Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
30. Jatuh cinta


__ADS_3

Baru kali ini Sinta melihat senyuman sehangat itu. Tanpa sadar mulai timbul sebuah perasaan yang aneh. Sinta terpaku dalam lamunan, sosok laki-laki yang dipandanginya saat ini begitu berbeda dari kebanyakan lelaki lain saat bertemu dengannya.


Walau baru mengenalnya namun Sinta sangat nyaman menatap wajah laki-laki ini. “Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa berhenti menatap wajahnya” ucap Sinta dalam hati.


Mereka masih berpandangan hingga suara ayahnya samar-samar terdengar seperti memanggilnya. Ayahnya sudah memanggilnya sebanyak 3 kali namun tak kunjung dijawab oleh Sinta.


“Apa yang engkau lamunkan sehingga tidak mendengar panggilan ayah?”


“Ma.. ma.. maaf ayah”


Sinta terbata-bata menjawab pertanyaan ayahnya. Dia sungguh tidak mendengar panggilan dari ayahnya tadi. Melihat hal itu raja Aryi lantas tertawa dan melihat ke arah pangeran Aryo sambil tersenyum.


“Seperti biasa senyum ananda Aryo selalu membuat setiap wanita merasa nyaman melihatnya”


“Ti-tidak begitu raja” balas Sinta spontan. Jawaban Sinta malahan membuat sikapnya barusan menjadi jelas yang tak lain dikarenakan senyuman Aryo. Sinta mengutuk perkataannya barusan dan memilih pergi dari tempat duduknya dengan wajah yang merah merona.


“Masa-masa muda memang paling berkesan”

__ADS_1


“Maafkan sikap anak ku tadi”


“Ahhh... Tidak apa-apa, aku bisa memaklumi. Bukankah kita juga dulu seperti mereka yang baru mengenal asmara”


Ayah Sinta tersedak nafasnya sendiri ketika mendengar pernyataan dari raja Aryi. Raja Aryi mengartikan sikap Sinta barusan seolah-olah anaknya jatuh cinta kepada pangeran Aryo. Melihat reaksi lawan bicaranya raja Aryi kembali tertawa.


“Kau tidak pernah berubah, selalu tertawa riang bahkan di saat kita kesusahan dulu”


“Aku punya patokan hidup, tertawa lah sebelum tertawa dilarang”


Raja Aryi kembali tertawa diikuti oleh teman masa kecilnya. Perbincangan itu kemudian berlanjut dan akhirnya diputuskan kedua pangeran akan belajar silat dengan ayah Sinta. Kedua pangeran mahkota juga setuju untuk menjadi murid dari ayah Sinta.


*


“Jadi seperti itu awal cerita non bertemu dengan tuan muda”


“Benar bik, bahkan malamnya aku kesusahan tidur karena kejadian hari itu”

__ADS_1


“Biar bibik tebak, non kesusahan tidur karena senyuman tuan muda bukan?”


Pertanyaan bik Sekar membuat Sinta tersedak oleh nafasnya sendiri. Sinta memandangi wajah bik Sekar dengan perasaan penuh curiga.


“Bibik punya ilmu membaca pikiran seseorang?”


“Mengapa non berpikir seperti itu?”


“Dari tadi bibik selalu bisa menebak kepribadian ku, jawab sekarang bik!”


Sinta meminta penjelasan bik Sekar dengan mata melotot kearahnya. Bik Sekar sedikit terkejut karena reaksi Sinta barusan. Dia pun tertawa lepas dan segera menjawab pertanyaan dari Sinta.


“Mungkin bibik memilikinya”


Pernyataan bik Sekar membuat Sinta terus menatapnya tanpa henti. Tatapan itu membuat bik Sekar merasa canggung. Dia buru-buru mengalihkan pembicaraan agar suasana kembali cair.


“Bagaimana kelanjutan ceritanya non?”

__ADS_1


“Aku akan bercerita lagi bik, tapi aku tidak akan membiarkan bibik membaca pikiran ku lagi”


Jawaban Sinta membuat bik Sekar tersenyum canggung, namun tidak lama kemudian Sinta kembali bercerita tentang kisah cintanya. Bik Sekar kembali mendengarkan cerita tersebut sambil tersenyum.


__ADS_2