
Aryo dan Patih Purno saling berpandangan, mereka sama-sama mencari solusi untuk mengatasi masalah ini. Nyatanya pikiran mereka seperti menemui jalan buntu, tidak ada ide sedikitpun yang keluar dari otak mereka. Wanita muda yang melihat reaksi lawan bicaranya kini terdiam lantas tersenyum mengejek lagi ke arah mereka, dia merasa puas telah membuat mereka mati kutu dengan pertanyaan yang telah dilontarkannya.
“Tidak hanya upeti yang kami berikan, kami juga akan tunduk di bawah pemerintahan kerajaan yang memenangkan perang ini!”, Subani berseru lantang menjawab pertanyaan dari wanita muda. Aryo dan Patih Purno secara bersamaan menoleh ke arah Subani, langkah yang telah Subani ambil menurut mereka merupakan suatu hal yang sangat besar resikonya.
Tapi setelah dipikir jika memang mereka kalah lebih baik ikut menjadi bagian daripada ditindas atau dijadikan budak oleh kerajaan yang menang. Keduanya lantas sepakat dengan pendapat dari Subani barusan, tidak banyak yang bisa dilakukan selain berusaha semaksimal mungkin agar bisa memenangkan perang ini.
“Jika itu yang kalian tawarkan kami akan menerimanya, bukan begitu menteri?”, wanita muda bertanya kepada menteri Balda sambil mengedipkan mata ke arahnya. Sikap genit dari wanita muda membuat bulu kuduk menteri Balda berdiri, dia kemudian meyakini perubahan sikap dari raja Jaka pasti karena wanita ini.
“Jika tidak ada lagi yang perlu disampaikan kami akan menerima perjanjian itu. Dengan ini perang akan kita mulai, persiapkan pasukan kalian! Kami tidak akan segan kali ini!”, setelah berucap demikian menteri Balda lantas berbalik arah ke tempat pasukannya berada dan segera diikuti oleh pria misterius. Dia tidak ingin terlalu berlama-lama dekat dengan wanita muda itu, menurutnya jika sampai berhubungan maka malapetaka akan datang menghampirinya.
“Aku akan mencari mu di dalam sana!”, ucap raja Jaka seraya berbalik arah mengikuti menteri Balda. Wanita muda tersenyum sinis ke arah rombongan Aryo sebelum ikut mengikuti raja Jaka dari belakang, “Aku akan bersenang-senang dengan tubuh kalian nanti”, wanita muda mengedipkan matanya lalu pergi.
“Sepanjang perjalanan hidup ku tidak sedikit aku melihat orang aneh, tapi lawan kita hari ini benar-benar aneh menurut ku”, Subani berkomentar terhadap watak lawannya. Patih Purno menggelengkan kepala pelan, “Walaupun aneh tapi mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa disepelekan”, Patih Purno ikut berkomentar.
Ketiganya lalu memacu kuda masing-masing menuju markas pemberontak, para prajurit bersiaga penuh dengan senjata masing-masing. Semangat membara terlihat jelas dari mata mereka, hidup atau mati adalah kehendak dewa. Walaupun jumlah musuh lebih banyak dari mereka namun tekad mereka sudah bulat untuk berperang dengan seluruh kemampuan yang ada.
__ADS_1
“Dengarkan hal ini semuanya!”, pekik Aryo kepada pasukannya, “Perang sudah di depan mata, kuatkan semangat kalian dengan harapan bahwa kita akan menang. Keluarga kita menanti kabar kemenangan kita, mari kita torehkan sebuah cerita bahwa hari ini adalah perang dimana keadilan tidak akan diam melihat kejahatan yang terus merajalela! Takut bukan pilihan, satu-satunya pilihan adalah harapan agar hidup anak serta cucu kita lebih baik nantinya! Mari kita tunjukkan semangat juang dari cahaya kebaikan!!!”, suara lantang Aryo menggema di setiap telinga pasukannya.
Pria sepuh hampir meneteskan air matanya, dia terbaru dengan semangat juang dari tuannya yaitu Aryo. Walaupun masih tergolong muda namun sifat kepemimpinannya sudah terlihat dan baginya begitu berkharisma. Dia kemudian memandang ke arah langit seraya berucap, “Andaikan mendiang raja Aryi masih hidup, beliau pasti akan merasa bangga dengan sifat kepemimpinan dari salah satu anaknya ini”.
*
Sorak-sorai dari pasukan pemberontak terdengar sampai ke telinga pasukan kerajaan Adipura dan aliansinya. Mereka yang awalnya merasa yakin bahwa akan mendapat kemenangan yang mudah lantas berpikir dua kali ketika melihat semangat dari lawannya.
“Bagaimana mereka bisa mendapat kepercayaan diri seperti itu?”
“Dasar kumpulan orang-orang gila”
“Benar! Pasukan yang jumlahnya jauh dari kita tidak akan mungkin menang”
Pasukan kerajaan Adipura yang saat ini sudah loyal kepada raja Jaka berkomentar terhadap sikap lawannya. Mereka tertawa mengejek, menganggap usaha dari lawannya akan sia-sia nantinya. Ini wajar karena dalam perang jumlah termasuk faktor dimana perang bisa dimenangkan.
__ADS_1
Raja Jaka juga tidak ingin kalah dari saudaranya, melihat kepercayaan diri pasukannya membuatnya yakin akan memenangkan perang ini dengan cepat. Dia kemudian maju ke depan pasukannya dengan menunggangi kudanya, “Lihatlah para manusia-manusia bodoh yang telah berpikir gila bahwa bisa menang melawan kita! Ubah teriakan semangat itu menjadi teriakan kepedihan atas kekalahan yang akan mereka dapatkan! Jangan beri ampun! Habisi semuanya, tidak ada yang boleh tersisa! Tunjukkan bahwa kita adalah pasukan terkuat yang pernah ada!”, raja Jaka berseru lantang kepada pasukannya.
“Hidup raja Jaka!”
“Hidup! Hidup! Hidup!!!”
Pasukan pimpinan raja Jaka juga tidak ingin kalah suara dari pasukan lawannya, dengan bersama-sama mereka berseru lantang setelah raja Jaka menyampaikan pidatonya. Raja Jaka tersenyum melihat para prajurit yang loyal kepadanya terus mendukung keputusannya sampai sekarang. Ini jelas karena para prajurit itu telah mengetahui siapa orang dibalik layar yang membantu kekuasaan raja Jaka bertahan sampai sekarang.
“SERRAAANGGG!!!!!”, raja Jaka kemudian memerintahkan pasukannya untuk bergerak maju menyerang, para pasukan yang mendengar seruan itu lantas berlari menuju tempat lawannya berada. Dengan jumlah yang besar pasukan itu bergerak sampai berdesak-desakan sesama mereka.
Patih Purno yang melihat pasukan lawan sudah bergerak lantas mulai berbicara, “Lakukan sesuai dengan strategi kita! Semuanya mulai bergerak!”, perintah Patih Purno. Pasukan pemberontak yang telah disusun sesuai rencana kemudian berlari ke posisi masing-masing, mereka menunggu aba-aba dari pimpinan mereka yaitu Aryo.
“SERAAANGGGG!!!!”, seru Aryo kepada pasukannya. Pasukannya bergerak serempak menuju ke arah lawan, Aryo ikut dalam gerakan itu ditemani oleh Subani di sampingnya. Tidak butuh waktu lama pertemuan antara dua kubu itu akhirnya terjadi, kedua belah pihak bertarung dengan seluruh kemampuannya.
Dentingan pedang bertemu pedang, pedang menghantam tameng serta teriakan prajurit yang terkena serangan menghiasi suasana perang saat ini. Tempat yang menjadi ajang peperangan itu dalam sekejap berubah menjadi lautan mayat yang telah kehilangan nyawa akibat serangan lawannya masing-masing. Debu menghiasi tempat itu, para prajurit menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi kematian di depan matanya.
__ADS_1
Pasukan pemberontak dengan pimpinan Aryo serta Subani berhasil membuat lawan mereka kewalahan, apalagi kombinasi serangan dari keduanya dengan mudah membunuh prajurit kerajaan Adipura beserta aliansinya.
Aryo dengan pedangnya menyerang gencar kepada lawannya sedangkan Subani menggunakan silat tangan kosongnya terus melumpuhkan lawan yang datang menyerangnya. Dia tidak segan mematahkan kaki, tangan bahkan leher dari lawannya, aksinya membuat seseorang menjadi tertantang dan ingin melawannya. Orang itu tidak lain adalah pria misterius, dia ingin mengetes seberapa jauh kekuatan dari Subani.