
Permasalahan hidup akan selalu menimpa setiap manusia di muka bumi ini. Begitupun dengan kehidupan keluarga Sinta tak luput dari masalah. Keluarga mereka yang awalnya hidup biasa saja menjadi penuh waspada setelah berita kedua orang tua ibunya yang sudah sepuh ingin membagikan harta warisan kepada anak-anaknya. Disinilah petaka itu muncul dan membuatnya kehilangan sosok ibu yang begitu ia cintai.
Ibunya memiliki seorang adik perempuan yang begitu tergila-gila dengan harta. Sosoknya yang begitu sombong akan kekayaan orang tuanya membuat siapa saja akan mencibirnya. Namun dia tidak merasa aneh, malah terus memamerkan segala perhiasan yang dipakainya ke khalayak ramai.
Orang tua ibunya yang melihat hal itu tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dikekang saudari ibunya akan mengamuk sejadi-jadinya. Tak jarang saudari ibunya akan mengamuk jika hadiah yang ia dapat kualitasnya lebih rendah daripada ibunya. Ia akan memaksa ingin bertukar hadiah tersebut bagaimanapun caranya.
Waktu terus berlalu dan sampai dimana waktu pembagian harta warisan kepada anak-anaknya. Karena tidak memiliki seorang anak laki-laki, lantas membuat ayahnya diminta untuk menerima harta warisan bagian ibunya sebesar 60%. Awalnya ayu dan ibu Sinta menolak dengan halus atas permintaan itu mengingat perjanjian saat mereka meminta izin untuk menikah saat muda. Namun orang tua ibunya bersikeras agar keduanya menerima warisan itu.
Akhirnya ayah dan ibunya Sinta menerima warisan itu. Namun adik perempuan ibunya tidak bisa menerima keputusan itu. Dia merasa marah karena menerima hanya 40% harta warisan kedua orang tuanya. Lantas dia membuat perhitungan dengan kakak perempuannya. Diam-diam dia merencanakan untuk membunuh keluarga kakak perempuannya apapun caranya.
Segala cara dia rencanakan untuk mendapatkan warisan milik kakaknya. Baik itu meracuni makanan, membuat gosip yang tidak sedap, sampai menyewa orang untuk melakukan teror kepada keluarga kakaknya. Namun setiap usaha yang ia lakukan selalu gagal dan akhirnya ia menemukan jalan buntu. Sampai seseorang datang dan menawarkan jasa untuk membunuh keluarga kakaknya. Orang itu merupakan pendekar aliran hitam yang cukup tersohor di kerajaan Adipura yang tidak lain adalah setan merah.
Setan merah menawarkan jasanya kepada adik perempuan ibunya yang sontak disambut baik oleh adik ibunya. Dalam perbincangan sesaat sudah dipastikan setan merah akan melakukan aksinya dengan bayaran yang cukup besar. Adik ibunya berharap bahwa keluarga kakaknya akan binasa dan dia akan mendapatkan warisan kedua orang tuanya sepenuhnya.
*
“Maksud non setan merah yang menyerang istana waktu itu?”
__ADS_1
“Benar bik, dia orang yang sama dengan waktu itu”
“Apa yang terjadi waktu itu non?”
“Aku kehilangan ibuku hari itu bik, dia melindungi ku dan menjadi umpan hidup untuk memancing pembunuh yang mengejar kami”
Malam hari setan merah memulai aksinya. Di kediaman keluarga Sinta yang tidak terlalu ramai membuat aksi itu menjadi mudah dilakukan. Setan merah tidak sendiri melainkan bersama dengan 3 orang anak muda dan diketahui salah satunya adalah darah dagingnya sendiri.
Mereka menyusup ke dalam kediaman keluarga Sinta dan membunuh siapa saja yang mereka temui. Dengan gerakan gesit dan serangan mematikan setiap orang yang mereka temui akan mati dengan cepat tanpa menimbulkan suara apapun. Bahkan penjaga yang disewa oleh ayahnya tidak bisa berkutik sedikitpun malam itu.
Namun itu tidak berlaku bagi ayahnya Sinta. Sebagai seorang pendekar dia sudah mengasah kemampuannya baik itu fisik, mental dan pancainderanya. Aroma amis darah tercium oleh hidung ayahnya, begitu kuat dan terasa banyak sekali. Ayahnya lantas bangun dari tempat tidur dan langsung membangunkan istrinya.
“Kenapa kanda? Apa yang membuat kita harus pergi selarut ini”
“Perasaan kanda tidak enak, mungkin ada orang yang berniat jahat terhadap kita lagi”
“Maksud kanda?”
__ADS_1
“Kanda mencium bau amis darah, mungkin di luar ada pembunuh yang akan bergerak menuju kesini. Cepat bawa Sinta sebelum...”
Perkataan ayah Sinta tidak dapat selesai karena pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Dan di depan kamarnya kini berdiri 4 orang memakai pakaian serba hitam dengan pedang berlumuran darah. Pemandangan yang membuat siapa saja akan menggigil ketakutan melihatnya.
Ayah Sinta sontak berdiri dan meraih pedangnya bersiap menghadapi pembunuh di kediamannya saat ini. Setan merah memerintahkan agar ketiga orang yang dibawanya menyerang ayah Sinta. Serangan ketiganya begitu kompak dan gesit, dalam sekejap ketiganya dan ayah Sinta sudah bertukar puluhan serangan. Melihat lawannya mampu mengimbangi ketiga bawahannya membuat setan merah bersemangat. Sudah lama dia tidak menemukan lawan dari aliran putih yang setara dengannya.
“Julukan taring putih bukan sekedar bualan, ternyata kau memang hebat seperti omongan orang-orang”, setan merah memuji lawannya sambil bertepuk tangan. Dia kemudian melangkah maju ke dalam kamar dan berdiri di depan ayah Sinta.
“Kami tidak pernah memiliki masalah dengan kalian, kenapa kalian ingin mencelakai kami?”
“Aku tidak memiliki masalah dengan kalian sedikitpun, tapi seseorang membayar kami dengan bayaran yang sangat tinggi untuk kepala kalian”, setan merah tertawa setelah ucapannya barusan. Dengan cepat dia kemudian mengeluarkan aura pembunuh berniat menekan lawannya. Namun itu hanya bisa dirasakan oleh ibunya Sinta dan tidak berpengaruh terhadap ayah Sinta.
Dengan aura jiwa dan aura pedang yang dimilikinya, ayah Sinta menekan aura pembunuh dari setan merah. Ibu Sinta yang awalnya kesusahan bernafas karena aura pembunuh perlahan mulai bisa mengendalikan diri setelah aura milik suaminya menekan aura pembunuh itu. Dengan isyarat tangan suaminya meminta agar dia menggendong Sinta dan berlindung di belakangnya.
Ibu Sinta melakukan apa yang diminta oleh suaminya, setelah menggendong Sinta dia kemudian berdiri tidak jauh dari belakang suaminya. Melihat hal itu setan merah kembali tertawa dan mulai berbicara lagi.
“Tidak perlu takut, kami akan memberi kematian yang begitu cepat. Kalian tidak akan merasakan sakit sedikitpun”
__ADS_1
“Sejengkal saja kau melangkah aku akan membunuh kalian!”
“Itu hanya bisa kau lakukan jika mampu menghadapi kami. Serang dia!”, setan merah memerintahkan ketiga bawahannya untuk kembali menyerang dan dia juga ikut dalam formasi serangan itu. Ayah Sinta menghadapi keempat lawannya dengan seluruh kemampuannya.