Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
14. Pawang hujan


__ADS_3

Keduanya kini bernafas lega karena orang di depannya tidak mempermasalahkan tujuan mereka lagi dan kini bergerak ke arah kayu kering berniat untuk membuat api unggun di halaman pondok.


Aryo ingin membantu namun orang itu dengan pelan menolaknya, orang itu berkata tidak akan membutuhkan waktu lama untuk membuatnya. Kini tumpukan kayu sudah tersusun rapi dan siap untuk dibakar.


Aryo dan pria sepuh keluar dari pondok ketika Ki Ratno berteriak sesudah api mulai hidup. Aryo dan pria sepuh mendekat dan duduk di dekat api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka.


Ki Ratno melihat kedua tamunya masih memasang raut wajah yang terlihat khawatir. Akhirnya dia memutuskan untuk berbicara kepada keduanya.


“Anak muda tenang saja, pria tua ini tidak akan melakukan apapun. Aku justru senang ada tamu yang datang malam ini. Sejujurnya sudah bertahun-tahun tidak ada yang bisa mendatangiku” ucap Ki Ratno mencoba mencairkan suasana.


“Maaf paman jika sikap kami sudah menimbulkan prasangka tidak baik terhadap paman. Sekali lagi kami minta maaf dan terima kasih sudah memberikan kami waktu untuk berteduh disini” jawab Aryo dengan agak terbata-bata karena ketahuan akan sikap khawatirnya.


“Maafkan kelancangan kami ini sesepuh, kami seharusnya tidak bersikap seperti ini terhadap orang yang telah menolong kami” pria sepuh melanjutkan penjelasan Aryo.


“Dengan senang hati pria tua ini menerima permintaan maaf kalian” jawab Ki Ratno dengan tawa khasnya.

__ADS_1


Ki Ratno kemudian mengenalkan dirinya dan mulai bercerita tentang dirinya serta pondok tempat dia tinggal. Aryo dan pria sepuh mendengar cerita tersebut tanpa memotong sedikit pun sampai Ki Ratno berhenti bercerita dan mulai melihat ke atas.


“Maaf paman, apakah engkau bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi di pondok ini? Terutama dinding tembus pandang di atas kita?” tanya Aryo kepada Ki Ratno.


*


Mata keduanya melotot seolah tak percaya akan penjelasan dari Ki Ratno yang begitu asing dan tidak pernah mereka dengar sekalipun. Ki Ratno menjelaskan bahwa dinding gaib yang menahan hujan saat ini adalah ajian bernama dinding hujan. Keduanya masih mendengarkan sampai suatu perkataan menghentikan keterkejutan mereka.


“Ajian pawang hujan?” Aryo dan pria sepuh bertanya serempak kepada Ki Ratno.


Ki Ratno kembali menjelaskan dengan ajian ini orang yang menguasainya akan mendapatkan kekuatan mengendalikan angin. Dengan cara ini hujan bisa dipindahkan dan bisa menarik hujan ke tempat diinginkan. Mendengar penjelasan itu akhirnya menjelaskan fenomena yang saat ini mereka lihat.


“Bolehkah aku bertanya satu hal padamu anak muda?” Ki Ratno bertanya kepada Aryo.


“Apa itu Ki?” jawab Aryo setelahnya.

__ADS_1


“Apakah tidak lama lagi akan lahir seorang bayi dari keluargamu?” tanya Ki Ratno kembali.


Mata Aryo melotot karena terkejut, dia tidak menyangka pertanyaan yang dilontarkan Ki Ratno kepadanya. Aryo tidak segera menjawab dan terus diam karena keterkejutannya. Pria sepuh yang melihat reaksi Aryo akhirnya mulai angkat bicara.


“Benar Ki, tidak lama lagi bayi pertama tuan muda Aryo akan lahir. Tapi bagaimana Ki Ratno mengetahui hal ini?” pria sepuh menjelaskan dan bertanya balik kepada Ki Ratno.


“Ahhhh bisa dibilang aku sedikit tahu kisah hidupnya kelak” jawab Ki Ratno dengan tawanya yang keras.


Tawa Ki Ratno yang keras membuat keduanya terkejut, karena ketika Ki Ratno tertawa angin berhembus keras mengiringinya. Perlahan tawa Ki Ratno mulai berhenti diikuti angin yang berhembus tadi. Ki Ratno kini memasang sebuah wajah yang menunjukkan kesedihan yang amat mendalam.


“Aku punya permintaan kecil, sudikah tuan muda memenuhinya?” ucapan Ki Ratno kembali memecahkan keterkejutan keduanya.


“Apa yang Ki Ratno inginkan?” tanya Aryo dengan cepat.


“Aku sudah lama hidup di dunia ini dan semakin lelah. Tidak ada yang membuat ku bahagia sampai berita anak mu akan dilahirkan ke dunia ini. Permintaan kecil pria tua ini sederhana saja, aku ingin anak mu yang mewarisi ajian pawang hujan ini. Ini akan membantunya kelak dari segala perjalanan hidupnya” Ki Ratno menjelaskan panjang lebar permintaannya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2