Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
12. Pamit


__ADS_3

Kejadian masa silam itu terlintas dengan cepat bagaikan angin malam yang membuat tubuhnya bergetar. Semenjak itu Aryo hidup dalam harapan akan menuntut balas atas apa yang telah diperbuat oleh pihak penyerang yang dia ketahui merupakan kerajaan Kendala.


Dia juga mendengar dari beberapa percakapan warga bahwa mayat ayahanda dan yang lainnya dibakar dalam satu lubang besar layaknya sebuah pembakaran ternak yang dijadikan tumbal kepada dewa. Itu merupakan suatu penghinaan yang amat besar dan Aryo bersumpah akan membalas perbuatan itu dengan setimpal.


“Aku akan bersiap, tunggu lah disini sebentar” ucap Aryo dan langsung berbalik menuju rumahnya.


“Baik tuan muda” jawab pria pengirim pesan.


Aryo masuk kedalam dengan tatapan kosong tanpa sengaja tidak memperdulikan istrinya yang sedari tadi menatapnya dengan cemas. Saat Aryo masuk Sinta menyusul tidak lama kemudian dan menemukan suaminya sedang duduk dan menangis di dalam kamar mereka.


Sinta tau betapa sakit hatinya perasaan Aryo sekarang. Bukan hanya kejadian penyerangan itu saja dan setelah kejadian itu warga dan sisa prajurit yang tertangkap dijadikan budak tanpa diupah oleh pihak penyerang. Rakyat yang awalnya hidup makmur dan berkecukupan akhirnya harus bertahan dari rasa lapar bahkan tak segan membunuh sesama mereka demi sesuap nasi.


Sinta masuk ke kamar dan segera memeluk suaminya untuk menenangkannya, dia mulai mengusap air mata yang jatuh dan membasahi pipi Aryo dengan lembut. Kelembutan Sinta akhirnya membuat Aryo tenang dan mulai berhenti menangis.

__ADS_1


“Dinda, apakah kanda adalah seorang raja yang baik? Dan apakah kanda seorang suami yang baik?” pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Aryo dan membuat Sinta terkejut.


“Kanda, dari segala raja yang ku ketahui kanda adalah raja yang paling baik dan mengerti akan keadaan rakyatnya. Ketika rakyat kesusahan kanda tidak akan segan membantu dan ketika rakyat meminta pendapat kanda memberikan arahan dan solusi yang tepat sehingga rakyat sangat menghormati kanda. Dan sebagai suami kanda selalu menjadi yang terbaik, dinda hanya menginginkan kanda dan tidak akan pernah ada yang lain” jawab Sinta dengan senyuman manis mengakhiri perkataannya.


“Terima kasih telah hadir dalam hidup kanda dinda” ucap raja Aryo dengan senyum kini menghiasi wajahnya.


Akhirnya raja Aryo meminta agar Sinta membantu menyiapkan pakaian yang akan dibawanya untuk pergi ke markas pasukan pemberontak pimpinan raja Garta dari kerajaan Gundala.


*


“Dinda akan menunggu kepulangan kanda disini. Berhati-hatilah disana kanda, semoga dewa menyertai perjalanan kanda” jawab Sinta pelan.


Rasanya sungguh berat ketika harus berpisah dengan istri yang saat ini sedang mengandung dan dalam waktu dekat akan segera melahirkan. Aryo takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap istrinya namun Sinta kembali menenangkan Aryo dan berjanji akan selalu baik-baik saja sampai hari persalinan.

__ADS_1


Setelah diyakinkan kembali oleh istrinya hati Aryo kembali tenang dan dia memantapkan diri untuk segera pergi ke markasnya mengingat perjalanan ini akan menempuh waktu setengah hari untuk sampai kesana. Aryo menaiki kuda yang telah dibawa oleh pria sepuh dan perlahan dia mulai memacu kudanya menjauh dari desa itu.


“Dewa, aku serahkan jalan kehidupan yang telah engkau buat terhadap kami” ucapan Sinta keluar setelah suaminya tersebut hilang dari pandangannya.


Angin berhembus kencang menandakan akan terjadinya hujan lebat. Sinta segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Seketika langit berubah menjadi gelap dan petir mulai menyambar diiringi rintik hujan yang mulai lebat. Padahal sebelum itu hari masih siang namun seketika berubah menjadi malam yang gelap dihiasi hujan serta petir yang seolah saling bersautan.


Aryo dan pria sepuh memacu kuda mereka dalam lebatnya hujan dan kerasnya suara petir yang menyambar. Baru kali ini mereka merasakan hujan selebat ini seolah-olah langit sedang menurunkan tampungan air yang sudah lama dibendung. Bahkan dalam perjalanan mereka beberapa kali bertemu warga yang sedang mengungsi akibat desa mereka terendam air setinggi dada orang dewasa.


Anak-anak, wanita dan para lansia dalam ketakutan besar, mereka menganggap kejadian itu karena murka dewa. Karena sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini, tidak sedikit dari mereka menangis dan terlihat putus asa akan kejadian ini.


Aryo menghentikan langkah kudanya dan menoleh kearah desa tempatnya. Dia berniat pulang untuk memeriksa keadaan istrinya namun niat tersebut segera dihadang oleh pria sepuh yang bersamanya.


“Ampun tuan muda, hamba mengerti kekhawatiran tuan muda. Tapi ada hal yang sangat membutuhkan kehadiran tuan muda, kita serahkan saja pada dewa dan berharap istri tuan muda tidak mengalami apapun atas kejadian ini” pria sepuh itu mengingatkan Aryo.

__ADS_1


“Baik paman, semoga dewa mendengarkan permintaan kita. Mari kita sambung perjalanan kita yang tertunda” ucap Aryo dan memacu kudanya kembali.


__ADS_2