Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
34. Masa lalu Sinta (3)


__ADS_3

Setan merah berdiri sambil tangannya memegang kepala anaknya. Dia menyeringai ke arah ayah Sinta membuat ayah Sinta menaikkan kewaspadaannya. Melihat gelagat dari lawannya setan merah lantas tertawa mengejek kepada ayah Sinta.


“Akan ku buat kau menyesal telah membuat anak ku mati!”, setan merah berkata lantang. Dengan gerak cepat dia mengangkat kepala anaknya ke atas dan meminum darah yang jatuh dari tenggorokan anaknya itu. Ayah Sinta melotot menyaksikan kejadian di depan matanya, dia tidak habis pikir dengan apa yang diperbuat lawannya saat ini.


“Apa yang ingin dia lakukan”, ayah Sinta bertanya-tanya di dalam hatinya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat aneh dan mengerikan. Namun tak lama pertanyaan itu akhirnya terjawab tidak lama kemudian.


“Arrrrghhhhhhhgghgghhg.......”, setan merah tiba-tiba berteriak keras diiringi angin yang berhembus kuat di sekitarnya. Tubuhnya bergetar hebat seolah-olah merasakan kesakitan yang luar biasa. Dia terus berteriak sejadi-jadinya selama beberapa saat. Ayah Sinta tidak bergerak sedikitpun, angin yang berhembus di sekitar setan merah begitu kuat dan seolah-olah melindunginya.


Di dalam pusaran angin itu ayah Sinta melihat badan setan merah kini mulai berubah. Perlahan sepasang tanduk mulai muncul di kepala setan merah. Tidak hanya itu kuku-kuku tangannya juga mulai memanjang membentuk sebuah cakar serta giginya kini terdapat sepasang taring. Aura pembunuh yang keluar dari badan setan merah berwarna merah kehitaman dan begitu pekat. Ayah Sinta sempat kesusahan bernafas sesaat karena aura itu namun dia dapat mengendalikan diri setelah mengeluarkan aura jiwa dan aura pedangnya.


“MATI!! MATI!!! MATI!!!!”, setan merah berteriak sekuat-kuatnya setelah perubahan bentuk badannya selesai. Suaranya tidak kini tidak seperti suara aslinya seolah-olah sedang dirasuki oleh sesuatu. Pusaran angin yang mengelilingi setan merah sudah menghilang dan memperlihatkan wujudnya yang telah berubah. Ayah Sinta terkejut melihat perubahan itu, tampangnya sekarang begitu menyeramkan layaknya seperti iblis.


Tidak ingin membuang waktu ayah sintas lantas bergerak maju untuk menyerang lawannya. Sedangkan lawannya hanya berdiam di tempat seolah tidak memperdulikan serangannya. Ketika dia mengeluarkan sebuah tebasan dengan cepat serangannya dihentikan dengan cakar yang dimiliki setan merah. Ayah Sinta kembali terkejut dengan kekuatan lawannya, begitu berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


“Malam ini kau akan MATI!!!”, setan merah menyerang dengan tangan satunya. Karena cakar setan merah yang mampu menghentikan serangannya, ayah Sinta berkesimpulan harus menghindari serangan itu. Dengan cepat ayah Sinta melompat ke belakang untuk menjaga jarak. Nyatanya dia tidak dapat berbuat banyak, setelah berhasil menjaga jarak setan merah lantas maju menyerangnya.


Gerakan setan merah begitu cepat dan tidak dapat diikuti oleh mata orang biasa. Ayah Sinta yang sudah pengalaman dalam begitu banyak pertarungan pun kesusahan membaca gerakan dari lawannya saat ini. Kekuatan setan seolah-olah naik menjadi 2 kali lipat dari sebelumnya. Dia menyerang dengan membabi-buta tanpa meninggalkan jeda sedetikpun. Serangannya tidak teratur namun begitu cepat dan kuat, ayah Sinta sempat kewalahan karena tidak menyangka akan kekuatan dari lawannya.


Setan merah terus menyerang sedangkan ayah Sinta kini dalam posisi bertahan. Goresan luka berukuran kecil kini mulai menghiasi tubuhnya ayah Sinta. Staminanya sudah separuh terkuras saat menghadapi setan merah dan bawahannya, dia kini hanya bisa menggunakan separuh dari kekuatannya saat ini.


Dengan luka yang terus menghiasi lukanya membuatnya tidak dapat berbuat banyak, namun dia harus tetap bertahan agar keluarnya tidak menjadi korban dari setan merah malam ini. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya kalah dalam pertarungan ini dan keluarganya pasti akan dibunuh dengan sangat kejam oleh setan merah. Ayah Sinta memantapkan jiwanya, dia akan mengerahkan seluruh kemampuannya bahkan akan mengorbankan dirinya jika diperlukan.


*


“Ibu, aku takut”, Sinta yang masih kecil mendekapkan wajahnya ke dalam pelukan ibunya. Tubuhnya tidak berhenti bergetar karena melihat pertarungan ayahnya.


“Jangan takut, ibu akan melindungi mu”, ibu Sinta memeluk anaknya erat-erat sambil mengamati pertarungan suaminya dengan setan merah. Walaupun dia merasa takut namun dia lebih memikirkan keadaan anaknya. Dia harus bersikap tenang agar anaknya tidak terus-menerus merasa ketakutan. Dengan lembut dia membelai rambut Sinta dalam gendongannya berharap agar Sinta berhenti ketakutan.

__ADS_1


Badan Sinta yang sedari tadi bergetar hebat kini perlahan mulai tenang. Belaian dari ibunya membuat hatinya menjadi tentram, tidak hanya dengan belaian ibu Sinta menenangkannya dengan lantunan lagu yang biasa ibu Sinta nyanyikan ketika akan menidurkan Sinta. Sinta kini sudah tenang, kepalanya kini mengadah ke atas melihat wajah ibunya. Ibunya lantas tersenyum lembut ke arahnya dan dia balas dengan senyuman manisnya.


“Ibu, kenapa ada orang yang ingin berbuat jahat kepada kita?”, tanya Sinta polos. “Kita kan tidak pernah berbuat jahat ibu, ayah dan ibu selalu baik kepada orang lain. Apa ada orang lain yang membenci kita?”, Sinta terus bertanya kepada ibunya.


Ibunya tersenyum hangat sebelum menjawab pertanyaan Sinta, “Sebaik apapun kita kepada orang lain pasti ada orang yang membenci kita. Bahkan keluarga sendiripun akan menjadi racun dalam tubuh”, ibu Sinta kini memandang ke depan, “Orang yang membenci kita akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan kita. Seharusnya ibu tidak mengambil hak itu”.


“Ibu... Apa kita tidak bisa meminta maaf saja kalau kita memiliki salah dengan orang yang membenci kita?”, tanya Sinta lagi.


“Perkataan mu benar, meminta maaf kepada orang yang membenci kita itu adalah perbuatan mulia. Seharusnya ibu memikirkan itu sejak dulu”, ibu Sinta kembali menatap wajah anaknya. Dia merasa bangga dengan pemikiran anaknya yang seolah-olah menunjukkan dia telah dewasa. Ibu Sinta lantas memeluk Sinta dengan lembut seraya berucap, “Engkau memiliki sifat seperti ayahmu yang selalu rendah hati”.


Ibu Sinta terus memeluk Sinta dan berlindung dibalik pintu kamarnya. Dia melihat keluar untuk menyaksikan pertarungan dari suaminya. Pertarungan itu sudah berlangsung cukup lama, dia telah dipesani oleh suaminya untuk tidak bergerak sendiri. Sebagai istri dia mematuhi setiap perintah dari suaminya, dia tidak akan pergi sejengkal pun sebelum diperintah oleh suaminya sendiri.


Dengan perasaan cemas dia menyaksikan pertarungan suaminya. Khawatir dan takut terus menghantuinya, dia tidak ingin terjadi sesuatu hal dengan keluarganya. “Tolong lindungi keluarga kami dewa, berikan aku kekuatan untuk melindungi keluarga kami”, ibu Sinta memohon kepada dewa agar keluarganya tidak mengalami sesuatu hal buruk apapun. Ia berharap keluarganya malam ini berhasil selamat dari hantaman masalah yang menerpa kehidupan mereka.

__ADS_1


__ADS_2