
Raja Aryo menggendong istrinya dan menjauh dari pertempuran membawa para bangsawan dan beberapa prajurit kerajaan. Dia berniat mencari tempat aman buat pengikutnya lalu kembali untuk membantu Patih Yarna. Namun baru setengah perjalanan langkahnya terhenti karena sebuah pisau yang terbang kearahnya, dengan mudah dia menghindarinya dan bergerak mundur dari lokasi pisau itu.
“Mengapa terlalu terburu-buru, bermain lah dulu dengan ku. Kalian masih ada waktu bukan? Suara itu terdengar dan tidak lama sosok wanita misterius menampakkan diri dengan senyum lebarnya.
“Tolong bawa ratu keluar istana dan carilah tempat yang aman. Bersembunyi lah sampai keadaan aman, aku akan melawan wanita ini” titah raja Aryo kepada pengikutnya.
“Ahhh... Mencoba kabur? Dimana letak tata krama kalian?” wanita itu kembali berucap disertai tawa nya yang menjengkelkan.
“Jangan usik mereka! Aku lawan mu sekarang! Dan kau bertanya dimana letak tata krama? Seharusnya pertanyaan itu kau tunjukkan untuk mu sendiri!” jawab raja Aryo dengan jari telunjuk mengarah ke muka wanita tersebut.
Raut wajah wanita tadi yang awalnya senang akhirnya perlahan berubah dan mulai menunjukkan keseriusan. Namun dia kembali buka suara dengan sedikit tertawa.
__ADS_1
“Ahhh... Benar juga, seharusnya pertanyaan itu ditunjukkan kepadaku” jawab wanita misterius dengan tawa yang mengakhiri katanya.
“Sebelum pertarungan kita bukan kah hal umum sebagai sesama pendekar memperkenalkan namanya kepada lawan tandingnya?” Tanya raja Aryo.
“hahaha... Terlalu membosankan tapi tidak apa. Namaku Liva dan aku lebih dikenal sebagai pendekar pisau darah” jawab wanita itu dengan senyum bangga menghiasi bibirnya.
“Pendekar pisau darah, ternyata kau dari padepokan dari kerajaan Kendala. Padahal kami tidak pernah ikut campur urusan kerajaan kalian tapi kalian selalu mencari masalah agar konflik ini terjadi” ucap raja Aryo kembali.
Raja Aryo tidak tinggal diam, dengan keris pusaka nya dia mulai bertukar serangan dengan pisau darah. Keduanya menunjukkan kekuatan yang berimbang dan terus bertukar jurus demi jurus.
Sudah hampir 50 jurus keduanya bertukar dan semakin lama raja Aryo berhasil mendominasi pertarungan itu. Walaupun kekuatan mereka sama namun keunggulan raja Aryo adalah karena ada keris pusaka ditangannya. Keris ini dinamai keris jaksa yang dibuat oleh mpu Jaya, seorang pria tua yang umurnya sudah mencapai satu abad dan tersohor sebagai pembuat senjata pusaka tingkat tinggi.
__ADS_1
“Penyebar maut” raja Aryo mengeluarkan jurusnya dan dengan sangat cepat tangan nya menyerang kearah vital lawannya.
Serangan yang cepat itu tidak mampu pisau darah hindari semuanya, akibatnya ada 2 tusukan mendarat di bahu dan sekitar tulang rusuknya. Darah mengalir deras dari lukanya membuat pisau darah terjatuh dalam posisi berlutut sambil menutupi luka dengan kedua tangannya.
“Sudah berakhir, kematian mu sudah dekat!” ucap raja Aryo tegas walau nafasnya sedang memburu saat ini.
Tidak mudah untuk menaklukkan pisau darah sampai membuat raja Aryo harus mengeluarkan jurus pamungkasnya. Jurus tersebut menyerap setengah tenaga dalam yang dia miliki dan paling bisa hanya digunakan sebanyak 2 kali.
Kini tenaga dalamnya telah habis, setengahnya lagi dia gunakan ketika bertarung bersama Patih Yarna untuk menghadapi pria misterius. Raja Aryo mendekat kearah pisau darah dan dengan cepat menancapkan keris jaksa di kepala pisau darah yang membuatnya mati seketika.
“Aku tidak bisa kembali ke tempat Patih Yarna, aku harus memulihkan diri terlebih dahulu. Aku akan mencari keberadaan Dinda dan para bangsawan lain” ucap raja Aryo sambil menyarungkan keris jaksa dan langsung berlari mencari keberadaan istrinya.
__ADS_1
Raja Aryo memerintahkan pengikutnya untuk keluar dari istana dan mencari tempat yang aman. Ketika keadaan darurat ada sebuah jalur khusus evakuasi keluar dari istana, tidak banyak yang tahu kecuali keluarga kerajaan dan para bangsawan tingkat tinggi. Melewati jalur itu akhirnya raja Aryo berhasil menemukan pengikutnya dan memeriksa keadaan istrinya yang masih belum sadarkan diri.