Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
31. Jatuh cinta (2)


__ADS_3

Sebagai anak gadis yang menginjak usia remaja paras Sinta sudah membuat menjadi primadona dimata laki-laki yang melihatnya. Tidak jarang kediamannya didatangi kalangan bangsawan membawa anak laki-lakinya bermaksud menyatukan mereka dalam ikatan cinta. Banyak hadiah yang dibawakan untuknya berupa pakaian atau perhiasan yang indah, berharap agar Sinta akan setuju menikah maka dia akan hidup bergelimangan harta.


Sayangnya hal seperti itu tidak akan berpengaruh terhadap Sinta. Sejak kecil ia diajarkan oleh ayahnya jangan pernah tergila-gila dengan harta. Sinta selalu protes dengan ajaran ayahnya yang mengatakan hal seperti itu. Menurutnya jika hidup bergelimangan harta maka apapun akan terpenuhi. Sampai suatu hari matanya terbuka oleh suatu kejadian yang sangat mengiris hatinya.


Sebagai seorang gadis, ayahnya juga mengajarkan agar dia berinteraksi dengan anak gadis seusianya. Karena perangainya yang periang serta baik hati membuat Sinta mudah mendapatkan teman bermain. Tidak sedikit temannya yang akan merasa gusar jika Sinta tidak ikut bermain dengan mereka. Tidak hanya temannya, Sinta juga akan merasa bosan jika tidak bermain bersama teman-temannya.


Namun orang tidak pernah mengetahui dibalik parasnya yang cantik, Sinta memiliki sifat yang kurang baik yaitu terlalu manja dengan ayahnya. Semenjak kepergian ibunya ketika ia masih kecil membuat ayahnya harus merawat Sinta seorang diri. Walaupun berat ayahnya merawat Sinta dengan penuh kasih sayang dan selalu memanjakan Sinta setiap saat. Tak jarang Sinta akan menangis jika keinginannya tidak dituruti. Sifat itu masih bersamanya sampai kedatangan Aryo dalam hidupnya.


Seorang laki-laki yang tampan, ramah dan baik hati. Dia tidak akan segan mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan bantuan. Sebagai pangeran mahkota membuat dirinya dihormati oleh para rakyat. Namun Aryo tidak akan memamerkan statusnya tersebut, dia lebih memilih berinteraksi dengan rakyat biasa.


Tidak setiap hari murid ayahnya berlatih silat, namun saat hari dimana kedua pangeran ikut berlatih Sinta akan pergi diam-diam untuk melihatnya. Walaupun terkesan seperti penguntit, orang yang melihatnya akan mengerti atas perilaku Sinta ini.


Karena perilakunya ini sudah diketahui oleh banyak orang bahkan sampai ke telinga ayahnya. Lantas ayah Sinta menyuruh Sinta agar ikut berlatih silat bersama murid ayahnya. Sontak Sinta merasa terkejut dan keberatan atas perintah ayahnya. Sebagai anak satu-satunya dan selalu dimanjakan membuat Sinta tidak pernah sedikitpun diajari beladiri.


“Ini demi kebaikanmu”


“Tapi ayah... Aku terlalu lemah”

__ADS_1


“Sinta... Ayah tidak ingin mengulangi kesalahan yang membuat ibumu pergi meninggalkan kita. Ayah sangat menyayangimu, sifat mu sangat mirip dengan ibumu. Apapun yang engkau lakukan ayah tidak akan pernah marah, namun kali ini tolong turuti permintaan ayah”


Sinta terdiam setelah mendengar kata-kata dari ayahnya. Perkataan ayahnya barusan mengingatkannya atas kejadian masa lalunya yang begitu pahit. Ibunya berasal dari kalangan pejabat terpandang dan ayahnya hanyalah seorang pendekar pengelana. Keduanya bertemu secara tidak sengaja dan berakhir jatuh cinta. Namun kisah cinta mereka diketahui oleh orang tua ibunya, lantas ibunya diminta agar memutuskan hubungan dengan ayahnya.


Namun kata cinta tidak menggoyahkan keinginan ibunya untuk hidup bersama ayahnya. Keduanya lantas bersama-sama menghadap ke depan orang tua ibunya meminta restu. Tergolong nekat namun ayahnya mampu meyakinkan calon mertuanya akan membahagiakan ibunya dan menjaga sampai kapanpun.


Melihat kesungguhan hati dari ayahnya membuat kedua orang tua ibunya menjadi luluh. Mereka akhirnya menyetujui hubungan itu namun dengan syarat tidak akan menerima uang apapun dari kedua orang tuanya. Ayah serta ibunya mengiyakan syarat itu dan hidup seperti rakyat biasa. Kehidupan mereka akhirnya lengkap dengan kehadiran Sinta. Hari-hari mereka terisis dengan tawa riang dan terasa begitu indah sampai kejadian menyayat hati itu datang.


*


Sinta terdiam dan raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang amat dalam. Perlahan matanya mulai berkaca-kaca dan Sinta memalingkan wajahnya tidak berani menatap bik Sekar. Bik Sekar yang melihat itu menjadi bingung harus berbuat apa, melihat Sinta kini seolah sedang meratapi masa lalunya membuat bik Sekar menjadi salah tingkah.


“Non tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa bik, aku hanya teringat kisah masa lalu ku”


“Lebih baik kita pulang saja non”

__ADS_1


“Jangan bik, aku masih ingin melihat-lihat kampung ini”


“Apa non masih sanggup berjalan?”


“Aku masih kuat bik, apa bibik yang mulai lelah menemani ku?”


“Ahhh... Bukan begitu non. Melihat non kelihatan sedih barusan membuat bibik merasa salah tingkah. Bibik tidak mengetahui apa yang membuat non bisa bersedih jadi daripada melanjutkan lebih baik non beristirahat saja di rumah”


Sinta kembali terdiam mendengar penjelasan dari bik Sekar. Perasaannya saat ini seperti ingin marah namun satu sisi juga begitu sedih. Dia kemudian memejamkan mata dan menghembuskan nafas pelan sebelum kembali berbicara.


“Aku ingin marah bik, tapi aku tidak bisa”


“Non, jangan terlalu banyak pikiran. Kandungan non sudah dalam usia tua, non harus memperhatikan kesehatan kandungan non”


“Baik bik”


“Berpikir dengan kepala dingin akan membuat semuanya menjadi lebih baik”

__ADS_1


“Aku sudah merasa lebih baik bik, terima kasih. Mari kita sambung perjalanan lagi dan aku akan mulai bercerita lagi”, Sinta mengajak bik Sekar untuk melanjutkan perjalanan keduanya. Melihat senyuman Sinta yang begitu manis membuat bik Sekar yakin untuk menuruti permintaan Sinta.


“Jika non ingin seperti itu mari bibik temani” bik Sekar membalas dengan senyuman juga. Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan mengelilingi kampung. Sinta kembali menyambung ceritanya yang belum usai dan bik Sekar fokus untuk mendengarkan sambungan cerita lagi.


__ADS_2