Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
52. Malam berdarah


__ADS_3

Tawa Subani dan Patih Purno dapat di dengar oleh pasukan menteri Balda. Mereka heran disaat seperti ini lawannya masih bisa tertawa setelah menghabisi seluruh pasukan suku kulit hitam.


Menteri Balda sendiri diam memerhatikan Subani dan Patih Purno yang masih tertawa tidak jauh dari tempatnya. Dia mengerti makna dari tawa kedua lawannya, tawa sepasang sahabat sejati yang sudah melewati manis pahitnya kehidupan dunia.


Menteri Balda merenung sesat, pikirannya melayang membayangkan membayangkan membayangkan teman lamanya yang juga sangat dekat seperti halnya kedua lawan di depannya.


Rasa rindu menyeruak keluar dari sanubarinya, karena temannya sudah pergi mendahului dia akhirnya harus membuat menteri Balda harus hidup tanpa menemukan sosok pengganti temannya.


"Ahhh... Apa kabar mu teman? Apa kau juga merindukan kebersamaan kita dahulu?", menteri Balda memandangi langit yang gelap. Perasaan sedih dan rindu bercampur aduk menjadi satu, "Mungkin tidak lama lagi kita akan bertemu teman", ucap menteri Balda lagi dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Disaat dia masih membayangkan masa-masa indah bersama teman lamanya kemudian Patih yang telah ia selamatkan datang ke arahnya, "Ampun menteri, apa yang harus kami lakukan sekarang", Patih itu bertanya setelah melihat menteri Balda termenung memandangi kedua lawannya yang tengah tertawa.


Renungan menteri Balda menjadi terhenti karena pertanyaan itu, dia lantas menoleh ke arah Patih yang bersamanya, "Tidak perlu menunda lagi, serang dengan kekuatan penuh. Biarkan takdir yang berbicara atas apa yang akan terjadi setelahnya", kata-kata yang dilontarkan oleh menteri Balda terdengar pelan di telinga Patih itu.


Suara menteri Balda sedikit parau dipendengarannya, karena penasaran ia secara diam-diam memandangi wajah menteri Balda. Wajahnya begitu sendu dengan mata seperti berkaca-kaca, pemandangan yang sangat jarang terjadi.


"Baik menteri", Patih itu langsung pergi menyiapkan seluruh pasukan, "Seraaangggggg!!!!", teriakannya menggema di gelapnya malam, pasukannya segera maju ke depan untuk menerjang musuh mereka.

__ADS_1


***


Aryo bersama pria sepuh dan pasukan pemberontak baru saja tiba di tempat Patih Purno dan Subani berdiri. Sementara pasukan lawan kini sudah bergerak maju menuju ke arah mereka dengan cepat.


Tak ada keraguan yang terlihat dari wajah lawannya, kali ini Aryo yakin pasukannya akan menghadapi kesulitan dalam pertempuran malam ini.


"Patih...", Aryo mencoba berbicara kepada Patih Purno, Patih Purno segera menanggapinya dengan aba-aba tangan tanda maju menyerang.


Dengan aba-aba yang diberikan oleh Patih Purno pasukan pemberontak segera maju ke arah lawannya juga. Pertumpahan darah malam ini kini tak dapat lagi terelakkan, pasukan pemberontak pimpinan Aryo dan pasukan kerajaan Adipura beserta Kendala pimpinan menteri Balda akhirnya bertemu dan saling bertukar serangan.


Menteri Balda tidak tinggal diam melihat, dia lantas ikut maju ke depan bersama pasukan serigala hitam. Sementara Patih Purno yang melihat lawannya ikut bergerak juga tidak tinggal diam, bersama dengan Subani dan Aryo mereka juga ikut maju untuk bergabung dalam pertempuran.


Menteri Balda terus membunuh pasukan pemberontak yang mencoba mendekati ya dibantu dengan pasukan serigala hitam membuat mereka dengan mudah mengalahkan setiap lawannya. Begitu pula dengan kubu Aryo yang ditemani Patih Purno serta Subani tidak kalah hebat dalam mengalahkan lawan-lawan mereka.


Kini pedang, tameng, tombak serta tubuh mereka bersimbah darah, bukan darah mereka sendiri melainkan darah lawan mereka yang telah dibunuh dengan tangannya sendiri. Pertempuran baru berjalan belasan menit namun lautan mayat sudah menghiasi di seluruh penjuru.


Aryo menyerang maju ke depan lebih dalam dari sebelumnya, ia menyadari kalau terlalu lama pasukannya akan kelelahan karena pasukan musuh berkali-kali lipat daripada pasukannya. Hanya tinggal menunggu waktu saja pasukannya akan terdesak, jadi dia mengambil inisiatif agar sebagian pasukan musuh mengincarnya agar dapat memberi kelonggaran pada pasukannya untuk terus melawan.

__ADS_1


Setiap serangan yang ia lancarkan dengan mudah menghabisi setiap lawan yang ia temui, tidak hanya mengandalkan pedangnya ia juga sesekali mengambil tombak yang ia lihat dan melemparkannya ke arah musuh. Menteri Balda yang melihat aksi Aryo langsung berseru lantang di tengah peperangan.


"Aryo Jayantaka! Aku datang untuk segera memberikan engkau kesempatan untuk bertemu ayahmu Aryi Wajendra! Ayahmu sudah lama menunggu anaknya menemaninya di neraka saat ini!", teriakan menteri Balda begitu keras dan menggema ke seluruh penjuru markas pemberontak yang menjadi ajang peperangan.


Aryo mendengar dengan jelas teriakan itu, yang membuatnya segera menoleh ke arah sumber suara tersebut. Nama-nama yang telah disebutkan tadi tidak lain adalah nama lengkapnya dan juga ayahnya.


Nama Jayantaka diberikan padanya karena ayahnya ingin Aryo ketika sudah dewasa menjadi orang yang bijaksana nantinya. Sementara nama Wajendra milik ayahnya bermakna seorang raja, sangat pas dengan watak ayahnya yang merupakan sosok pemimpin besar pada eranya.


Disulut emosi karena suara itu mengandung sebuah kata penghinaan terhadap ayahnya, membuat Aryo murka dan bergerak ke arah sumber suara tersebut. Setelahnya ia baru sadar suara itu bersumber dari mulut menteri Balda, otak dari serangan pada saat ia masih menjadi raja kerajaan Adipura dua tahun yang lalu.


Dia masih mengingat jelas apa saja yang telah dilewati oleh kerajaan Adipura setelah ia disingkirkan dari tahtanya. Rakyat begitu menderita karena harus menjadi budak dan harus bekerja tanpa istirahat tanpa diubah sedikitpun.


Kelaparan dimana-mana dan menjadi musibah besar setelah berbagai penyakit kulit menyerang rakyat yang menjadi budak. sementara rakyat yang lain turut menderita karena penguasa baru mereka yakni raja Jaka hanya mementingkan urusan pribadinya saja. Siapa saja yang tidak setuju dengan kepemimpinannya, raja Jaka tidak segan menghukum mati orang itu.


Tidak hanya itu selama setahun dalam masa pelarian sambil mengumpulkan kekuatan untuk memberontak, cukup banyak teror yang ia dapatkan dari pasukan yang ditugaskan oleh saudaranya untuk membunuh dirinya. Raja Jaka tidak pernah tenang jika saudaranya tidak mati, ia yakin saudaranya akan mengumpulkan kekuatan untuk menggulingkan dirinya sebagai raja baru kerajaan Adipura.


Ingatan itu melintas dengan cepat dalam pikirannya, membuat dia menjadi menjadi murka karenanya. Aryo tahu orang yang berperan dalam menjatuhkan tahtanya adalah bantuan dari menteri Balda dari kerajaan Kendala. Ia kemudian melangkah maju ke depan untuk segera memberikan serangan kepada menteri Balda.

__ADS_1


"Terlalu cepat seratus tahun untuk engkau mengalahkan ku!", menteri Balda ikut bergerak maju ke arah Aryo. Duel diantara keduanya kini sudah tak terelakkan, berbagai serangan dan jurus dikerahkan demi mengalahkan satu sama lain.


__ADS_2