
Orang itu diam di tempat sambil berusaha mengatur nafasnya, dia melihat luka-luka yang telah dibuat lawannya tersebut. Dia menggeram dan pandangannya kembali tertuju ke Patih Purno. Patih Purno menanggapinya dengan santai seolah-olah siap untuk melanjutkan.
Para penonton sudah tidak sabar apa yang akan terjadi berikutnya, bagaimana tidak dibalik ketegangan itu bagi beberapa orang itu adalah sebuah tontonan yang menarik. Mereka berharap tontonan ini akan makin seru berikutnya.
“Aku tidak menyangka kekuatan orang itu sebesar ini paman. Kita harus berunding setelah duel ini” ucap Aryo kepada pria sepuh.
“Hamba juga terkejut tuan muda, ini bisa jadi bahaya kalau kita membiarkannya” jawab pria sepuh setuju dengan pendapat dari Aryo.
Keduanya tak lagi melanjutkan pembicaraan, sekarang mata mereka terfokus pada orang tadi. Orang itu yang awalnya diam kini mengangkat tombak ke atas. Patih Purno mengira orang itu akan menyerang lagi namun serangan itu tak pernah sampai.
“Apa yang dia lakukan?” ucap seorang prajurit yang menonton.
“Aku tidak tahu, ini baru aku lihat” jawab prajurit di dekatnya.
“Gerakannya aneh” timpal prajurit lain.
__ADS_1
Orang suku kulit hitam itu sekarang sedang melakukan sebuah tarian. Dia mulai menggerakkan kakinya dengan diayunkannya ke depan dan gerakan berikutnya menyilang. Dia melakukannya berulang kali sambil menyebutkan sebuah kata.
“Falabea... Falabea... Falabea...” ucap orang itu berkali-kali sambil menari.
Semua orang keheranan atas apa yang dilakukan oleh orang tersebut tidak terkecuali lawannya Patih Purno. Butuh waktu Patih Purno mengingat apa yang dilakukan oleh orang itu. Menurut pengetahuannya orang itu sedang melakukan tarian perang yang merupakan tarian terhormat bagi seorang pejuang dari suku kulit hitam.
Tarian ini berasal dari tanah bagian timur dan merupakan tarian yang digunakan untuk keadaan seperti ini. Fungsinya tidak lain adalah untuk memotivasi diri sendiri atau meminta roh leluhur membantu mereka dalam sebuah perang. Namun satu yang harus diketahui, lewat tarian ini seseorang itu sudah siap menghadapi maut jika kalah dalam sebuah duel maupun perang.
“Benar-benar seorang pejuang tangguh” ucap Patih Purno dengan senyuman di bibirnya.
Tarian itu tidak berlangsung lama, saat tarian itu berhenti dengan cepat orang itu kembali bergerak menuju lawannya. Semua orang kembali terkejut karena setelah tarian tadi orang itu langsung berlari dengan begitu cepat tidak seperti sebelumnya seolah-olah mendapat kekuatan baru.
Mereka tidak mengetahui bahwa kegunaan tarian itu adalah membakar semangat dalam diri orang itu. Orang itu sudah berniat mati dalam duelnya jika diperlukan. Lawan sekuat apapun tidak akan membuatnya gentar sedikitpun.
Patih Purno juga bergerak namun butuh waktu untuk mengimbanginya. Ini dikarenakan Patih Purno sangat hati-hati dalam mengambil langkah. Dia lebih memilih bertahan untuk melihat serangan lawannya ini. Sedangkan lawannya dengan begitu bersemangat terus menyerangnya tanpa henti.
__ADS_1
“Serangan masih banyak celah, apa dia belum terlalu menguasai teknik serangannya” ucap Patih Purno dalam hati.
Serangan lawannya memanglah cepat namun dibalik itu pertahanannya sangat minim. Dengan satu gerakan tusukan ke arah wajah, orang itu mundur sambil memegang pipinya yang sekarang sudah terdapat luka yang cukup besar. Darah segar kini mengalir dari balik luka itu namun tidak lama kemudian giliran Patih Purno yang menyerang duluan.
Patih Purno melompat zig-zag agar membingungkan lawannya dan ternyata berhasil. Gerakan Patih Purno tidak berhasil dibaca oleh lawannya sehingga tangan lawannya yang memegang tombak berhasil ditebasnya dan kini sudah terpisah dari tempatnya.
“Aaaargggghgggggghh” teriak kesakitan orang itu.
Teriakan orang itu begitu kuat dan menggema malam itu, teriakan yang begitu menyakitkan namun jika didengar dengan seksama ada nada sedih dibalik teriakan itu. Orang ini mengalami kesakitan namun tidak bertahan lama dan digantikan dengan kesedihan bahwa dia sudah kalah dalam duel ini.
Orang itu kini jatuh berlutut dengan kepala menunduk sambil tangan kirinya mencoba menutupi luka tebasan lawannya. Patih Purno menghela nafas pelan dan kemudian berjalan perlahan ke arah lawannya. Saat sudah dekat alangkah terkejutnya Patih Purno mendapati lawannya tersebut menangis dalam keadaan seperti itu.
“Maaf, aku harus membunuh mu” ucap Patih Purno sambil mengambil ancang-ancang akan menebas lawannya.
Lawannya memandangi Patih Purno sesaat dan kemudian dia duduk tegap serta tangisannya dia tahan dengan cara menggigit bibirnya hingga berdarah. Saat sudah mantap dia menganggukkan kepala tanda siap dieksekusi. Patih Purno pun mengayunkan tombaknya dan seketika kepala lawannya terpisah dari tempatnya.
__ADS_1