Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
28. Bantuan datang 2


__ADS_3

Suasana rapat menjadi hening ketika salah satu prajurit melaporkan ribuan prajurit bersenjata lengkap sedang mengarah ke markas mereka. Aryo yang mendengar laporan itu segera menutup rapat dan segera beranjak menuju pintu gerbang markas mereka.


Aryo tidak sendiri melainkan ditemani pria sepuh dan Patih Purno. Ketika mereka sampai dari jauh tampak ribuan prajurit bersenjata lengkap dengan pakaian berwarna kuning. Namun bukan hanya itu di depannya lagi ada sekelompok orang berpakaian serba merah dengan kain melilit di pinggangnya. Mereka berdiri di depan prajurit yang lain sambil berkacak pinggang dengan ekspresi galak menatap ke depan.


“Pasukan kerajaan Benggawan” ucap Patih Purno.


“Aku pernah melihat prajurit kerajaan Benggawan. Tapi orang-orang di depan itu siapa Patih?” tanya Aryo karena penasaran.


“Pernahkah tuan muda mendengar padepokan tangan besi?” tanya Patih Purno balik.


“Aku baru kali ini mendengarnya Patih. Apakah padepokan itu sebelumnya memang terkenal?” tanya Aryo lagi.


“Wajar saja tuan muda tidak tahu, padepokan ini memang tertutup dan hanya dibuka untuk orang-orang mereka. Saya sarankan jangan pernah mencari masalah dengan orang-orang itu” jawab Patih Purno sambil tertawa.


Aryo kembali dibuat penasaran oleh penjelasan Patih Purno barusan. Apa yang membuatnya berucap jangan pernah mencari masalah dengan orang-orang itu. Melihat raut wajah tuan mudanya tampak kebingungan pria sepuh mulai angkat bicara mencairkan suasana.


“Mari kita temui tamu kita, tidak baik membuat mereka berdiri menunggu” ajak pria sepuh.

__ADS_1


“Baik paman” jawab Aryo singkat.


Kini ketiganya melangkah menuju tempat orang-orang yang tengah berdiri itu. Saat ketiganya sudah dekat tanpa basa-basi Patih Purno maju dan melancarkan serangan pukulan terhadap seorang pria yang berdiri paling depan diantara orang-orang itu.


Orang yang diserang menyambut kedatangan serangan itu dengan tangan kosong juga. Pertukaran serangan itu membuat siapa saja akan takjub dengan tiap-tiap gerakan yang digunakan lawan Patih Purno. Dengan gemulai gerakan tangan serta gesitnya gerakan kaki orang itu menghindar sambil membalas serangan Patih Purno.


“Senang bertemu dengan mu kawan lama” ucap Patih Purno masih dalam posisi menyerang.


“Sebaiknya bersiap kalah lagi” jawab orang itu sambil membalas serangan Patih Purno.


Keduanya terus bertukar serangan yang awalnya menggunakan tangan perlahan menggunakan kaki. Pertarungan yang awalnya seimbang kini mulai berat sebelah dan Patih Purno perlahan mulai terpojok. Ini dikarenakan silat tangan kosong bukan keahlian Patih Purno sedangkan lawannya sekarang adalah ahli silat tangan kosong terhebat yang dia kenal.


“Jurus kuncian monyet” ucap lawan Patih Purno.


Setelah ucapan itu mendadak gerakan lawan Patih Purno mulai tambah lentur, gesit dan lincah. Dia tidak terlalu berlama-lama dalam bertukar serangan tendangan atau pukulan. Namun kini berusaha masuk dan mengunci gerakan lawannya.


Patih Purno semakin terdesak dengan gerakan lawannya itu, bukan hanya gesit tapi setiap pukulan yang diarahkan kepadanya membuat tangannya seolah beradu dengan besi. Dia berusaha menghindar sebisa mungkin namun serangan lawannya terus datang membuatnya kewalahan. Tidak butuh waktu lama kini gerakan Patih Purno berhasil dikunci oleh lawannya membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.

__ADS_1


“Aku menyerah... Aku menyerah...” pekik Patih Purno ketika tubuhnya sudah dikunci oleh lawannya.


“Sekarang hasilnya imbang bukan?” balas orang itu sambil tertawa dengan keras.


Semua orang yang telah melihat kehebatan Patih Purno dalam melawan suku kulit hitam dibuat terpana oleh kejadian itu. Orang yang menjadi lawan Patih Purno barusan berhasil membuat Patih Purno tidak bisa bergerak saat ini. Benar-benar hal yang mengejutkan bagi mereka bahkan Aryo dan pria sepuh tidak berkedip melihat hal itu. Akhirnya Aryo menjadi paham akan perkataan dari Patih Purno barusan.


Setelah pertarungan itu selesai Aryo dan pria sepuh mendekat ke arah Patih Purno berdiri. Saat keduanya sampai lawan Patih Purno langsung memasang kuda-kuda bersiap kalau kedua orang yang datang berniat menyerangnya juga. Patih Purno yang melihat hal itu buru-buru menengahi dan langsung menjelaskan siapa yang datang ke arah mereka.


“Ahhh maaf atas sikap saya tadi, saya Subani pimpinan pasukan kerajaan Benggawan. Raja Pawan yang memerintahkan kami untuk membantu tuan muda” ucap orang itu memperkenalkan diri.


“Terima kasih sudah datang paman, dan pertarungan barusan sungguh membuat mata ku terbuka hari ini” balas Aryo sambil tersenyum.


“Mari masuk ke dalam markas tuan Subani” ajak pria sepuh kepada tamunya.


Tanpa basa-basi lagi kini mereka mulai berjalan masuk ke dalam markas. Suasana kini bertambah ramai dengan kedatangan pasukan baru yang berjumlah cukup besar. Para prajurit mulai berkenalan sesama mereka dan mulai berbincang-bincang perihal perjalanan teman barunya.


Hari itu berjalan lancar, setelah kedatangan Subani beserta pasukannya diadakan rapat kembali membahas strategi perang yang telah direncanakan. Tidak banyak yang berubah karena Subani memang tak asing dengan strategi perang dari Patih Purno. Menurutnya strategi yang sudah disiapkan akan berhasil ketika menghadapi lawannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2