita bukan dewa, tapi manusia seperti kita juga” ucap Patih Purno memecah keributan.


Suara Patih Purno pelan namun dengan dialiri tenaga dalam suara itu dapat didengar seluruh tamu dalam ruangan rapat. Melihat reaksi semua orang yang kini terdiam Patih Purno kembali berbicara seraya berdiri agar semuanya bisa memandang dirinya jelas.


“Untuk urusan suku kulit hitam serahkan saja pada kami. Dan untuk strategi yang sudah disusun kemarin akan ada sedikit perubahan” ucap Patih Purno lagi.


“Perubahan seperti apa Patih?” tanya Aryo kepadanya.


Aryo pikir strategi yang disusun kemarin sudah sangat bagus tapi mendengar pernyataan Patih Purno barusan membuatnya sedikit bingung. Patih Purno tersenyum dan kemudian mulai menjelaskan strategi barunya.

__ADS_1


Semua orang mendengarkan tiap-tiap penjelasan itu dengan seksama. Awalnya mereka merasa tidak senang dengan strategi baru ini, namun setelah penjelasan itu selesai mereka akhirnya mengerti dan memahami arti strategi tersebut.


__ADS_2